Istri Paksa Tuan Mafia

Istri Paksa Tuan Mafia
46. Salah Paham


__ADS_3

Setelah pertengkaran hebat itu, Rania lebih memilih menghabiskan waktu nya di dalam kamar. Sudah seminggu berlalu tak satu pun dari kedua nya mengalah, Delta dengan segala keegoisan nya memilih bungkam dan terus saja menghabiskan waktu nya di kantor. Pria itu akan kembali ke rumah di waktu tengah malam.


Tepat pukul dua dini hari, Rania yang terjaga dari tidur nya karena merasa lapar. Wanita hamil itu pun beranjak dari ranjangnya setelah melihat jam di ponselnya. Rania pun berjalan keluar menuju lift, saat sudah sampai di lantai dasar wanita hamil itu pun berlalu ke dapur.


Hampir lima belas menit ia berkutat di depan kompor, semangkok mie menjadi santapan malam nya. Dengan wajah berbinar ia pun mulai menata mangkok mie di meja makan. Tanpa ia sadari ada sesosok yang tak jauh dari nya sedang menatap segala pergerakan nya.


Rasa lelah di tubuh nya hilang begitu saja saat melihat sosok yang sangat ia rindukan berada di meja makan. Melihat sang istri memakan mie dengan begitu lahapnya membuat pria itu berulang kali menelan saliva nya. Ingin sekali ia menghampiri istrinya, namun gengsi mengalahkan segala nya.


Meski sudah tau kebenaran nya, pria itu tetap pada pendirian nya, ia tidak akan mau berbicara dengan Rania sebelum istri nya itu meminta maaf.


Sudah seperempat mangkok yang ia makan, namun tiba-tiba ia beranjak dan membawa mangkok mie itu ke wastafel. Rasa lapar nya hilang saat tak sengaja ia melihat sosok suaminya yang berdiri tak jauh menatap ke arah nya. Rasa marah kian menggerogoti hati dan pikiran nya, sungguh ia tidak ingin terjebak dalam situasi seperti ini.


Setelah membersihkan peralatan makan nya, ia pun segera berlalu kembali ke kamar nya melewati Delta yang masih terus berdiri di tempat nya. Tak ada sedikit pun niat dari kedua nya untuk mengalah agar hubungan di antara mereka terjalin baik seperti sediakala.


Delta dengan segala keegoisan nya membiarkan sang istri berlalu tanpa mau mengajak istrinya itu berbicara. Setiba nya di kamar, Rania menangis sejadi jadinya. Ia tidak menyangka jika hubungan yang baru saja terjalin baik kembali renggang hanya karena kesalahpahaman.


Seperti pendirian Delta, Rania pun sama hal nya tidak ingin menegur atau pun menyapa suami nya itu sebelum suaminya itu menyadari kesalahan nya.


Ya sejak pertengkaran di antara mereka, Delta lebih memilih menghabiskan waktu nya di ruang kerja, pria itu pun tak pernah kembali ke kamar di waktu malam, ia terus saja menyibukkan diri nya hingga pagi menjelang.


Pagi harinya Rania yang baru saja bangun dari tidurnya, di suguhkan dengan wajah tampan suaminya yang masih terlelap di samping nya, dengan tangannya yang tengah memeluk erat tubuh nya.


Kemarahan Delta beberapa hari yang lalu membuat Rania kecewa sekaligus takut. Ia takut dengan kemarahan pria itu yang kapan saya bisa melakukan kekerasaan mengingat apa yang pernah terjadi di pertemuan mereka pertama kali, kecewa dengan Delta yang tidak mempercayainya dan menuduhnya telah berselingkuh hanya dengan bukti-bukti yang memang di ambil secara sengaja oleh seseorang. Perasaan kecewa dan sakit hati masih di rasakan wanita hamil itu.


Rania pun menyingkirkan tangan Delta dari tubuhnya, Rania beranjak dari ranjang dan menuju kamar mandi. Beberapa menit kemudian ia pun segera keluar dari kamar mandi setelah berpakaian rapi.


Segera mungkin ia berlalu keluar dari kamar, ia merasa jengkel dan kecewa dengan sikap Delta yang tidak mau meminta maaf. Delta terbangun dari tidurnya kala tidak mendapati sosok istrinya itu, dengan cepat pun Delta berlalu masuk ke kamar mandi.


Tepat pukul tujuh, Delta pun ikut bergabung bersama sang istri di meja makan, tak ada pembicaraan di antara keduanya. Hanya Rania yang makan dengan tenang nya, sungguh ia sangat lapar karena semalam ia melewati makan malam nya dan hanya mengganjal perutnya dengan semangkok mie saja itu pun hanya separoh karena selera makan nya hilang saat tau dirinya di perhatikan.


Melihat Rania yang tidak menganggapnya ada , Delta kesal bukan main, pria itu pun beranjak dan pergi meninggalkan Rania, namun belum sepenuh nya ia melangkah menjauh, ia pun kembali melihat sang istri yang terus saja menyantap sarapan nya tanpa mau melihat ke arah nya.


"Galfin akan menjemputmu siang nanti." ucap Delta dan kembali melanjutkan langkahnya.


Rania mengabaikan ucapan Delta, ia terus saja mengunyah makanan nya dan berlalu pergi setelah sepiring nasi goreng tersebut habis. Meski ucapan suaminya membuat selera makan nya hilang, tapi ia tidak ingin egois karena saat ini di dalam perutnya ada sebuah nyawa yang memerlukan asupan makanan.

