Istri Paksa Tuan Mafia

Istri Paksa Tuan Mafia
87. Kecurigaan Galfin.


__ADS_3

Setelah pembicaraan serius di antara kedua nya, Galfin pun kembali mengajak keduanya untuk berbelanja. Awal nya permintaan Galfin itu di tolak oleh Arta namun mendapat plototan tajam dari sang Kakak membuat pria itu pasrah dan menyetujuinya.


Kini ketiga orang itu sudah berada di salah satu toko pakaian anak muda, Ayla begitu antusias memilih beberapa dress dan tak lupa juga gadis cantik itu mengambil beberapa pasang sepatu untuk di jadikan koleksinya.


Melihat sang Adik yang belum juga mengambil pakaian, membuat Ayla kesal.


"Sini kan ponsel mu." tukas Ayla ketus sambil menyodorkan tangannya.


Tanpa berpikir dan bertanya, Arta pun memberikan ponselnya pada sang Kakak. Setelah mendapatkan ponsel sang Adik, Ayla pun pergi menjauh dan memulai aksinya dengan menelpon calon Adik iparnya. Namun Ayla di buat geleng-geleng kala melihat nama gadis itu di kontak telpon sang Adik.


"Astaga, bisa-bisa nya nama calon Istri nya di tulis seperti itu." gerutu Ayla jengkel.


Gadis cantik itu pun perlahan mengganti nama calon Adik iparnya dengan sebutan kesayangan ku. Sebuah senyum bahagia terlukis di wajahnya.


Arta yang sedang duduk dan berbincang serius dengan Galfin terusik kala melihat siluet seorang gadis, dengan cepat pria itu berdiri dan menghampiri gadis tersebut.


"Sedang apa kau di sini? jangan bilang jika kau sedang menguntit ku!" tanya Arta dingin dan sarkas.


"Jangan suka membentak nya, aku tak suka kau bersikap seperti itu kepadanya! lain kali aku tidak ingin melihat kau bersikap ketus terhadapnya. Tinggalkan lacur mu itu. " seru Ayla marah.


"Kak, Gea nggak seperti yang Kakak pikirkan. Gea wanita yang baik, dan selalu ada di saat Arta membutuhkan nya."


"Kakak tau segalanya, Arta. Kau terlalu naif hingga tak bisa membedakan mana berlian dan mana batu kerikil yang harus kau pertahan kan. Jika sekali lagi kau kedapatan bertemu dengan lacur itu, jangan salahkan Kakak jika perusahaan mu Kakak hancurkan. Ingat itu!" seru Ayla lagi dengan sorot mata tegas nya.


"Jangan dengerin dia, kau ikutlah bersamaku untuk memilih pakaian untuknya." ajak Ayla sambil menggandeng lengan gadis cantik itu penuh kelembutan.


Eve diam-diam tersenyum, ia tak menyangka jika gadis dingin yang ia temui sebulan lalu memiliki hati yang begitu lembut, mendapat perlakuan baik dari calon Kakak ipar nya membuat ia bahagia sekaligus senang karena mendapatkan teman yang satu frekuensi dengan nya.

__ADS_1


"Jika Arta memperlakukan kamu dengan tidak baik, jangan sungkan mengatakan nya kepadaku. Sekarang kau menjadi temanku, dan sesama teman kita akan selalu membantu satu sama lain. Kau mau kan jadi teman ku." pinta Ayla dengan tulus.


"Baik Kak." cicit gadis itu malu-malu.


Setelah sepakat menjadi teman, keduanya pun dengan antusias memilih beberapa setel pakaian untuk Arta. Setelah merasa cukup Ayla pun menghampiri Galfin.


"Uncle." panggil Ay manja.


"Kalian pergilah ke restoran yang ada di lantai atas, jam makan siang telah berlalu setengah jam yang lalu. Uncle akan membayar tagihan nya, kita bertemu di rumah nanti malam." ujar nya penuh kelembutan.


"Ya sudah, Ay juga udah laper begitupun dengan Eve dan Arta. Uncle hati-hati di jalan yah."


"Uncle makasih untuk traktirannya." seru Arta dan Eve bersamaan.


