Istri Paksa Tuan Mafia

Istri Paksa Tuan Mafia
74. Kepanikan Rania


__ADS_3

Mobil yang di kendarai Alfi dan lainnya pun telah berhenti tepat di depan pintu masuk IGD, Gian beserta Brayen segera membopong Gail untuk di baringkan ke atas brankar. Raut khawatir tampak jelas di wajah tampan ketiga nya.


"Selamatkan sahabat kami, pastikan hal buruk tidak menimpanya, jika sesuatu terjadi kepada nya, aku pastikan rumah sakit ini akan rata dengan tanah." ancam Gian.


"B-baik Tuan." ucap salah satu dokter dengan gugup. Aura Gian cukup membuat sang dokter bergidik ngeri.


Tiga jam berlalu, lampu ruang operasi belum juga menunjukkan akan segera padam, dan itu semua membuat ketiga pria itu panik setengah mati.


"Kita harus menghubungi Signora dan memberitahukan keadaan Gail." ucap Alfi.


"Biar aku saja yang menghubungi Signora." putus Gian.


Pria itu pun segera merogoh saku celana nya menggambil ponsel, setelah mengumpulkan keberanian, Gian pun menekan angka satu, di mana nomor Rania tertera sebagai nomor terpenting di ponselnya. Namun sayang berapa kali ia memanggil tak sekalipun di jawab oleh Rania. Pria itu pun memilih pergi menemui Rania secara langsung, meski ia sendiri sebenarnya takut berhadapan langsung dengan sosok pimpinannya itu.


"Aku titip Gail, apapun yang terjadi segera hubungi aku secepatnya." ucap Gian kepada kedua sahabat nya.


"Kau mau kemana Gi?" tanya Brayen.


"Signora tidak menjawab panggilan ku, aku berniat menemui Signora secara langsung, aku takut jika hal buruk menimpah Gail, Signora pasti akan sangat marah kepada kita." jelas Gian dengan helaan napas panjang.


"Tapi bagaimana jika kedatangan kamu membuat semua rencana Signora berantakan, dan terlebih identitas Signora tidak di ketahui oleh Signore." cegah Alfi khawatir akan kemarahan pimpinan nya itu.


"Yakinlah, Signora tidak akan marah dengan kedatangan ku ke rumahnya, bagaimana pun kalian tau sendiri jika hubungan Signora dengan Gail cukup dekat meski Signora sering kali bersikap dingin dan datar." Gian mencoba meyakinkan kedua sahabat nya.


"Pergilah, semoga berita mengenai Gail membuat Signora mengerti dengan kedatangan kamu." ucap Alfi pasrah.


Gian pun segera berlalu meninggalkan kedua sahabatnya, pria itu berlari menyusuri koridor rumah sakit dan menuju area parkir. Dengan kecepatan di atas rata-rata, Gian mengendarai mobil nya membela jalanan.


Raut wajah pria itu begitu tegang dan penuh khawatir, ia mengkhawatirkan keselamatan Gail, ia juga merasa gugup bertemu pimpinan nya setelah sekian tahun tak bertemu dan akan bertemu lagi di waktu yang tidak baik-baik saja.


****

__ADS_1


Kembali ke kediaman Rania.


Setelah sarapan pagi usai, Rania beserta Delta mengantarkan keluarga besar nya kembali ke kediaman masing-masing. Para orang tua mereka juga membawa serta kedua anak kembar mereka. Semua itu atas permintaan Rania. Dan Delta sendiri memilih pasrah mengetahui keputusan istrinya, meski ia sendiri juga mengkhawatir keamanan seluruh keluarga mereka terlebih kedua anak nya.


Iring-iringan mobil keluarga besar mereka pun perlahan meninggalkan mansion milik mereka, kini tinggal lah Delta bersama Rania di sana, kedua suami istri itu sedang duduk di ruang tamu sembari menantikan kedatangan para sahabat mereka.


Hampir lima belas menit menanti dan menunggu kedatangan mereka, sepasang suami istri itu tampak terlibat perbincangan serius. Hingga atensi kedua nya teralihkan saat para sahabat mereka melangkah mendekati mereka.


"Hey, kok mansion kalian sepi. Di mana kedua keponakan kami?" tanya Alex dengan begitu lantang nya.


"A, pelan kan suaramu! bagaimana jika kedua keponakan kita kaget dan menangis mendengar suara cempreng mu!" tegur Gaftan penuh kekesalan.


