Istri Paksa Tuan Mafia

Istri Paksa Tuan Mafia
92. Sisi kejam Arta


__ADS_3

"Aku mohon, jangan menghukumnya lebih dari sewajarnya. Jika kau ingin marah, pukul aku hingga kau puas tapi jangan pernah menaruh tangan padanya atau mengeluarkan kata-kata pedas hingga membuat nya sedih." mohon Galfin dengan bersimpuh di bawah Delta.


Rania, Alex dan lainnya tampak kaget. Mereka tak menyangka jika Galfin akan bersikap seperti itu hanya karena kasih sayang nya kepada Ayla layaknya seorang Ayah yang tak ingin buah hatinya terluka. Rania pun perlahan mendekat ke arah Galfin.


"Apa yang kau lakukan? Tak seharusnya kau begini, ayo bangun." ucap Rania sembari membantu Galfin berdiri, namun pria itu menggelengkan kepalanya.


Delta sendiri hanya diam membisu melihat pengorbanan Galfin yang rela menggantikan Ayla atas apa yang gadis itu lakukan. Ia tau betul seberapa besar kasih sayang Galfin kepada Putrinya, namun kali ini ia tidak akan mentolerir kesalahan Ayla yang sudah melewati batas.


Tok..


Tok..


Tok..


"T-tuan, Nona muda tidak ada di kamarnya. Saya sudah meminta yang lainnya untuk mencari Nona muda, namun Nona tidak ada di seluruh mansion." jelas Kyra dengan peluh yang mengucur deras, karena tau murkanya bos besarnya itu akan tidak baik bagi mereka semua.


"Jika dalam sepuluh menit kau tak berhasil menyeretnya kehadapan ku, maka kalian semua akan menerima konsekuensinya!" ancam Delta dengan rahang mengeras, sorot matanya begitu tajam dan penuh intimidasi.


"Baik Tuan." balas Kyra dengan segala keberanian yang ia kumpul susah payah.


"Kalian terlalu memanjakannya." ucap Delta lembut namun penuh dengan sindiran dan ketegasan.


"Waktu kalian sepuluh menit, jika kalian gagal menyeret Ayla kesini, maka keempat peluru ini akan bersarang di tubuh kalian satu persatu." ucap Delta dengan wajah datarnya.


Mendengar itu, keempat pria itu menelan Saliva mereka dengan susah payah, mereka tau jika ucapan Delta bukanlah bualan semata, maka dari itu keempat pria itu segera melenggang pergi tanpa menyahut ucapan Delta. Rania hanya bisa diam meski ia sebenarnya merasa kasihan dengan para pekerja dan keempat pria yang menjadi sahabat mereka karena sifat otoriter suaminya itu.


"Mas, tak seharusnya kau menekan mereka seperti itu. Masalah Ayla kita bisa bicarakan baik-baik tak perlu bersikap berlebihan seperti ini." tegur Rania lembut.

__ADS_1


Delta tak menyahut, pria dengan garis wajah tegas itu tetap fokus pada layar laptop di depannya dan sikap cuek nya itu membuat Rania sedikit kesal karena ucapannya di anggap angin lalu.


"Terserah kau saja, Mas. Di sini Putri kita yang bersalah, tapi malah mereka yang kau hukum. Aku tak habis pikir dengan jalan pikiranmu." sewot Rania sebelum melangkah keluar dari ruang kerja suaminya.


*****


"Jadi selama ini, Grandma yang ada di balik kebencian Kakak terhadap kami semua? Mengapa?" teriak Arta frustasi dan penuh kekecewaan.


"Iya, Grandma melakukan semua itu karena Grandma ingin kau yang menguasai harta si tua Hanthony bukan gadis bar-bar itu." balas wanita sepuh itu tanpa rasa bersalah.


"Apa yang ada di pikiran Grandma? Mana mungkin Grandma membedakan kami, jelas-jelas kami terlahir dari rahim yang sama dan darah yang mengalir di tubuh kami ialah darah cucu Grandma satu-satunya." tanya Arta gondok, tak habis pikir dengan jalan pikiran Grandma nya itu.


"Habisi Mikayla, maka kau akan menjadi satu-satunya pewaris seluruh kekayaan Hanthony dan Ammar. Kau tak perlu bersusah payah untuk bekerja seperti ini." titah wanita sepuh itu dengan tegas tanpa mau di bantah.