"Iya, sama-sama. Uncle titip kedua gadis cantik ini kepadamu, pastikan mereka baik-baik saja sampai tiba di rumah."


"Baik Uncle. Ya sudah, kami pergi dulu." pamit Arta.


Setelah memastikan ketiganya menaiki eskalator, Galfin pun dengan cepat membayar belanjaan Ayla dan Eve barusan. Setelah selesai membayar nya, Galfin pun meninggalkan toko pakaian tersebut. Langkah pria itu terkesan buru-buru, entah apa yang di lihatnya barusan.


"Tuan, seperti dugaan anda. Sejak tadi ada banyak pasang mata yang terus mengawasi Nona muda, tapi setiap kali kami menemukan keberadaan mereka, mereka hilang entah kemana." jelas seorang pria saat Galfin masuk ke dalam mobil.


Siapa mereka dan apa hubungan mereka dengan Ayla? sudah sejak lama aku mengetahuinya, tapi kenapa tak ada pergerakan sedikitpun dari mereka untuk melukai Ayla ataupun Arta, jika mereka memang musuh Delta.


Apa ada yang aku dan Delta lewatkan dari Ayla? dan apa tadi, Ayla mengancam Arta untuk menghancurkan bisnis pria itu jika ia bersikap kasar kepada Eve. Aku yakin Ayla pasti menyembunyikan sesuatu dari kami.


Setelah berperan batin, Galfin pun meminta orang kepercayaan nya untuk menyelidiki apa saja yang di lakukan Ayla selama pengasingan mereka.

__ADS_1


"Cari informasi mengenai aktifitas Nona muda selama pengasingan kami." titahnya kepada Nando.


"Baik Tuan." balas pria tersebut.


*****


Di sebuah rumah kecil, seorang wanita beserta anak gadis nya tampak ketakutan kala segerombolan pria mendatangi mereka dengan wajah bengis.


"Ini sudah dua tahun, mana uang beserta bunga nya. Jika kau tak sanggup membayarnya, angkat kaki dari sini." bentak sang pria bertubuh tambun.


"Beri saya sedikit waktu lagi, saya akan segera melunasi hutang-hutang Ayah saya. Tapi jangan usir kami dari sini." mohon sang wanita dengan tubuh bergetar mendekap anak gadisnya.


"Baiklah, untuk jadi jaminan nya aku akan membawa anak gadismu, setelah kau mendapatkan uang nya kau boleh mengambil anak mu kembali."


"Tidak Bu, Jihan nggak mau, Jihan takut." mohon sang gadis dengan wajah pucat ketakutan.


"Saya mohon, jika anda membawanya pergi, saya tidak akan sanggup membayar hutang-hutang kami, hanya Jihan yang dapat saya andalkan saat ini." kilah sang wanita, agar sang rentenir tidak membawa Jihan pergi menjauh dari nya.


"Satu Minggu! waktu kalian hanya satu Minggu jika tidak, siap-siap anakmu akan aku jual ke rumah bordir untuk melunasi hutang-hutang kalian." putus sang pria tambun sembari melangkah pergi dari rumah tersebut.


"Bu, Jihan harus apa? Jihan takut Bu. Jihan nggak mau ketempat menyeramkan itu." lirih gadis itu dengan tangisannya.


"Ibu tak akan membiarkan pria itu membawamu, Nak. Jangan takut lagi, Ibu yakin semua nya akan segera berakhir." ucap wanita dewasa itu meyakinkan anak gadis nya.


Apa yang harus aku lakukan, Tuhan? kemana lagi aku harus mencari keberadaannya. Apapun yang terjadi, pria itu harus tau jika kejadian itu berhasil menghadirkan Jihan di antara kami.


"Ayo bangun, kamu sarapan dulu, biar kerjanya semangat. Jangan bersedih lagi, para pengunjung di cafe akan lari melihat wajah mu seperti itu." ajak wanita itu dengan candanya.

__ADS_1


Sang gadis pun perlahan menampilkan senyum manisnya.


Seandainya Ayah masih hidup, mungkin ini semua nggak bakalan menimpah aku dan Ibu.


__ADS_2