Istri Paksa Tuan Mafia

Istri Paksa Tuan Mafia
42. Obsesi sang sekertaris


__ADS_3

Setelah pergulatan panas di antara keduanya usai, sepasang suami istri itu tampak berbenah diri. Ya kedua nya kali ini memutuskan pulang karena hari sudah menjelang malam.


Tanpa rasa canggung, Rania menggandeng lengan Delta ke arah pintu. Meski hati nya masih di selimuti tanda tanya, tapi untuk saat ini Delta memilih mengabaikannya. Apa yang di katakan Rania benar ada nya, jika untuk saat ini istri kecil nya itu adalah milik nya sekarang dan selama nya. Maka dari itu ia pun mencoba mengabaikan dan memilih mempercayai istri nya tersebut. Ia yakin jika istri nya itu tidak mungkin berselingkuh.


Sepasang suami istri itu pun berjalan keluar dari ruangan, Rania mengernyitkan alis nya kala mendapati sesosok wanita yang duduk dengan memainkan ponsel nya di waktu jam kantor telah usai sejak dua jam yang lalu.


Mendengar suara langkah kaki, atensi wanita itu pun perlahan teralihkan. Ia pun berdiri dan membungkuk sopan kepada atasan nya itu.


"Bukannya jam kantor telah usai sejak dua jam lalu? mengapa kau masih di sini?" tanya Rania penuh selidik.


"Oh itu, saya tidak bisa pulang jika atasan saya masih di kantor karena itu sudah menjadi kewajiban saya menemani atasan saya hingga pekerjaan nya selesai." jawab wanita itu dengan menekan beberapa kata terakhir nya.


Rania mendelik tak suka mendengar jawaban sekertaris suaminya itu.


"Mungkin anda lupa, jika di ruangan itu ada saya yang menemani suami saya yang bekerja. Maka dari itu mulai saat ini selagi masih ada saya jangan pernah tunjukkan batang hidung mu di depan saya setelah jam kantor usai!" seru Rania dengan tajam dan penuh penekanan.


Setelah nya ia pun segera menarik lengan sang suami dengan kasar dan berlalu meninggalkan sekertaris ganjen itu dengan pikiran dongkol nya.


Lagi-lagi Delta mengulum senyum, ia senang saat melihat istri nya itu cemburu dan kerap sekali kesal. Karena bagi nya itu sangat mengemaskan, namun satu yang harus Delta ingat, ia tidak boleh tertawa atau pun tersenyum kepada sang istri di kala mood sang istri jelek, jika tidak, pasti ia akan di suruh tidur di luar.


Delta dan Rania pun berjalan memasuki lift khusus CEO. Menekan tombol lift dan keluar setelah tiba di lantai dasar. Sekeluarnya mereka dari lift mereka di suguhkan dengan keheningan, suasana kantor pun begitu sepi dengan penerangan yang temaram. Apalagi ke posesifan Delta terhadap Rania kerap sekali membuat wanita hamil itu kesal bukan main. Bagaimana tidak, meski keadaan kantor yang sudah begitu sunyi, rangkulan tangan Delta di pinggang nya begitu erat seakan akan tidak memberikan celah untuk istri nya itu berjalan dengan bebas.


Setiba nya di rumah, Rania yang masih jengkel memilih merebahkan diri nya di sofa, melihat itu Delta mengusap wajah nya dengan kasar. Mau marah tapi mengingat perkataan Jasmine membuat ia geram dengan sikap sekertaris nya itu yang seperti ingin memanas manasi istri nya.

__ADS_1


"Sayang kok rebahan di situ, ayo ke kamar." ajak Delta lembut sembari mengelus perut buncit sang istri.


"Mas udah ya, aku nggak mau debat. Aku mau di sini dulu. Jika Mas mau mandi pergilah." jawab Rania tanpa mau membuka pejaman matanya.


"Ya sudah, Mas ke kamar dulu." ucap Delta pasrah.


