Istri Paksa Tuan Mafia

Istri Paksa Tuan Mafia
35. Kemarahan Delta


__ADS_3

Setelah drama yang cukup alot antara kedua suami istri itu, kini kedua nya sudah tiba di sebuah warung makan, awal nya Delta menolak keras permintaan sang istri namun pada akhir nya ia pun menyetujui permintaan istri nya itu yang mengatakan jika semua ini kemauan sang anak.


Rania dengan wajah berbinar pun segera turun tanpa menunggu sang suami terlebih dahulu, Delta yang melihat tingkah sang istri hanya menggeleng geleng kepala.


"Ra, perhatikan langkah mu." teriak Delta frustasi saat melihat sang istri yang begitu bersemangat.


Rania tak menggubris ucapan Delta, ia terus melangkah kan kaki nya memasuki warung makan yang sangat ramai dan tempat itu adalah tempat favorit nya sedari duduk di bangku SMA.


"Mas, ayo duduk." ajak Rania saat melihat sang suami tetap berdiri.


Melihat Delta yang berdiri tak bergeming, Rania pun beranjak dan menarik pergelangan tangan suami nya, wanita hamil itu pun segera memesan dua porsi sate kelinci. Seumur hidupnya baru kali ini Delta makan di tempat yang menurut nya sangat jorok, deretan kursi dan meja saling berhimpitan. Wajah Delta kian memucat kala pesan sang istri sudah di sajikan di atas meja. Delta menelan kasar saliva nya.


"Ra, pulang yuk. Mas nggak bisa makan di tempat seperti ini." lagi-lagi Delta bergidik ngeri saat melihat cara makan beberapa orang di depan nya.


Bagi Delta makan itu tidak lah higenis, dari cara pengolahan hingga pembuatan nya pun menggunakan arang.


"Mas, ayo di makan." ujar Rania.


"Nggak mau. Cara bikin nya aja ngeri banget dan terlihat jorok." tolak Delta dan kembali menyodorkan piring tersebut ke arah sang istri.


"Kan belum di coba, Mas. Sekali kali belajarlah hidup susah." bukan Rania nama nya jika tidak bisa memaksa suami nya.

__ADS_1


"Bagaimana jika setelah makan ini Mas sakit perut, siapa coba yang mau di salahin!" tukas Delta tetap pada pendirian nya.


"Pulang aja deh." Rania pun memulai drama merajuk, ia yakin jika suami nya itu tidak akan tega ngebiarin diri nya tidak memakan makanan yang di inginkan oleh nya.


Melihat sang istri yang hendak beranjak, Delta pun mengusap wajah nya frustasi, kali ini ia tidak ingin memperkeruh suasana yang baru terjalin dengan sang istri, dengan berat hati ia pun mengambil satu tusuk sate itu, dengan ragu-ragu ia pun mulai menggigit kecil sate tersebut.


Melihat itu Rania mengulum senyum, dalam hati ia bersorak riang saat melihat sang suami yang mulai menyantap sate tersebut. Satu suap, dua suap, hingga suap-suap berikut nya. Rania melongo melihat piring Delta yang sudah habis, pria itu pun tak tanggung-tanggung kembali memesan sepiring lagi.


"Kata nya jorok, kok nambah lagi." goda Rania dengan menaik turunkan alis nya.


"Keburu dingin Ra. Ayo makan." sungguh Delta malu bukan kepalang.


"Bu, benarkan yang Liana bilang, Rania itu hamil dengan pria beristri. Dengan tak tau malu nya mereka berjalan di depan umum seperti ini. Sungguh menjijikkan. Aku yakin jika hidup nya begitu susah, paling pria itu di usir oleh istri nya, tampang nya aja kayak pria berkelas, nyata nya mereka makan di warung kumuh seperti ini!" ucap Liana dengan suara yang meninggi.


