
Rania terus saja dapat menghindar dari lesatan peluruh anak buah Pamannya, berulang kali ia berdecak kesal meski sudah banyak yang berhasil ia kalahkan.
Di dalam ruangan, tampak Brian hanya terbahak melihat kekesalan Rania.
"Tuan, apa tidak sebaiknya anda membantu Nyonya? Nyonya terlihat membutuhkan bantuan anda, terlebih anak buah Jeremy makin bertambah banyak meski sebagian sudah berhasil di kalahkan oleh Nyonya." ujar sang asisten dengan berani.
Brian menghembuskan nafasnya pelan, ia kesal dengan asistennya itu namun perkataan sang asisten ada benarnya juga.??
"Baiklah baiklah! ayo keluar."
Brian berjalan keluar dari ruangan nya di ikuti Maxi dari belakang. Beberapa pria yang berjaga di luar ruangannya pun menunduk hormat kala melihat sang Tuan keluar. Maxi pun memberi isyarat kepada para anak buah untuk mengikuti mereka.
Tepat saat Brian tiba, satu peluruh yang entah dari mana hampir saja mengenai pria itu, dan untung nya Rania berhasil menyelamatkan Brian dari timah panas tersebut.
"Damn! kenapa kau ceroboh, B! andaikan aku tidak datang mungkin peluru itu sudah menembus jantungmu, bodoh!" geram Rania saat Brian tampak santai meski dirinya hampir saja meregang nyawa.
"Aku yakin jika kamu tidak akan membiarkan sesuatu menimpahku, terima kasih sudah menyelematkan ku, Ra." balas Brian tulus.
Kediaman Delta.
"Ayah, apa sudah ada kabar dari Delta?" tanya Lethisa gusar, pasalnya hari sudah semakin gelap, anak dan menantunya belum juga ada kabar sedikitpun.
"Tenanglah Bun, Ayah yakin Delta pasti bisa membawa Arezha kita dalam keadaan baik-baik saja." ucap Burack menenangkan sang istri meski ia sendiri juga tampak mengkhawatirkan keadaan anak dan menantunya itu.
"Delta, Jibril dan lainnya sudah menuju tempat di mana Rania berada tak terkecuali anak buah yang sudah Ayah dan Daddy kerahkan untuk membantu mereka juga sudah tiba di hutan pinus. Mommy dan Bunda sebaiknya menidurkan si kembar, kasian mereka sejak tadi tidur seperti itu." timpal Ashraf.
"Ya sudah, Mommy sama Bunda kembali ke kamar bayi dulu. Cepat beri tau kami jika sudah ada informasi mengenai Delta dan juga Arezha." jawab Lethisa dengan berbesar hati.
Setelah kepergian istri mereka, kini tinggal ketiga pria dewasa di ruang keluarga itu.
"Pah, Burack akan ke hutan pinus, anak buah kita mengatakan jika Barack berada di tempat B. Dan besar kemungkinan ia akan bertemu dengan Arezha." jelas Burack dengan raut wajah yang begitu serius.
__ADS_1
"Papah akan ikut bersamamu. Jika Barack berani menyentuh Arezha, Papah akan pastikan kematiannya saat itu juga!" balas Hanthony penuh kilatan amarah.
Flashback On
Benedict Hanthony ialah sosok Ayah yang sangat mencintai kedua anak laki-lakinya. Pria yang sudah kaya sejak dulu itu begitu mengikuti segala kemauan kedua anak kembarnya. Namun suatu ketika saat usia kedua anaknya menginjak usia 23 tahun, suatu insiden terjadi, di mana Barack selaku adik kembaran Burack mencampurkan racun ke dalam minuman yang akan di minum oleh Burack, tapi sayang rencana pria itu gagal karena minuman itu bukan di nikmati oleh Burack melainkan oleh Betharia Hanthony yang tak lain ialah istri dari Benedict.
"Campurkan minuman ini ke dalam gelas yang akan di minum oleh Burack, pastikan kembaranku itu meneguk habis minuman itu!" titahnya kepada salah satu pelayan di rumah itu.
"Baik Tuan muda." jawab sang pelayan menyanggupi permintaan Barack.
Obrolan kecil kedua orang itu tidak sengaja di dengar oleh Betharia, wanita dewasa itu tampak syok mendengar titah anak keduanya itu. Tak ingin di ketahui keberadaan nya wanita dewasa itu bergegas pergi dari sana. Di dalam toilet wanita dewasa itu menangis, ia tidak menyangka jika salah satu anak kembarannya akan tega melakukan hal sekeji itu kepada saudaranya sendiri.
Kenapa kau melakukan ini, Nak? Mamah beserta Papah kalian selalu mengikuti kemauan kalian dan selalu bersikap adil kepada kalian. Sebegitu benci kah kamu kepada kakakmu sendiri? Mamah tidak mungkin membiarkan sesuatu menimpah satu di antara kalian, jika dengan kematian Mamah kamu bisa menjadi pribadi yang lebih baik, maka Mamah akan meminum minuman itu agar kelak tidak ada yang menyalahkan kamu atas kematian Burack karena Mamah sendirilah yang akan meminum racikan minuman yang sudah kau beri racun itu.
