
Setelah kepergian ketiganya, Burack beserta Lhetisa ikut bergabung bersama keluarga Ashraf. Sebuah senyum menghiasi wajah kedua paru baya itu kala melihat siluet Delta yang ada di sana. Kedua paru baya itu tak dapat menahan haru bahagia melihat menantu mereka ada di sana.
Delta pun perlahan berjalan mendekati Burack, dan kedua nya berpelukan.
"Maafkan Delta, Ayah. Delta telah mengecewakan kalian."
"Tidak, lupakan itu semua. Ayah selalu yakin dengan keputusan mu, meski ada rasa kecewa karena kau membawa pergi cucu pertama kami. Tapi melihat kalian kembali dan ada di sini, sudah membuat kami bahagia." jelas Burack sambil menepuk pundak menantu nya itu.
Setelah sesi peluk memeluk, kini keluarga besar itu tampak terlibat pembicaraan serius. Ya, kini mereka membahas segala kesalahpahaman yang terjadi saat ini dan mereka memutuskan akan mendekati Ayla dengan perlahan dan mencoba mencari tau apa yang sebenarnya terjadi hingga gadis cantik itu tampak membenci kedua bela pihak.
Dari pembicaraan itu, hanya Nyonya Regina lah yang terlihat gelisah. Ia tak menyangka jika cucu perempuannya itu menjadi penghalang untuk nya menguasai seluruh harta keluarga besan nya. Sudah sejak lama, wanita paru baya itu mencoba menyingkirkan sosok Ayla yang bagi nya akan membuat ia sulit mendoktrin Arta sesuai keinginan nya.
'Ada apa dengan, Mommy? sumpah demi apapun, jika Mommy terlibat dalam segala kecurigaan ku, akan aku pastikan Mommy menerima hukuman nya. Mengapa Ayla bisa bicara seperti itu? apa ada yang coba Mommy sembunyikan dari kami? akan ku cari tau, ada apa sebenarnya di antara Mommy dan Ayla.'
"Ada apa Mom? kenapa wajah Mommy terlihat pucat?" tanya Dhania yang menyadari perubahan raut wajah Mommy nya.
"Ti-tidak, Mommy merasa tidak enak badan saja. Ya, Mommy merasa kurang fit." balas Nyonya Regina gugup.
"Ya sudah, Mommy kembalilah ke kamar dan istirahat yang cukup." ucap Dhania lagi.
"Baiklah, Mommy pamit ke kamar dulu." pamit wanita sepuh itu.
__ADS_1
*****
Di lain tempat, tepatnya di sebuah taman kota. Galfin mengajak kedua Kakak beradik itu untuk duduk berselonjor kaki di tepi sungai. Setelah memastikan keduanya duduk dengan nyaman, Galfin pun mulai mengajak Ayla berbicara.
"Uncle nggak bakalan maksa kamu buat nerima Nyonya Rani, tapi jika Uncle boleh tau, apa sebenarnya yang membuat kamu begitu membenci, Nyonya?" tanya Galfin penuh kelembutan.
Arta merasa takjub dengan sikap lemah-lembut pria yang di panggil Uncle oleh sang Kakak. Sedangkan Mikayla tampak terdiam mendengar bait demi bait yang di lontarkan oleh sang Uncle. Terdengar tarikan nafas yang cukup panjang dari sosok Ayla.
"Aku tau, Uncle tidak bodoh. Apa perlu Ay jelasin?" bukannya menjawab, Ayla kembali melemparkan pertanyaan bodoh kepada Uncle itu.
"Sekalipun Uncle mengetahui nya, tapi seenggak nya apa yang kamu pendam selama ini bisa membuat kamu lega meski tak seluruhnya bisa menghilangkan ketakutan kamu, terlebih mungkin, Tuan muda ingin mendengar alasan atas sikap Ay kepada Nyonya."
