
Satu bulan berlalu, menjelang kelahiran sang anak sikap Delta kian hari makin menjadi posesif, pasalnya segala sesuatu yang di lakukan Rania akan selalu mengundang perdebatan di antara keduanya, Rania yang sudah jengah dengan sikap posesif sang suami memilih meninggalkan rumah, kali ini tujuan Rania ialah rumah sang mertua.
"Mom, Rani kangen." rengek Rania saat sudah tiba di hadapan sang mertua.
"Mom juga merindukan kalian berdua sayang." balas Dania sambil memeluk sang menantu dengan penuh kasih sayang.
"Rani kesal sama Mas Delta, tiap hari kelakuan nya makin ngeselin, Mom. Rani nginep di sini boleh yah?" adu Rania dengan sikap Delta.
"Boleh dong, Mom sama Dad kan jadi punya temen buat ngobrol, kamu yang sabar ya sayang, sikap Delta itu sulit di tebak. Anak itu bawaan nya ngeselin banget. Udah makan?" tanya Dania sambil mengusap perut buncit Rania.
"Sebelum kesini Rani udah makan kok, Mom. Mom nanti misalkan Mas Delta dateng bilang aja Rani nggak di sini, entar acara nginapnya Rani di sini jadi batal deh." pinta Rania dengan begitu manjanya.
"Ya sudah, kamu pergi rebahan sana, mungkin sebentar lagi suami kamu kesini nyariin kamu. Ingat jika memerlukan sesuatu katakan kepada Alice, Mom nggak mau kamu kecapean." ucap Dania mengingatkan sang menantu untuk tidak melakukan aktifitas berlebihan.
"Ok Mom, makasih. Rani pamit ke kamar dulu Mom, sampai ketemu di jam makan malam yah." pamit Rani sambil mencium pipi sang ibu mertua.
Dania tersenyum bahagia, ia begitu senang melihat sang menantu yang sudah tidak kaku lagi saat bersamanya. Namun sedetik kemudian wajah nya berubah masam saat mengingat aduan Rania mengenai sang anak yang selalu bersikap semau nya.
Kekesalan Dania makin menjadi saat sang suami tak kunjung mengangkat telponnya.
"Nggak anak, nggak bapaknya sama-sama ngeselin, untung aku nggak punya penyakit darah tinggi, jika ada pasti udah lama stroke aku ini setiap menghadapi sifat ngeselin mereka." gerutu Dania dengan cemberut.
Brakkkk
Dania yang baru saja hendak beranjak dari sofa mengeram kesal saat pintu utama rumahnya di dobrak paksa, ia menatap tajam pada sosok yang sudah mendobrak paksa pintu rumahnya, namun yang di tatap hanya cuek bebek dan berlalu melenggang masuk tanpa permisi.
Dengan cepat pula Dania menghadang jalan orang tersebut.
"Mau apa? kembali sana, jangan ganggu istrimu, kalian para lelaki senang sekali bikin mood istri kalian rusak, pergi sana jika perlu kau ajak sekalian Daddy mu tinggal bareng!" sembur Dania penuh dengan kekesalan.
"Mom ayolah, aku hanya tidak ingin Rani capek hanya itu nggak lebih." jelas Delta dengan mengusap wajahnya kasar.
__ADS_1
"No! pergi atau Mom minta satpam menyeret kamu dari sini!" usir Dania yang geram dengan sikap otoriter sang anak.
"Ada apa ini?" seru seseorang yang baru saja masuk.
Pria itu pun mengembangkan senyum ke arah Dania namun sedetik kemudian senyumnya memudar kala melihat tatapan tajam istrinya.
"Kau, bawa anakmu keluar dari sini, dan ingat jangan kembali kesini sebelum kalian menyadari kesalahan kalian! pergi jangan buat kegaduhan hingga membangunkan anakku yang sedang istirahat!" usir Dania telak.
"Mom ada apa? kenapa Daddy juga di usir?" tanya Ashraf bingung.
"Pikirkan sendiri! nggak anak nggak bapak nya ngeselin melulu kerjaannya!" ketus Dania dan berlalu pergi dari hadapan kedua pria itu.
Ashraf menatap Delta dengan tatapan membunuh, pasalnya pria dewasa itu tidak tau apa kesalahannya hingga ia juga di usir oleh sang istri.
"Jangan tatap aku seperti itu, Dad. Mungkin Dad melupakan sesuatu hingga Mom ikut ngusir Dad dari sini." seru Delta tanpa dosa dan berlalu merebahkan dirinya di sofa.
