Istri Paksa Tuan Mafia

Istri Paksa Tuan Mafia
21. Etika bertamu


__ADS_3

Rania yang baru saja masuk tercengang melihat apa yang terjadi, ia tak lagi memikirkan janin di perut nya dan berlari ke arah Mbok Lin yang duduk di lantai dengan tangan kekasih suami nya yang hendak melayang ke arah wajah Mbok Lin, dengan berani Rania menahan pergelangan tangan Jenifer, ia menarik pergelangan Jenifer dengan kasar.


"Kau hanya tamu di rumah ini jadi jaga etika bertamu anda, nona!" ucap Rania dengan dingin nya dan menepis tangan Jenifer dengan kasar nya. Rania pun membantu Mbok Lin untuk berdiri.


"Nona, anda kembali." tanya Mbok Lin saat sudah berdiri kembali.


"Tidak Mbok, ponsel saya ketinggalan di kamar." balas Rania dengan tersenyum. Kini pandangan nya beralih ke arah Delta.


"Wanita seperti inikah yang kau dambakan? sungguh rendah wanita impian mu! ajari wanita mu bersopan santun yang baik terhadap orang yang lebih tua." sindir Rania dan berlalu ke kamar.


Mendengar ucapan Rania yang merendahkan diri nya, tanpa di duga Jenifer mendorong tubuh Rania dari belakang, menyadari Rania yang hendak jatuh dengan perut nya lebih dulu membuat Delta sigap menahan kedua pundak Rania dan memeluk tubuh istri nya, hingga tubuh mereka jatuh tepat di atas sofa panjang.


"Rania apa kau terluka?" tanya Delta khawatir.


Rania menepis tangan Delta yang berada di wajah nya.


"Jangan pernah menyentuh ku." balas Rania dengan dingin nya, ia pun bangkit berdiri dan berjalan ke arah Jenifer. Tanpa di duga pun Rania menampar Jenifer dengan kuat nya.


Plaakkk


"Siapapun kamu dan entah ada hubungan apa kau dengan Delta, jangan pernah mencoba menyentuh ku, karena aku tidak akan tinggal diam dengan apa yang coba kau lakukan!" ucap Rania dan sekali lagi menampar Jenifer dan kali ini ia berlalu pergi ke kamar nya.


Seketika Delta berbalik dan menatap tajam Jenifer. Kali ini ia tidak akan membiarkan siapapun melukai Rania. Melihat sorot mata tajam dan dingin Delta membuat Jenifer menggigil ketakutan, tubuh nya perlahan lahan melangkah mundur.

__ADS_1


Delta dengan kemarahan nya berjalan mendekat ke arah Jenifer, ia mencengkram leher Jenifer dengan kuat nya.


"Akan ku bunuh kau saat ini juga." ucap Delta dengan emosi yang sudah berada di ubun-ubun nya. Melihat kemarahan Delta Mbok Lin tau apa yang akan di lakukan Delta selanjut nya, dengan berlari Mbok Lin menghampiri Rania dan mengatakan apa yang terjadi namun Rania tak memperdulikan ucapan Mbok Lin.


"Tenang lah Mbok, Delta mana berani menyakiti kekasih nya itu." balas Rania cuek, setelah mendapat kan ponsel nya Rania pun keluar dari kamar di ikuti Mbok Lin yang berjalan di belakang nya.


"D-delta lepaskan tangan mu." mohon Jenifer dengan terbata akibat cengkraman Delta yang begitu kuat.


"Apa kau pikir karena telah berhasil naik ke ranjang ku, dan kau pikir aku akan membiarkan kamu menyakiti istri dan anak ku, tidak Jenifer!kau salah, hubungan di antara kita hanya simbiosis mutualisme, jadi jangan pernah berharap menyingkir kan istri ku, karena selama nya hanya Rania yang pantas menyandang gelar Nyonya Ammar." ucap Delta pelan namun menusuk ke indra pendengaran Rania. Dengan satu gerakan cepat, Delta mengambil pistol yang berada di balik kaos nya, ia pun menarik pelatuk nya dan mengarah kan pistol tersebut ke arah kepala Jenifer.


