Istri Paksa Tuan Mafia

Istri Paksa Tuan Mafia
37. Tidur seranjang


__ADS_3

Setelah kepergian Galfin, Delta pun melangkah kan kaki nya menuju kamar Rania, pria itu tidak ingin sang istri merasa risih dengan apa yang sedang di lakukan nya, ia berniat menjelaskan segala nya tanpa harus menutupi semua yang ia ketahui termasuk Julio yang menyarankan ia untuk selalu menjaga nya pun akan ia bicarakan kepada Rania.


Tok


Tok


Tak ada sahutan, Delta yakin jika Rania pasti sedang dalam suasana yang tidak baik setelah apa yang ia dengar di paviliun belakang, tanpa permisi pun Delta segera membuka pintu kamar tersebut.


Tampak sosok Rania sedang sibuk dengan ponsel nya, wanita hamil itu terlihat cuek dengan kedatangan Delta. Delta pun memberanikan dirinya duduk di tepian ranjang, lagi-lagi Rania terlihat mengabaikan keberadaan nya.


"Ra, aku tidak bermaksud menyelidiki siapa kamu dan apa status mu sebenarnya, aku hanya ingin memastikan keselamatan kalian, hanya itu tidak lebih. Aku tidak peduli siapa kamu dan apa status mu. Kau memaafkan ku saja sudah cukup untukku. Aku mohon jangan mengabaikan aku seperti ini." jelas Delta dengan sorot mata teduh.


Wanita hamil itu terus saja mengabaikan suami nya, ia tidak ingin mendengar alasan apapun dari pria di depan nya. Melihat Rania yang terus diam tanpa mau membalas ucapan nya Delta pun kembali berbicara.


"Karena ucapan Julio, aku memberanikan diri mengorek informasi dan latar belakang kamu. Mungkin saat ini kamu bertanya tanya siapa Julio dan apa hubungan nya dengan kamu, itu lah yang mengganggu pikiran ku selama hampir dua pekan ini. Awal nya aku hanya ingin menyelidiki keterkaitan kamu dengan Julio, tapi kejadian beberapa hari yang lalu di perusahan, aku yakin pria itu pun ada kaitan nya juga dengan kamu, maka dari itu aku menugaskan Bara dan lain nya mencari informasi mereka secara detail." jelas Delta dengan satu tarikan nafas.


Mendengar penuturan Delta, fokus yang sejak tadi berada pada ponsel pun teralihkan ke arah sang suami, ia mencoba mencari kebohongan di manik mata sang suami namun hanya keseriusan yang ia dapat dari sorot mata suami nya tersebut.


"Jika hanya itu alasan nya, hentikan sekarang juga! aku tidak ingin terhubung dengan siapapun mau itu orang tua kandung ku, bagiku mereka semua sudah mati, sejak mereka menelantarkan aku, hubungan apapun di antara kami telah lama putus dan tidak akan pernah terjalin lagi. Berjanjilah Mas, untuk menutup akses apapun mengenai aku, sungguh aku nggak mau tau siapa mereka, biarkan aku menghabiskan sisa waktu ku dengan caraku sendiri." tekan Rania, namun di akhir kalimat nya tersemat sebuah harapan besar, dan Delta pun tau apa maksud dari perkataan istri kecil nya itu.


Delta tau meski istri nya itu berbicara tanpa mengeluarkan bulir air mata, ia yakin jika sebenarnya hati istri nya itu memendam suatu kesedihan yang teramat dalam, ia pun menarik sang istri dalam dekapan nya. Untuk yang ketiga kali nya tak ada penolakan apapun dari Rania saat Delta mendekap nya, dan itu membuat Delta merasa lega, ia berucap syukur karena istri nya itu perlahan lahan sudah mau menerima ia sebagai suami nya.


"Baiklah, tapi berjanjilah untuk tidak mengabaikan aku lagi, jika aku berbuat salah tegur aku, jika perlu pukul aku semau mu. Tapi jangan pernah mengabaikan aku lagi, sudah cukup hukuman kamu selama ini, sungguh aku bisa gila jika terus menerus kau abaikan apa lagi kau pergi jauh meninggalkan aku." bisik Delta dengan segala kekhawatiran nya.

__ADS_1


Rania speechless, ini kali pertama nya ia mendengar curahan hati suami nya, terlebih saat ini suami nya berbicara begitu panjang lebar, lagi-lagi sebuah senyuman menghiasi wajah wanita hamil itu. Anggukan kecil pun menjadi jawaban dari wanita hamil itu. Dekapan itu pun kian mengerat.


"Mas lepasin, kau bisa membunuh kami sekaligus." seru Rania di ikuti pukulan kecil di dada bidang Delta.