Alden dan lainnya hanya memutar mata mereka jengah dengan sikap kekanak-kanakan Alex. Rania hanya mengulum senyum mendengar pertanyaan Alex tapi tidak dengan Delta, pria itu melemparkan tatapan tajam ke arah Alex dan pria yang di tatap pun hanya cuek bebek.


"Kalian duduklah dulu. Dan mengenai pertanyaan Alex, si kembar di bawah oleh Mommy dan Bunda ke kediaman Mommy Dany." jelas Rania sambil mempersilahkan mereka duduk.


"Bagaimana? apa kalian sudah menemukan bukti-bukti kejahatan yang mengarah kepada Millen?" tanya Delta saat semua nya sudah duduk.


"Kumpulkan data-data para petinggi yang ikut terlibat dengan nya, pastikan tidak ada satupun yang terlewatkan." titah Delta.


"Itu tidak perlu, kalian tetaplah fokus mencari tau letak markas yang menjadi tempat para bajingan itu menghabisi nyawa prang-orang yang tak bersalah." potong Rania.


Tok..tok..


Atensi semua orang pun teralihkan saat mendengar ketukan pintu dari luar, Rania pun segera beranjak dan melihat siapa yang datang. Ia terkejut melihat kedatangan Gian di kediaman nya, Rania yang memiliki insting kuat pun mengembang kan senyum nya ke arah Gian.


"Gian, ada apa?" tanya Rania lembut namun menyiratkan ke khawatiran.


"Signora maafkan saya yang begitu lancang datang kesini, tapi ada hal penting yang ingin saya katakan. Kondisi Gail sedang tidak baik-baik saja." jelas Gian dengan degup jantung yang berpacu kuat.


Rania menyergitkan alis nya, ia menatap pria di depannya dengan sorot mata tajam nya.

__ADS_1


"Apa yang terjadi pada, Gail?" tanya Rania dengan degup jantung yang berdebar.


"Gail tertembak dan saat ini kondisinya kritis." jelas Gian dengan susah payah.


Seketika tubuh Rania melemas seketika, wanita itu terhuyung kebelakang untung saja Delta dengan cepat menopang tubuh istrinya itu.


"Kau berbohong kan, Gi? katakan jika itu tidak benar? katakan?" teriak Rania histeris.


"Maafkan kami Signora, kami lalai menjaga keamanan Gail seperti perintah anda." ujar Gian dengan bersimpuh di lantai.


Delta dan semua orang tampak bingung melihat kondisi Rania yang menjadi histeris setelah mendengar kabar mengenai Gail yang tertembak.


"Tuan, apa yang anda lakukan? berdirilah." seru Alex sambil menarik tubuh pria itu untuk berdiri.


Tapi Gian tidak mengindahkan ucapan Alex, pria itu terus saja bersimpuh di depan mereka.


"Sayang, tenangkan diri kamu. Tuan Burkhan pasti baik-baik saja." ucap Delta menenangkan istrinya itu.


Rania terus saja menangis di dalam dekapan Delta, ia tidak menyangka jika orang-orang terdekat nya mengalami hal mengerikan seperti itu di saat seperti ini. Di dalam tangisan nya Rania berjanji akan membalas segala perlakuan Millen meski nyawanya menjadi taruhan nya. Perlahan lahan Rania mengendurkan pelukannya, kini ia menatap Delta dengan tatapan yang begitu sendu.


"Mas, aku ingin melihat Gail, bolehkan Mas." mohon Rania dengan tatapan sendu nya.


"Apa Mas bisa menolak? bersiap-siaplah, kita akan pergi ke rumah sakit. Anhet temani Rania ke kamar." jawab Delta dan meminta salah satu sahabat istri nya untuk menemani sang istri.


"Gi, berdirilah. Kamu maupun yang lainnya tidak bersalah dengan apa yang menimpah Gail, ayo berdiri." ucap Rania sambil membantu Gian untuk berdiri.


"Maafkan saya, Signora." ucap Gian lirih.


"Tidak, jangan katakan itu lagi. Apapun yang terjadi semua sudah takdir illahi." ucap Rania lagi sambil menepuk pundak Gian.


Setelah nya Rania pun pergi bersama Anhet ke kamar nya. Delta pun mengajak Gian untuk ikut duduk bersama mereka.

__ADS_1


__ADS_2