
Setelah kepergian Dania, kini tinggal lah Delta bersama Rania di ruangan pria itu. Suasana canggung kian terasa kala kedua nya diam tanpa ada bahan pembicaraan.
Rania merasa kesal sendiri, karena ia menolak ajakan Dania untuk mengantarnya pulang, bukan nya ia tidak ingin, tetapi ia merasa sungkan dengan mertuanya. Ia cukup tau diri untuk tidak merepotkan mertua nya tersebut.
Delta pun menekan kuat ego nya, ia beranjak dari kursi kerja nya dan melangkah kan kaki nya ke arah sofa tunggu yang di mana sedang di duduki sang istri.
"Apa kau memerlukan sesuatu?" tanya Delta saat sudah mendudukkan bokong nya di samping sang istri.
"Tidak ada." jawab Rania dengan menunduk, ia gugup setengah mati saat Delta duduk di samping nya.
"Apa kau capek?" tanya Delta polos.
"I-iya, kaki ku terasa sangat pegal. Apa aku boleh berbaring di sini, sembari menunggu kamu pulang." tanya Rania dengan malu-malu.
"Jangan di sini, takut nya kau tidak akan nyaman dan membuat seluruh tubuh mu kian pegal, istirahat di kamar itu saja. Ayo." Delta pun mengulurkan tangan nya ke arah Rania.
Rania begitu gugup, tapi ia tidak menolak ajakan suami nya, ia pun menerima uluran tangan Delta untuk pertama kali nya. Dengan langkah hati-hati Delta menuntun Rania memasuki kamar pribadinya.
Dengan sangat lembut ia pun membantu Rania berbaring dan menutup tubuh istri nya itu dengan selimut.
"Aku akan segera menyelesaikan pekerjaan ku, tidurlah." ucap Delta dan berlalu pergi dari ruangan itu.
Tak membutuhkan waktu lama, Rania yang sejak tadi menahan kantuk nya pun akhirnya terlelap dengan cepat nya.
Delta kini di sibukkan dengan beberapa dokumen yang baru saja di bawah oleh Galfin. Kedua nya pun terlibat obrolan serius.
__ADS_1
"Apa barang yang di minta Tuan Samito sudah di kirimkan?" tanya Delta.
"Pengiriman nya akan di lakukan subuh nanti atas permintaan Tuan Samito sendiri. Dan menurut Maxi semua nya sudah 100% rangkum tinggal menunggu waktu pengiriman nya saja." jelas Galfin menanggapi pertanyaan sang bos.
"Bagus, aku tidak ingin kecolongan lagi, pastikan barang itu tiba dengan aman tanpa ada pemeriksaan dari pihak berwajib." ucap Delta lagi.
Setelah hampir tiga jam lama nya berdiskusi dengan Galfin, Delta pun melangkah kan kaki nya memasuki kamar, ia tersenyum saat melihat sang istri yang terlelap begitu damai nya tanpa mimpi buruk yang biasa di alami sang istri setiap kali tidur.
Tak ingin mengganggu tidur Rania, Delta pun melangkah dengan pelan nya, ia pun duduk di tepian ranjang. Kali ini tangan nya terulur di perut buncit Rania. Di usap nya perut buncit itu dengan begitu lembut. Secara refleks Delta membungkukkan tubuh nya, kepala nya ia dekatkan ke perut Rania.
"Sayang, tumbuh sehat di sana, ya." Delta mengecup perut Rania kembali.
"Jangan nakal, kasihan Bunda mu, selalu kesusahan dalam bergerak. Cepatlah tumbuh besar dan lahir ke dunia. Kami sudah sangat menantikan kamu." sekali lagi ia mengecup perut buncit itu dengan durasi waktu yang sedikit lama, seolah ia ingin berkomunikasi lebih dekat dengan sang buah hati.
