
Sebelum meninggalkan kediaman sang anak, Ashraf terlebih dahulu menghubungi Delta. Di mana pria paru baya itu menceritakan situasi yang terjadi saat ini. Awalnya Delta biasa-biasa saja mendengar penjelasan sang Daddy, namun seketika pikirannya mulai menerawang jauh, ada rasa marah yang membuncah kala sang istri tak mendengarkan ucapannya.
Delta: Bakalan mengerahkan seluruh orang-orang Delta untuk mencari keberadaan Rani, Daddy tenang saja, Delta tidak akan membiarkan sesuatu menimpah Rani. Ya sudah Delta tutup dulu, secepat mungkin Delta bakalan ngabarin Daddy dan lainnya.
Jelas Delta dan segera memutus panggilan tersebut setelah mendengar balasan dari sang Daddy. Delta dengan cepat pula segera menelpon para sahabat nya, pria dengan garis wajah datar dan dingin itu sudah mengerahkan para anak buahnya terlebih dahulu, sedangkan diri nya akan menunggu para sahabat nya.
Lima belas menit berlalu, Delta tampak gusar, ia mencemaskan keadaan sang istri. Ia berjalan mondar mandir di dalam ruangnya, tak berselang lama tampak Alex dan Garan memasuki ruangan nya dengan nafas ngos-ngosan.
"Maaf, jalanan macet! apa sudah ada kabar mengenai Rania?" tanya Alex.
"Belum. Di mana Jibril?" tanya nya saat belum mendapati sahabat nya tersebut.
"Aku di sini!" balas seseorang yang baru melangkah masuk ke ruangan Delta.
"Apa Rania ada menghubungi kamu? atau anggota tim kalian yang lain?" cecar Delta dengan wajah khawatir.
"Tidak! sebelum kesini, aku menghubungi Alden dan lainnya, namun mereka semua belum mendapat arahan sedikitpun dari Rania. Sejak kapan Rania pergi?" tanya Jibril hanya ingin memastikan.
"Sudah empat jam dari sekarang. Ayah Burack juga sudah menyabotase CCTV yang bisa di lalu oleh Rania, tapi semua nya nihil, tak ada tanda-tanda Rania di manapun." jelas Delta.
Jibril tampak terdiam mendengar penjelasan Delta, ia seolah olah sedang memperhitungkan jarak rumah sang sahabat ke tempat Brian. Jibril beberapa kali menghela napasnya dengan kasar, saat ini ia sudah tau di mana keberadaan Rania.
Baru saja Jibril hendak menjelaskan, tiba-tiba ponsel nya berdering, dengan cepat pula ia menjawab panggilan tersebut tanpa tau siapa yang menelponnya saat ini.
__ADS_1
Dimas: Hutan Pinus tepatnya kediaman Brian, aku dan lainnya sudah meluncur kesana.
Jibril: ****! pastikan keselamatannya, aku beserta sahabatku akan segera kesana juga. Pantau pergerakan di sana, akan aku kirimkan numerik nya agar kau bisa mengakses seluruh pergerakan di sana menggunakan satelit.
Dimas: Baiklah, berhati-hatilah di jalan, karena sejak perjalanan ada beberapa mobil yang membuntuti kami.
Jibril: Ok
"Ada apa?" tanya Delta.
"Akan aku jelaskan di perjalanan nanti, ayo pergi, waktu kita tidak banyak." balas Jibril dan segera melenggang keluar di ikuti Delta dan kedua sahabat mereka.
Kali ini Alex mengambil alih kemudi, mereka pergi menggunakan mobil sport anti peluru milik Delta, dengan kecepatan tinggi Alex beberapa kali menyalip kendaraan di depannya. Ketiga pria yang berada di dalam mobil itu tampak biasa-biasa saja, bagi mereka kecepatan mobil yang di kemudikan oleh Alex ada makanan sehari-hari mereka.
"Saat ini Rania sedang bernegosiasi dengan Brian di kediaman pria itu." jelas Jibril dengan berat hati.