Sepeninggalan Delta, wanita hamil itu pun segera membuka pejaman matanya. Ia pun meraih remote tv dan mulai menonton. Saking serius nya dengan film yang ia tonton hingga tidak menyadari kedatangan Delta dengan segelas susu hamil di tangan suami nya.


"Sayang, minumlah." ucap Delta sambil menyodorkan segelas susu hamil dan langsung di terima oleh Rania.


Delta menatap Rania ragu dengan apa yang akan dia bicarakan. Sadar jika dirinya sedang di perhatikan Rania menoleh ke arah Delta.


"Apa yang ingin kamu katakan, Mas?" tanya Rania yang melihat wajah bimbang suaminya.


"Kamu kan udah janji mau temenin aku belanja keperluan baby, Mas." seru Rania sedikit kecewa.


"Maafkan aku sayang. Bagaimana jika sepulang aku dari sana kita langsung berbelanja, atau jika kamu mau aku minta Mommy temenin kamu aja, bagaimana?" tawar Delta saat melihat raut kekecewaan istri nya.


"Berapa lama, kamu di sana?" tanya Rania tanpa mau menjawab tawaran suami nya.


"Paling lambat tiga hari, dan setelah urusannya selesai aku akan segera pulang." jawab Delta sambil mengusap pipi chuby istri nya.


"Nanti saja Mas tunggu kamu pulang baru kita berbelanja." putus Rania tidak ingin berdebat.

__ADS_1


"Maaf." sesal Delta karena tidak bisa menepati janji pertamanya pada sang istri.


"Dengan siapa perginya?" tanya Rania.


"Jasmine karena dia sekertaris ku saat ini." jawab Delta membuat Rania mendelik tak suka, mood nya pun kembali jelek saat mendengar jika suami nya akan berpergian jauh dengan sekertaris nya.


Rania diam, ia tak lagi bertanya ataupun berucap dan itu membuat Delta merasa bersalah, ia yakin jika istri nya itu pasti tidak suka jika diri nya harus berpergian dengan Jasmine.


"Hey, aku kesana untuk bekerja, jangan memikirkan sesuatu hal yang tidak-tidak. Mas nggak mungkin macem-macem di sana, terlebih sebentar lagi akan ada anak di antara kita, okey?" seru Delta yang mengerti dengan kekhawatiran sang istri.


"Ya sudah, kamu hati-hati di sana. Dan ingat jauh-jauh deh dari sekertaris mu itu, aku nggak suka dengan tatapan nya yang sering melihat mu seperti itu." putus Rania tidak ingin memperpanjang masalah apalagi berakhir dengan perdebatan yang tidak akan ada habisnya.


"Siap Bunda, apapun perintah Bunda akan Ayah turuti. Jangan ngambek lagi, ayo ke kamar." jawab Delta sambil mendaratkan beberapa kecupan di wajah istri kecil nya itu.


"Awas aja jika kamu ketahuan selingkuh, aku nggak bakalan maafin kamu da-". belum usai Rania berbicara langsung di potong oleh Delta yang tau kemana arah pembicaraan istri nya itu.


"Dan ceraikan? Nggak akan! meluluhkan hati Bunda aja susah setengah mati, boro-boro selingkuh apalagi berduaan dengan yang lain, jika di rumah ada yang lebih mengemaskan." potong Delta sambil mencium bibir istri kecil nya.


"Mas." pekik Rania merasa kegelian saat tangan suami nya mulai bergerilya di mana-mana.


Setelah perdebatan yang cukup alot, kedua nya pun beranjak dan berlalu menaiki lift menuju lantai dua kamar mereka berada.


Di lain tempat seorang wanita sedang menikmati wine nya, ia begitu bahagia kala tau besok akan berpergian berdua dengan pria yang di cintai nya, seringai licik terpampang jelas di wajah cantik nya.

__ADS_1


New york, aku pastikan tempat itu menjadi tempat aku menghabiskan waktu berdua dengan mu, D. Akan ku rebut apa yang menjadi milikku. Dan kau Rania, kau akan mendapatkan kejutan setelah kami kembali.


__ADS_2