"Kamu juga kenapa tiba-tiba ada di sini?" tanya Ashraf saat sudah mendudukkan dirinya di samping sang anak.
"Sudah berulang kali Dad katakan sama kamu, jangan mencari masalah dengan istrimu jika kamu tidak ingin kena amukan dari Mommy, tapi kamu nya ngeyel setiap kali di bilangin. Udah sana pulang!" usir Ashraf dengan percaya diri karena ia yakin jika istrinya tidak akan tega mengusir dirinya.
"Jangan terlalu percaya diri Dad, Mom nggak bakalan memohon untuk Dad tetap tinggal, liat aja sebentar lagi kita bakalan di usir oleh Mom." seru Delta saat melihat sang Mommy yang menuruni tangga.
"Mom nggak mungkin ngusir Dad, secara Mommy mu itu cinta mati dan tidak ingin jauh-jauh dari Daddy mu ini." ucap Ashraf berbangga diri.
Ha..ha..ha
"Benarkah itu Mom?" seru Delta dengan gelak tawanya.
Seketika Ashraf tersenyum kecut sambil menggaruk tengkuknya yang sudah di pastikan tidak gatal. Dania menatap horor ke arah suami nya, tatapannya menyiratkan sesuatu dan itu berhasil membuat Ashraf kelimpungan.
"Lebih baik kalian segera angkat kaki dari sini sebelum Mom kelepasan dan meminta pengawal untuk menyeret kalian secara paksa. Pergilah!" usir Dania lagi tanpa mau memberi kedua pria itu kesempatan untuk berbicara.
__ADS_1
"Mom, sejak siang tadi Dad belum makan, biarkan Dad bergabung dengan Mom dan Rania untuk makan malam, boleh yah?" bujuk Ashraf dengan wajah memelas.
Dania memutar bola matanya malas mendengar ucapan sang suami.
"Ck! jangan percaya Mom, mana mungkin seorang pebisnis besar tidak makan sejak siang tadi, alesan saja biar nggak di usir." seru Delta tanpa dosa.
"Tutup mulut mu!" desis Ashraf kesal.
"Stop! kalian boleh makan malam di sini, tapi setelah itu kalian harus pergi dari sini, bagaimana?"
Kedua pria itu mengangguk dengan antusias, mereka pun mengikuti langkah Dania menuju ruang makan, meski kesal dengan dua pria beda usia itu tapi Dania sungguh tak tega membiarkan mereka pergi sebelum mengisi perut mereka. Setibanya di ruang makan, Delta pun mengedarkan pandangannya mencari sosok sang istri.
"Mom, Rani mana? kok nggak ikutan makan malam bersama kita." tanya Delta saat sudah mendudukkan bongkongnya.
"Masih tidur, kalian makanlah terlebih dulu, Mom akan meminta Alice membangunkan Rani." jawab Dania.
"Biar Delta aja yang bangunin Rani, Mom sama Dad makanlah terlebih dulu." seru Delta dan hendak berdiri, namun urung saat melihat tatapan tajam sang Mommy.
"Biar Alice aja, kamu nggak perlu repot-repot buat bangunin Rani karena setelah ini kalian harus segera pergi." cengah Dania masih dengan suara ketusnya.
Ketiga nya pun enggan untuk makan karena mereka masih menunggu kehadiran Rania, tak berselang lama wanita hamil itu pun perlahan keluar dari dalam lift, senyum di wajah Rania memudar kala mendapati sosok sang suami.
"Mom Dad maaf karena Rani kalian harus makan terlambat." cicit Rania tidak enak hati.
"Tidak apa, duduklah Nak." balas Ashraf dengan mengembangkan senyum ke arah Rania.
Meski kesal dengan suaminya, Rania tetap menyendok kan makanan ke piring suaminya, setelah nya ia pun kembali duduk dan mengisi piring nya sendiri, mereka pun makan dalam diam. Lima belas menit berlalu, makan malam pun berakhir, melihat sang anak yang hendak mengajak Rania berbicara, Dania segera mengajak Rania berlalu meninggalkan kedua pria itu.
"Ya, semua wanita selalu benar dan kita para pria selalu saja salah." gumam Ashraf sambil menyugar rambutnya.
"Dad, Mom tidak tuli! jika tidak ingin maka jangan buat kami para wanita kesal dengan kelakuan kalian yang seenak jidat nya!" teriak Dania menggelegar.
__ADS_1