"Tidak! Rania menjalin hubungan baik dengan pimpinan Balck Butterfly, mereka pernah bersahabat jauh sebelum kami mengenal Rania, Brian dan Rania sama-sama seorang peretas handal, namun suatu ketika Brian mengkhianati Rania dengan menjual beberapa informasi penting salah satu institusi pemerintah hingga Rania lah yang di salah kan, sejak saat itu hubungan persahabatan mereka renggang." jelas Jibril meluruskan agar tidak terjadi kesalahpahaman di antara Delta dan Rania.
Delta mengepalkan tangan nya dengan erat dan itu tidak luput dari penglihatan Jibril dan Garan.
"Bagaimana jika Brian melakukan sesuatu kepada Rania?" tanya Garan khawatir, karena bagaimana pun mereka cukup mengenal sosok Brian yang begitu kejam sama seperti Delta.
"Itu tidak akan pernah terjadi, karena Brian telah berjanji untuk melindungi Rania sebagai penebusan rasa bersalahnya, terlebih lagi Rania cinta pertamanya."
__ADS_1
"Apa Rania tau mengenai perasaan Brian terhadapnya?" celetuk Alex tanpa pikir panjang.
Jibril menghembuskan nafasnya perlahan.
"Rania tau, tapi ia cuek saja. Dan kalian pasti tidak akan percaya jika hanya Rania lah yang bisa membuat seorang Brian bertekuk lutut, pria itu tidak segan-segan membunuh orang-orang yang hendak melukai Rania termasuk Ayah nya sendiri."
"Apa maksudmu?" tanya Delta penuh selidik.
"Tuan Gustaf, ialah orang di balik kecelakaan Rania tujuh tahun yang lalu. Brian salah satu pria yang berhasil menyelamatkan Rania saat Rania kritis, Brian lah yang mendonorkan darahnya kepada Rania saat itu tanpa Rania ketahui. Brian dengan gigihnya mencari dalang di balik kecelakaan Rania hingga beberapa bukti berhasil di temukannya yang mengarah pada Ayah nya sendiri. Pria itu tanpa ampun menembak mati Ayahnya demi membalas kesakitan Rania saat itu. Jadi kalian tidak perlu mengkhawatirkan keadaan Rania saat ini." jelas Jibril panjang lebar.
Ada rasa bersalah saat ia harus membuka lembaran masa lalu Rania kepada Delta. Tapi ia tidak ingin ada pertumpahan darah di antara mereka karena itu akan membuat Rania bersedih.
Raut wajah Delta berubah masam, sorot mata nya kian menajam, berulang kali terdengar geraman dari pria itu, ada rasa cemburu yang membuncah, ia begitu takut jika sang istri akan berpaling dari nya mengingat saingan bisnis gelapnya itu yang telah menyelamatkan nyawa istrinya di masa lalu, terlebih Rania sendiri tidak pernah menolak pernyataan cinta Brian kala itu.
"Yakinlah, Rania tidak akan pernah berpaling darimu, meski di masa lalu Rania tidak pernah menolak pernyataan cinta Brian, tapi Rania tipikal wanita setia, karena bagaimana pun aku tau perjalanan cinta Rania selama ini dan kau pria kedua yang berhasil meluluhkan hati Rania hingga ia bisa move on dari David." ucap Jibril menyakinkan.
Delta tak menjawab, tapi ada kelegaan saat mendengar dirinya adalah pria kedua yang berhasil meluluhkan hati istrinya, dan dapat di simpulkan jika selama masa remaja Rania hanya mencintai dua orang pria saja. Sebuah senyum tipis tersungging di sudut bibirnya.
Hutan Pinus, Kediaman Brian Gustaf.
Rania yang baru saja selesai bertemu dengan Brian, melangkah menuruni anak tangga, namun baru beberapa anak tangga yang ia pijaki langkahnya terhenti saat di hadang oleh beberapa pria bertubuh kekar.
"Arezha, apa kau tidak ingin memeluk Paman mu ini? ayo kesini sayang, Paman begitu merindukan kamu, sayang." panggil pria itu dengan senyum lebar.
__ADS_1
"Ck' sayang nya aku tidak merindukan kamu, pria saiko!" decak Rania kesal.
Pria itu mengepalkan tangan nya, ia begitu marah karena hinaan yang di lontarkan sang keponakan di hadapan para anak buahnya. Namun secepat kilat ia merubah mimik wajah nya.