Melihat Delta yang begitu emosi dan hendak membunuh Jenifer, Rania pun melangkah mendekati Delta.


"Lepaskan dia Delta." ucap Rania sembari menahan pergelangan Delta yang memegang pistol.


"Terserah kau saja, tapi aku tidak ingin hidup dengan pria pembunuh seperti dirimu!" kali ini Rania sedikit mengancam Delta. Ia tidak mungkin membiarkan Ayah dari anak nya menjadi seorang pembunuh.


Mendengar itu perlahan lahan cengkraman tangan nya pada leher Jenifer mengendur, Jenifer terbatuk-batuk saat Delta melepaskan cengkraman tangan nya, jika saja Rania tidak kembali untuk mengambil ponsel nya entah apa yang akan terjadi dengan Mbok Lin.


"Penjaga!" teriak Delta dengan suara menggelegar di rumah itu.


"Iya Tuan, apa ada yang anda perlukan?" tanya dua orang penjaga saat sudah berdiri di depan Delta.


Rania yang berada di dalam kamar terjengkit kaget mendengar teriakan Delta. " Astaga orang ini benar-benar gila, sedikit-sedikit teriak udah kayak di hutan aja!" gerutu Rania.

__ADS_1


"Seret pelacur ini, jangan pernah sekalipun mengizinkan ia masuk ke mansion ini.," titah nya dengan datar dan berlalu pergi menuju kamar Rania.


"Mbok berikan uang ini kepada supir taksi di depan, katakan kepada nya untuk tidak menunggu lagi, minta ia segera pergi." titah nya sembari menyodorkan beberapa lembar uang kepada Lin.


Setelah mengganti pakaian nya yang sempat lusuh, Rania pun segera meraih tas kecil beserta ponsel nya, kehadiran nya sudah di tunggu oleh Abel dan Medina di salah satu cafe yang menjadi tempat favorit mereka saat masih bekerja bersama. Namun melihat siapa sosok yang berdiri sembari melipat tangan nya di dada membuat Rania menghentikan langkah nya.


"Mau kemana?" tanya Delta dengan datar nya.


"Bukan urusan kamu!" ketus Rania yang masih kesal mengingat Delta yang tak menggubris ucapan nya tadi.


"Ya sudah kalau begitu, aku akan mengantar kamu kemana pun kamu pergi." balas Delta dengan santai nya.


Rania mendelik tak suka, ia tidak mungkin pergi bersama Delta kesana, pasal nya ia tidak ingin kedua sahabat nya tau mengenai pernikahan nya beserta Delta, apa yang akan di pikirkan sahabat nya jika kelak ia berpisah dengan Delta setelah ia melahirkan nanti.


"Kita hanya tinggal seatap dengan status sebagai dua orang asing yang di ikat dengan hubungan kesepakatan, jadi berhentilah bersikap seolah olah kamu suami yang sesungguh nya." ucap Rania dengan dingin nya.


Delta mematung mendengar kalimat demi kalimat yang di lontarkan Rania kepada nya, ia merasakan sesak di dada nya, nafas nya memburu, ia tidak berharap kalimat menyakitkan itu keluar dari mulut Rania, meski dirinya tau jika wanita yang mulai memporak poranda kan hari nya itu begitu benci dengan diri nya.


Perlahan lahan Delta mundur dan pergi dengan seribu kekecewaan, tak satu pun kata keluar dari mulut nya, ia diam dan berlalu pergi, tanpa di cegah bulir air mata mulai jatuh, ia pun membersihkan bulir air mata itu dengan kasar, ia tidak ingin ada yang melihat sisi lain nya. Dengan membawa kekecewaan, Delta pun menelpon Galfin.


Rania speechless melihat Delta yang pergi tanpa berucap.


"Apa perkataan ku barusan sudah melukai hati nya?" tanya Rania pada diri nya.

__ADS_1


Mood Rania untuk bertemu kedua sahabat nya sirna begitu saja, ia pun mengirim pesan kepada Medina.


__ADS_2