"Biarkan seperti ini dulu, Mas hanya ingin memeluk mu saat ini." jawab Delta tanpa mau melepaskan dekapan itu namun sedikit ia regangkan agar sang istri tak kehabisan nafas.


Kedua nya hanyut dalam dekapan satu sama lain, entah sejak kapan wanita hamil itu terlelap dalam posisi saling berpelukan, lagi-lagi sebuah senyum terukir di wajah pria dingin itu kala mendengar dengkuran halus istri nya. Dengan pelan ia pun membaringkan tubuh istri nya agar tidur dengan nyaman, sebuah kecupan pun ia darat kan di dahi sang istri, setelah nya ia pun beranjak dan ingin kembali ke kamar nya, namun tangan nya di tahan oleh tangan kecil istri nya.


"Mas, temani aku tidur malam ini, boleh ya?" pinta nya dengan suara serak.


Delta tertegun, ia tidak yakin dengan apa yang baru saja di dengar nya, pria itu pun terus berdiri hingga lamunan nya buyar kala ucapan istri nya.


"Ya sudah jika Mas nggak mau, nanti aku minta Galfin saja yang temani aku tidur di sini." Rania kesal dengan sikap Delta yang berdiri seperti orang bodoh di depan nya.


"Enak aja, nggak boleh!" seru Delta marah, mana mungkin ia membiarkan istri nya tidur di temani Galfin.


"Mulai besok, pindahkan semua barang-barang kamu ke kamar utama, mulai besok juga kita akan tidur sekamar tak ada lagi pisah ranjang!" beberapa penggal kalimat itu pun menjadi penutup sebelum kedua nya hanyut dalam mimpi indah masing-masing.


Tepat pukul lima pagi wanita hamil itu pun terjaga dari tidur nya, beberapa kali ia menguap, kesadaran nya pun perlahan kembali ia tersenyum melihat sosok di samping nya, wajah tampan pria itu menyapa pagi nya kali ini, tangan yang semula ada di pinggang sang suami pun terulur ke wajah pria itu, dengan lembut ia menelisik wajah tersebut.


Bulu-bulu halus di wajah pria itu menambah kesan dewasa dan ciri khas suami galak nya itu, ia membelai pipi dan hidung mancung suami nya tersebut, setelah puas memandangi wajah suami nya, ia pun perlahan turun dan berlalu ke kamar mandi. Setelah selesai dengan ritual di kamar mandi, ia pun segera bergegas ke luar, kali ini tujuan nya pagi ini ialah dapur.


Melihat kedatangan sang majikan bi Lin beserta Art lain nya menunduk hormat.

__ADS_1


"Selamat pagi, Bu." sapa para Art.


"Selamat pagi." balas nya dengan melempar senyum yang meneduhkan.


"Bi, apa di dalam kulkas ada makaroni?" tanya nya saat sudah berdiri di samping bi Lin.


"Ada Bu. Mau apa lagi, biar bibi siapin semua bahannya." tawar bi Lin.


"Nggak usah bi, biar Rani aja yang siapin semua nya. Bibi kerjakan yang lain aja." tolak Rani dengan lembut nya.


"Ya sudah, jika Ibu butuh apa-apa panggil bibi aja." balas Bi Lin dan berlalu pergi ketika mendapat anggukan kecil dari majikan nya.


Dengan terampil, Rani pun mulai memasak, ia begitu cekatan saat memasak, kurang lebih tiga puluh menit sarapan ala chef Rani pun telah jadi. Menu sarapan pagi kali ini Omelette makaroni di padukan dengan Avocado toash beserta tiga gelas banana shake.


Melihat sang majikan sudah selesai menyiapkan sarapan, seorang wanita muda berjalan menghampiri nya.


"Bu, biar saya saja yang menatanya di meja makan, Ibu istirahatlah sebentar sebelum sarapan pagi di mulai." pinta nya dengan lembut.


"Kamu, Sandra kan? anak nya bi Lin." tanya Rania saat kedua kali nya melihat gadis belia itu di mansion suami nya.


"I-iya Bu, saya Sandra." balas nya gugup.


"Makasih ya, oh iya, bentar nanti bisa temani saya ke mall nggak, ada beberapa peralatan bayi yang lupa aku beli. Kamu mau kan?" ajak Rania, ia merasa senang ketika tau di mansion suami nya ada seorang gadis yang bisa di jadikan teman obrolan nya.

__ADS_1


"Baik Bu." balas gadis itu mengiyakan ajakan Rania.


"Ya sudah kalau begitu aku ke kamar dulu ya, San." pamit Rania dan berlalu pergi dengan wajah berbinar bahagia ketika mendapat seorang teman baru.


__ADS_2