Setelah berperang batin, wanita itu pun melenggang keluar, ia kembali berkumpul bersama suami dan kedua anak kembarannya yang sudah duduk di meja makan.
Suasana ruang makan begitu hening di kala mereka sedang makan, sebuah senyum terbit di sudut bibir Barack saat melihat saudara kembarnya meneguk habis minuman yang sudah ia campurkan dengan racun.
Kematianmu akan membuat aku menjadi ahli waris satu-satunya kekayaan Papah.
"Mah, apa yang Mamah lakukan? kenapa Mamah mengganti minuman Burack dengan minuman Mamah?" tanya Barack dengan suara bergetar.
Meski suara nya begitu pelan tapi Benedict maupun Burack sendiri dapat mendengar ucapan Barack. Setelah meneguk habis minuman beracun itu, tubuh Betharia kejang-kejang dan terbatuk darah. Melihat itu Burack maupun Benedict segera beranjak mendekati sang Mamah.
"Mah, Mamah kenapa?" tanya Benedict dengan berlinang air mata.
Seketika Burack mengalihkan pandangan nya, ia menatap tajam saudara kembar nya, pria itu teringat akan ucapan Barack barusan. Dengan gerakan cepat ia menarik kerah baju saudara kembar nya itu.
"Jangan bilang ini semua ada campur tanganmu? mengapa, mengapa kau lakukan ini? wanita yang sedang meregang nyawanya itu Ibu kita! kau tega melakukan nya, hah?" teriak Burack sedih dan penuh kemarahan.
Bugh! Bugh!
__ADS_1
"Biadab! kau tega membunuh Mamah, apa yang kau pikirkan Barack?" teriak nya lagi saat bongeman mentah ia layangkan kepada adiknya itu.
"Jika sesuatu terjadi kepada Mamah, akan ku pastikan kamu menyesali segalanya, Barack!" desis nya lagi. Pria itu pun segera mendekati raga sang Mamah yang berada dalam rengkuhan sang Papah.
"Lexy siapkan mobil!" teriak Burack dengan perasaan campur aduk.
"Tidak perlu, Nak. Mamah sudah tidak ada lagi." seru Benedict lirih sambil mendekap kuat raga istrinya yang sudah tak bernyawa.
"Tidak! jangan bercanda Pah, Mamah pasti baik-baik saja." sangkal Burack yang masih belum percaya.
Mendengar perkataan sang Papah, lutut Barack melemas seketika, pria itu terhuyung kebelakang, tubuh nya bergetar hebat, ia tidak menyangka jika kebenciannya mengakibatkan sang Mamah pergi untuk selama lamanya.
Ketiga pria itu menangis histeris, sungguh Barack menyesali perbuatannya tapi kebenciannya kepada sang kakak tidak lah berubah sedikit pun, ia menyalahkan Burack atas kematian sang Mamah.
Benedict dengan kemarahan nya segera mengendurkan rengkuhan nya, pria dewasa itu segera beranjak dan menatap nyalang ke arah Barack.
"Kau, akan merasakan akibatnya, karena kau istriku meninggal! karena kau juga aku harus kehilangan wanita yang sangat aku cintai!" desis Benedict dengan sorot mata penuh kebencian.
Bugh! Bugh!
Benedict dengan membabi buta memukul Barack, setelah nya ia memerintahkan para bodyguard untuk mengurung Barack di ruang bawah tanah.
"Seret pembunuh ini, jangan biarkan ia bebas dari ruangan bawah tanah!" titahnya dengan sorot mata tajam.
Satu tahun berlalu, sejak kematian Betharia, Benedict selalu menyiksa Barack, dan sudah satu tahun berlalu kebenciannya terhadap sang anak tidaklah pernah berkurang. Meski marah dan kecewa dengan sang adik, tapi Burack sendiri masih memiliki kasih sayang yang teramat besar kepada adiknya itu. Oleh karena itu Burack memilih melepaskan Barack dari ruang bawah tanah tanpa memperdulihkan konsekuensi dari tindakannya yang mungkin akan membuat ia menjadi sasaran kemarahan sang Papah karena telah membebaskan sang adik.
Flashback Off
Meski dirinya terluka parah, tapi keselamatan istrinya ialah tanggung jawabnya oleh karena itu Delta mengabaikan saran dari para sahabatnya untuk mengantarnya ke rumah sakit. Ketiga sahabatnya juga hanya bisa mengikuti perintah nya tanpa ada yang berkomentar lagi.
Di dalam perjalan, Delta terus saja mengeram menahan sakit pada beberapa bagian tubuhnya, Jibril pun dengan telaten membantu Delta membersihkan darah-darah yang menetes dari beberapa luka yang di dapat oleh Delta.
__ADS_1
"D, biarkan Alex dan Garan yang menjemput Rani, kau harus ke rumah sakit, luka di tengkukmu tidak bisa di biarkan lebih lama lagi." bujuk Jibril penuh khawatir.
"Tidak!" satu kata yang penuh dengan penekanan berhasil membuat Jibril bungkam.