
Entah kemana pergi nya Delta saat ini, hari sudah menjelang siang, Rania tampak kalut, ia khawatir dengan Delta yang pergi tanpa berucap, awal nya ia tidak ingin memikirkan pria itu namun jauh di lubuk hati nya yang terdalam ada perasaan bersalah ketika ia berbicara seperti itu kepada Delta, sejak tinggal di rumah ini Rania dapat melihat perhatian-perhatian kecil yang di berikan Delta kepada nya, namun saat ia ingin berdamai dengan perasaan nya, bayang-bayang penyiksaan yang di lakukan Delta terhadap nya kala itu terus berputar di kepala nya, membuat ia kembali menjaga jarak dengan pria itu.
Mbok Lin yang sedari tadi berada di ruang makan tampak bingung melihat Nyonya muda nya mondar mandir kesana kemari sembari sesekali melihat ke arah pintu masuk, bukan nya Mbok Lin tidak tau apa yang terjadi pagi tadi, Mbok Lin tau jika Delta sudah mulai menaruh hati kepada Rania namun gengsi mengalahkan segala nya. Lebih kesana perhatian yang di berikan Delta tak hanya sebagai bentuk penebusan rasa bersalah, namun terlihat jelas jika Tuan muda nya tulus ingin melakoni peran nya sebagai suami yang siaga untuk istri nya, tapi kebencian yang ada di hati Nyonya muda nya tak mampu menerima segala perhatian Tuan nya.
Gemuruh di langit terus saja terdengar dan itu menandakan sebentar lagi hujan akan turun. Rania bingung harus mencari Delta kemana, entah mengapa dirinya begitu cemas dengan Delta. Tak berselang lama hujan pun menguyur kota dengan deras nya.
"Nyonya, mau di bawakan makan siang sekarang?" tanya Mbok Lin.
"Sebentar aja Mbok. Saya mau rebahan dulu sekarang, nanti saya ke ruang makan." tolak Rania, mana bisa ia makan dengan pikiran yang berkecamuk.
Mbok Lin tidak lagi bersuara, wanita paru baya itu segera undur diri saat melihat Nyonya muda nya mulai merebahkan diri nya di atas sofa, Rania mencoba memejamkan mata ia berharap setelah ini emosi dan kekhawatiran nya lenyap di bawah alam bawa sadar.
Namun sudah dua jam berlalu dan hari pun sudah semakin sore Rania tak kunjung tidur, bayangan Delta yang terus terdiam saat ucapan nya tadi kini berputar di kepala nya. Sejujur nya Rania tidak ingin tau, tapi entah mengapa diri nya terus saja kepikiran akan pria itu.
Rania menggeleng cepat, ia tak ingin tahu, kemana pria itu pergi dan sedang apa, sungguh ia tidak ingin tahu apapun dan tidak ingin peduli dengan pria itu. Rania kembali merapatkan kedua mata nya berharap ia bisa segera tidur.
Namun bayangan wajah Delta dengan seribu kekecewaan terlintas saat ia memejamkan mata nya.
__ADS_1
"Hahh, sialan!" Rania sampai mengacak acak rambut nya sendiri karena terus saja kepikiran dengan pria itu. "Dasar pria tua gila! Arogan!Sombong!" umpat Rania uring-uringan sendiri hingga ia membangunkan tubuh nya lalu tanpa sadar mengelus perut nya.
"Nak, maafkan Bunda ya. Bunda lupa jika di dalam sini ada kamu, kamu pasti lapar bukan?" Rania berbicara pada perut nya, akhirnya wanita hamil itu sadar jika sejak pagi ia tidak menyentuh apapun hingga sore hari menjelang, ia pun melangkah kan kaki nya menuju meja makan.
Melihat sang Nyonya yang datang, Mbok Lin dengan sigap menyiapkan makanan untuk Nyonya muda nya sesuai arahan Delta yang meminta nya menyiapkan segala makanan sehat untuk Rania yang sedang mengandung.
Rania mulai menyantap makanan nya, baru beberapa suap, visual Delta kembali berputar di kepala nya, dengan terpaksa Rania pun menghentikan makan nya dan segera berlalu kembali ke ruang tamu.
Ya, dengan seribu kekesalan plus kekecewaan, Delta kini berada di sebuah club malam, rasa kecewa atas sikap Rania yang terus saja membenci diri nya membuat Delta melampiaskan segala nya pada minuman keras yang sudah di jauhi oleh nya sejak tiga bulan yang lalu.
"D, pulanglah. Istri kamu pasti cemas." bujuk Garan.
"That's what you think, D." timpal Jibril yang baru saja tiba.
"Find the right time and talk to your wife from heart to heart, D." ucap Jibril lagi memberi masukan untuk sahabat nya.
"Impossible." balas Delta.
__ADS_1
"Kan belum di coba, sebenci apapun Rania ke kamu, rasa cemas nya saat tau kau pergi dengan seribu kekecewaan mustahil jika ia tidak akan mencemaskan kamu." ucap Jibril lagi.
"Apa aku salah mencintai wanita yang sudah aku rusak masa depan nya?" tanya Delta dengan suara serak menahan kesedihan.
"Sekeras apapun hati Rania saat ini, ia tetap masih memiliki perasaan, bukti nya sejak kepergian Rania beberapa bulan yang lalu ia tak lagi berhubungan dengan David, bukan? karena apa, ia masih memiliki perasaan untuk menjaga harkat dan martabat suami nya meski pernikahan kalian ada sedikit pemaksaan. Jadi berhentilah berpikir jika selama nya Rania bakalan membenci kamu. Sekeras apapun batu jika terus di siram air pasti akan berlubang juga, begitu pun rasa benci Rania terhadap kamu, pelan tapi pasti rasa cinta pasti akan tumbuh di antara kalian." terang Alex yang mulai kesal dengan omong kosong Delta.
"Galfin, bersihkan arena!" titah Delta hingga membuat keempat orang itu terperanjat.
"Tuan, seluruh kota di guyur hujan deras, arena pun pasti licin dan tidak memungkin kan anda untuk lepas landas di sana."
"D, jangan gila kamu!" geram Jibril.
"Apa kau sudah bosan hidup?" teriak Delta dengan marah sembari menunjuk nunjuk Galfin yang duduk di samping nya.
"Maaf Tuan, tapi saya takut. Anda sedang mabuk, tidak mungkin saya mengikuti kemauan anda." balas Galfin dengan berani.
"Baik, pergi lah! aku tidak membutuh kan kamu lagi." usir Delta dengan melambai.
__ADS_1
"D, mau kemana?" tanya Alex dengan bingung, ketika melihat Delta yang hendak pergi.
Delta tersenyum dan terus berjalan keluar dari club tersebut. Ketiga sahabat nya pun beranjak dan berlalu mengikuti kemana Delta akan pergi, namun sebelum pergi, Jibril meminta Galfin untuk menjemput Rania untuk menghentikan kegilaan Delta.