Mendengar itu, sorot mata Arta menjadi dingin. Pria muda itu tak menyangka dengan ide gila wanita sepuh di depannya. Mana mungkin ia tega menyakiti saudara perempuannya, melihat sang Kakak di tampar Ayah mereka kala saja, ia merasa marah dan sedih, apalagi ia di minta untuk menghabis nyawa Kakaknya, sekalipun ia mati ia tidak akan pernah menyentuh Kakaknya.


"A-apa yang kau lakukan? Le-paskan tanganmu A-arta." lirih wanita sepuh itu dengan nafas tersengal-sengal.


Wanita sepuh itu mencoba memukul-mukul tangan Arta, namun pria muda di depannya tak sekalipun bergeming dan cekikan di leher wanita itu kian mengerat.


"Arta!" teriak seseorang dengan suara menggelegar


Teriakan itu tak membuat cekikan Arta melemah sedikitpun, entah mengapa kemarahan pria itu tak berkurang sedikitpun meski yang meneriakinya ialah sang Ommah.


Dan teriakan wanita tua itu berhasil mengusik tidur seluruh keluarga, mendengar teriakan sang Istri dengan cepatnya Ashraf berlari menaiki tangga di ikuti dengan keluarga besar Rania. Alangkah terkejut dan syok nya mereka melihat apa yang di lakukan Arta pada wanita sepuh itu.


Bugh

__ADS_1


Satu pukulan mengenai pelipis Arta yang di layangkan oleh Ashraf. Pria paru baya itu menatap nyalang cucu lelakinya yang sudah tersungkur di lantai. Dania pun membantu Mommy nya yang terlihat syok.


"Mom, are you okey?" tanya Dania lembut sembari mengusap punggung wanita sepuh itu.


Melihat kondisi sang Mommy yang sangat memprihatinkan, seketika darah di tubuh wanita parubaya itu mendidih. Tatapannya menjadi dingin dan perlahan melangkah mendekati tubuh cucunya.


Plak


Plak


Dua tamparan ia layangkan ke arah Arta dengan kuatnya, hingga sudut bibir pria muda itu mengeluarkan darah.


"Kau, beraninya kau melakukan hal keji itu kepada Mommyku! Di mana hati nuranimu!" teriak Dania berang.


Mendengar kemarahan sang Ommah, Arta memejamkan matanya. Sungguh bukan ini yang ia inginkan, andaikan ia bisa, ia ingin mengungkapkan kebenarannya, namun ia yakin jika semua yang ada di sini tidak akan mempercayai segala ucapannya.


Keributan di rumah besar itu, akhirnya sampai di telinga Delta. Pria itu mengebrak meja kerjanya hingga hancur. Entah mengapa semua sikap kedua anak kembarnya berhasil membangunkan sisi gelapnya. Dengan langkah cepat ia pun keluar dan mencari keberadaan sang Istri yang entah di mana keberadaannya. Setelah menemukan keberadaan sang istri yang tengah duduk di tepi kolam, ia pun perlahan mendekati istrinya itu, yang ia tau jika istrinya tega marah dengan sikapnya barusan.


"Sayang, cuaca di sini tidak baik untuk kesehatan kamu. Ayo masuk, setelahnya kita akan kembali ke mansion Mommy, ada sedikit masalah yang terjadi di sana saat ini." ujar nya lembut sembari memeluk tubuh istrinya dari belakang.


Mendengar itu, Rania pun berbalik dan menatap sang suami dengan sorot mata teduhnya.


"Apa musuh Mas menyerang mansion Mommy?" tanya Rania khawatir.


"Tidak, ada sedikit kesalahpahaman antara Grandma dan Arta. Maka dari itu Mas ingin kita kembali secepatnya kesana. Dan masalah Ayla akan kita bicarakan besok saja." jelas Delta penuh kelembutan.


"Ya sudah, kita kembali sekarang." balas Rania pada akhirnya.

__ADS_1


Sepasang suami istri itu pun pergi meninggalkan mansion, setelah pamit kepada Galfin yang ada di markas belakang mansion. Tak Membutuhkan waktu lama sepasang suami istri itu pun tiba di mansion.


__ADS_2