Mendapat perlakuan lembut dari Delta, tubuh Rania membeku, ia tak berani bergerak sedikit pun, ia yakin jika pria itu akan sangat malu ketika tau jika diri nya sudah terbangun dan mengetahui apa yang di lakukan suami nya.
Rania tersenyum haru, tak dapat di pungkiri mata nya seketika berembun, ia tak menyangka jika pria dingin dan angkuh seperti suami nya bisa bersikap lembut seperti ini, melihat sang suami yang hendak beranjak, Rania pun buru-buru memejamkan mata nya kembali.
Setelah puas memandangi sang istri, Delta pun segera beranjak dan kembali ke ruangan nya, ada beberapa berkas yang akan segera ia kerjakan sebelum sang istri terbangun.
Memastikan sang suami sudah benar-benar pergi, pejaman mata nya pun perlahan terbuka. Sebuah senyum terukir di wajah cantik nya, haruskan ia terus bersikap acuh dan kaku lagi kepada suami nya.
Pertanyaan itu lah yang saat ini bersemayam di kepala nya, akankah ia terus membuat pembatas di hubungan mereka, tapi semua itu coba di tepis nya, kali ini ia bertekad untuk berdamai dengan perasaan nya sendiri.
Perhatian dan kelembutan Delta satu bulan belakangan ini, membuat Rania berpikir untuk memberikan satu kesempatan pada pria yang menjadi Ayah biologis anak yang di kandung nya.
__ADS_1
Maafkan aku Mas yang belum bisa menerima kamu seutuhnya. Beri aku waktu sedikit lagi untuk ikhlas menerima semua ini.
Sudah dua jam berlalu, Rania tidak lagi bisa memejamkan mata nya, wanita hamil itu pun perlahan bangun dan duduk di tepian ranjang, setelah nya wanita hamil itu pun beranjak merapihkan ranjang, setelah merasa cukup ia melangkah kan kaki nya menuju pintu dan berjalan mendekat ke arah sang suami yang terlihat begitu serius hingga tidak menyadari kedatangan nya.
"Mas." panggil Rania dengan suara pelan nya.
Deg,
Jantung Delta berdetak tak karuan saat mendengar Rania yang memanggil nya dengan sebutan Mas. Suara Rania yang memanggil nya bagaikan alunan musik yang begitu menyejukkan hati. Ada rasa bahagia yang tidak dapat di ukur dengan apapun ketika sang istri yang mulai menerima diri nya.
Delta mengulum senyum sembari menatap lekat wajah istri kecil nya itu, ia pun perlahan bangkit dan mendekati sang istri.
"Apa aku sedang bermimpi? kau barusan memanggilku dengan sebutan Mas, coba ulangi sekali lagi." pinta Delta dengan menaik turun kan alis nya.
Rania menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal, sungguh ia merasa malu, Rania di buat salah tingkah, Delta terus saja menggoda nya. Rania mencebikkan bibir nya, ia kesal dengan Delta yang terus menggoda nya.
"Aku mau pulang." rengek Rania dengan membuang pandangan nya.
Delta lagi-lagi mengulum senyum nya, kali ini ia tak dapat membendung rasa bahagia nya, ia pun segera menarik Rania masuk ke dalam pelukan nya. Mendapat perlakuan lembut Delta, Rania tak memberontak atau pun menolak pelukan pria itu.
"Mas, apa kau ingin membunuh kami." seru Rania kesal, karena Delta mendekap nya dengan erat hingga membuat ia kesulitan bernapas.
Delta pun perlahan mengendurkan pelukan nya. "Maafin Ayah ya sayang, Ayah terlalu bahagia hingga melupakan jika kau berada di perut Bunda." ucap Delta dengan satu tangan mengelus perut buncit sang istri, di kecup nya lagi dahi sang istri dengan lembut nya.
Ucapan singkat itu membuat hati Rania berbunga bunga, ia tidak menyangka jika pria kejam dan angkuh itu bisa seromantis dan begitu dramatis seperti saat ini.
__ADS_1