"Sebenarnya Kamu ialah tujuan utama kedatangan Aku kesini, tapi suatu ketika. Seorang wanita sepuh menghampiriku, entah sejak kapan wanita itu tau keberadaan ku kala itu. Tapi obsesiku untuk segera bertemu Bunda dan kamu berubah menjadi kebencian yang begitu besar kala wanita sepuh itu memperlihat banyak nya foto dan video tak senonoh Bunda dengan pria berbeda-beda. Ada rasa jijik ketika mengetahui jika Ay lahir dari rahim wanita menjijikkan seperti itu, mulai sejak itu, Ay berjanji nggak bakalan ngebiarin wanita itu mendekati Ayah lagi." jelas Ay dengan perasaan campur aduk.
"Meski kita tidak hidup bersama, tapi aku yakin Kakak bukanlah orang bodoh yang dengan gampangnya mempercayai apa yang wanita Iblis itu bilang. Percayalah Kakak, Bunda tidak seperti pemberitaan itu, aku bersumpah akan membalas segala hinaan keji itu dengan kematian orang yang dengan kejam nya menyebar fitnah mengenai Bunda." balas Arta dengan wajah memerah menahan emosi.
Mendengar sumpah sang Adik, Ayla hanya menyunggingkan seutas senyum, ia yakin jika saja Arta tau siapa dalang di balik itu semua mungkin Arta akan menyesali sumpahnya saat ini.
"Apa kau yakin dengan sumpah mu? aku tak yakin jika kau berani berbuat kejam pada orang itu, terlebih yang ku amati selama ini, kau selalu mengikuti setiap keinginannya dan begitu tunduk di bawah kakinya." Ejek Ayla santai.
Deg
__ADS_1
Ucapan Ayla seketika membuat Arta bungkam, pria itu mencoba menerka-nerka siapa yang di maksud Kakaknya itu. Dan dengan mantap Arta kembali berkata untuk meyakinkan sang Kakak.
"Entah itu orang terdekat Arta atau siapa pun itu, Arta berjanji akan membuat hidup orang itu bagai di neraka. Tapi Arta mohon, untuk saat ini Kakak jangan bersikap dingin dan ketus kepada Bunda lagi. Karena selama ini, Arta seringkali memergoki Bunda yang selalu menangis seorang diri di setiap malam." mohon Arta dengan lirih.
Kali ini Ayla lah yang di buat bungkam, gadis cantik itu mencari kebohongan dari setiap ucapan tegas sang Adik, namun hanya sorot kesedihan dan kejujuran yang di tanggap oleh nya dari sorot mata Arta.
"Jika kau berhasil menguak siapa dalang di balik kesalahpahaman yang terjadi, mungkin aku bisa mempertimbangkan keinginanmu untuk berlaku baik kepada Bunda. Bagaimana?" balas Ayla sembari memberi tantangan untuk Adiknya meski ia sendiri bisa saja memberitahu siapa dalang di balik itu semua.
"Oke, aku setuju. Dalam 3 hari, Arta bakalan menyeret orang itu kehadapan keluarga beserta Kakak juga harus hadir saat itu, dan semua hukuman untuk orang itu Kakak sendiri yang menentukan." balas Arta penuh dengan keyakinan.
"Aku yakin kau pria yang peka, tapi untuk menyeret orang itu, mungkin kau tidak akan tega, bagaimana pun kau begitu dekat dengannya." ucap Ayla dengan senyum mengejek.
Galfin yang ada tak jauh dari keduanya, hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Ayla yang seperti terus memprovokasi pria muda itu.
"Aku akan berhenti merecoki Kakak jika aku tak sanggup melakukan nya." ujar Arta dengan tegas, sorot mata pria itu berubah serius.
"Baiklah. Oh iya, gadis yang sebulan lalu siapa?" tanya Ayla basa-basi.
"Oh itu, namanya Eve di calon tunangan ku. Jika boleh aku minta, aku ingin Kakak hadir di pesta pertunangan kami, aku akan sangat bahagia jika Kakak turut hadir di hari bahagiaku." pinta Arta lirih.
Harapan terbesar pria itu, ialah di mana pertunangan nya berlangsung di hadiri oleh seluruh keluarga besar terlebih dia sangat mengharapkan kehadiran sang Ayah beserta Kakak nya.
__ADS_1
"Entahlah, aku tidak bisa menjanjikan apapun saat ini, akan ku usahakan jika waktu ku senggang." balas Ayla.