Kini atensi para pengunjung lain nya mengarah ke arah mereka. Rania mengepalkan tangan nya. Tidak berubah. Sepupu nya itu sejak dulu tidak berubah, selalu saja menceritakan sesuatu yang tidak sesuai fakta. Liana kerap sekali menggunjing diri nya meski Rania sendiri tidak tau letak kesalahan nya di mana.


"Tante apa kabar?" tanya Rania mencoba menahan emosi nya.


"Kamu memang wanita penggoda dan murahan sama seperti Ibu kamu!" ucap Sila dengan senyum mengejek.


Jleb

__ADS_1


Rasa nya jantung Rania seperti di hujam dengan beribu ribu belati. Sakit, dia tidak menyangka jika sang tante akan berbicara seperti itu di depan umum. Awal nya Rania pikir setelah kepergian nya, Sila akan kembali bersikap baik dan menerima nya, namun semua nya hanya harapan belaka yang tak akan mungkin terjadi.


"Cukup tante! tante boleh menghina Rania tapi tidak untuk Bunda. Apapun kesalahan yang Bunda lakukan di masa lalu, tante nggak berhak menghina nya. Rania udah cukup sabar selama ini menghadapi sikap kalian yang selalu semena-mena terhadap Rania. Dan satu lagi, meski pun Bunda Rania seorang pelacur, setidak nya tante harus bersyukur karena selama ini, kehidupan tante dan Liana selalu tercukupi karena semua yang tante dan Liana miliki itu berasal dari Bunda!" ujar Rania dengan menggebu-gebu, emosi yang coba di tekan nya tak bisa di bendung lagi kala cacian dan hina untuk Bunda nya.


"Dan untuk kamu Liana, jangan kira aku tidak tau apa yang kerap sekali kamu lakukan selama ini, kau meneriaki aku sebagai seorang pelacur tapi kau tak pernah bercermin siapa pelacur sebenar nya. Kau menjajakkan tubuh mu setiap malam kepada pria hidung belang. Oops, sorry aku kelepasan." ucap Rania tanpa rasa takut, kali ini ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan mereka yang tidak tau berterima kasih.


"Kau!" hardik Liana dengan satu tangan yang sudah mengudara, namun belum sempat tangan nya mendarat di pipi chuby Rania, pergelangan nya di tangan oleh seseorang.


Ya sejak tadi Delta berdiam diri menahan segala kemarahan nya, namun tidak untuk kali ini, ia tidak akan membiarkan siapapun melukai istri nya itu, ia menatap tajam kedua sosok di depan nya, dengan satu tarikan ia pun menampar kedua wanita itu.


Rania terperangah melihat reaksi Delta yang begitu marah ketika diri nya di hina, Rania cukup peka, ia tau ucapan yang terlontar dari mulut suami nya bukan bualan semata, Rania cukup tau sifat suami nya yang tak pernah mentolerir siapapun yang berani mengusik ketentraman nya. Oleh karena itu, Rania pun perlahan mengusap lengan suami nya.


"Aku berdiam diri bukan karena takut dengan kalian, aku masih menghargai kalian sebagai keluarga istri ku." desis Delta dengan sorot mata yang begitu tajam, andaikan tidak ada Rania, mungkin ia akan segera mengeksekusi kedua wanita itu.


Nyali Sila dan Liana menciut kala melihat sorot mata tajam dan begitu mengintimidasi dari pria di depan mereka, aura yang di pancarkan pria itu begitu menakutkan.


"Pergilah, sebelum kesabaran ku habis. Jika kalian keberatan dengan apa yang telah aku lakukan laporkan saja, ini kartu namaku!" seru Delta lagi dengan menghempaskan pergelangan tangan Liana secara kasar.


"Mas udahlah, ayo kita pergi." bujuk Rania dengan takut-takut.


"Sekali lagi kalian mengusik istriku, kalian akan tau akibat nya!" seru Delta lagi, setelah nya ia pun menggenggam tangan sang istri dan berlalu pergi dari sana.

__ADS_1


__ADS_2