__ADS_1


Kali ini Rania mengisi waktu luangnya dengan menyibukkan diri di depan laptop, tak ada sorot mata teduh yang di tampilkan Rania kali ini, entah apa yang sedang di lihatnya kali ini. Wajahnya kian menyorot tajam dan begitu fokus pada layar laptop.


Jari jemarinya begitu lancar memainkan keyboard laptop, hampir dua jam lama nya ia terus berkutat dengan layar laptop hingga tak berselang lama pintu di ketuk dari luar hingga mengalihkan fokus nya.


Tok..


Tok..


"Masuklah!" sahutnya dan terus fokus di depan laptop tanpa mau tau siapa yang datang.


"Bu, den Galfin sudah tiba dan sedang menunggu anda." jelas bi Lin dengan menunduk sopan.


ck' ganggu orang aja. Entah mau di bawa kemana aku ini sama mereka.


"Minta Galfin menunggu beberapa menit lagi, saya mau bersiap siap dulu." balasnya dengan sopan.


"Baik Bu, saya pamit undur diri dulu." pamit bi Lin dan berlalu keluar.


Setelah pintu tertutup Rania belum juga beranjak dari ranjang, ia masih terus fokus ke layar laptop. Hingga sepuluh menit kemudian barulah ia beranjak dan berlalu ke walk in closed.


"Kita mau kemana sih?" tanya nya kesal saat sudah berdiri di depan Galfin.


"Tuan meminta saya mengantar Nyonya ke perusahan, selebih nya Tuan tidak mengatakan apapun." jelas Galfin sopan, meski dalam hati bertanya-tanya ada apa dengan mood sang Nyonya, karena ini kali pertamanya Galfin melihat keengganan dari sang Nyonya untuk bertemu dengan Tuannya.


"Ck' pria dingin itu selalu saja bersikap otoriter." gerutu Rania.


Hampir tiga puluh menit menempuh perjalanan, akhirnya mobil yang di tumpangi Rania pun mendarat dengan apik tepat di depan pintu masuk perusahan. Galfin dengan gesitnya sudah berdiri di samping mobil dan membukakan pintu untuk Rania.


"Makasih." ucap Rania jelas dan padat.


"Sama-sama Nyonya. Mari." balas Galfin dan mempersilahkan Rania berjalan terlebih dulu.


Ada apa ini? mengapa perasaan ku tiba-tiba tidak enak seperti ini ya?


Galfin yang berada di belakang Rania pun dapat melihat kegelisahan sang Nyonya.

__ADS_1


"Apa anda baik-baik saja, Nyonya?" tanya Galfin khawatir.


"Entahlah Fin, tiba-tiba perasaan aku nggak enak aja, seperti sesuatu hendak terjadi." jelas Rania jujur dengan kegelisahannya.


Galfin pun tak lagi bersuara, ia pun kembali berdiri di belakang sang Nyonya. Pintu lift pun terbuka, kedua nya pun keluar dan berjalan menuju ruangan Delta.


Galfin yang tidak memiliki firasat apapun segera membuka pintu ruangan sang bos, alangkah terkejut nya Rania mendapati seorang wanita berdiri tepat di depan sang suami, jarak di antara kedua nya pun terbilang begitu intim, tubuh Rania terasa begitu lemas, andai Galfin tak menopang tubuhnya mungkin Rania sudah terjerembet ke belakang.


"APA YANG KALIAN LAKUKAN?" teriak Rania dengan suara mengelengar.


Baritone itu pun menyadarkan Delta, pria itu segera mendorong tubuh wanita di depan nya dengan kasar. Delta pun melangkah mendekati Rania, namun wanita hamil itu terlebih dulu mengangkat sebelah tangan nya sebagai isyarat untuk tidak mendekatinya.


"Sayang, ini hanya salah paham saja. Mas mohon dengerin penjelasan Mas dulu." jelas Delta agar sang istri tidak salah paham.


"JADI INI MAKSUD KAMU MENGAJAK AKU KESINI, INGIN MEMPERTONTONKAN KEINTIMAN KALIAN, HAH!" sarkas Rania dengan nafas memburu, sorot mata nya begitu dingin.


"Dengarkan penjelasan Mas dulu, jangan langsung menyimpulkan begitu saja. Duduklah." seru Delta lagi.


Kali ini Rania mengalihkan pandangan nya ke arah wanita yang tak lain ialah Jasmine sekertaris suaminya. Dengan langkah mantap ia berjalan mendekat ke arah Jasmine.


Plaakkk


Satu tamparan mendarat di pipi Jasmine, sungguh Rania geram melihat wanita penggoda itu, sudah berulang kali ia meminta suaminya untuk memecat wanita tersebut, namun permintaan nya tidak di gubris oleh sang suami.


"KAU MENGINGINKAN PRIA INI? BAIK, AKU DENGAN SUKA RELA AKAN MEMBERIKAN NYA KEPADA KAMU!" seru Rania. Wanita hamil itu pun kembali menatap suaminya.


"DAN KAU, JANGAN PERNAH LAGI MENUNJUKKAN WAJAH MU DI DEPANKU, KARENA MULAI SAAT INI HUBUNGAN DI ANTARA KITA BERAKHIR." tunjuk Rania kepada Delta, dan ucapan wanita hamil itu bagaikan bom waktu yang meledak tepat di kepala Delta.


Deg,


Delta membeku di tempat, ia tidak menyangka jika Rania akan berbicara seperti itu, awalnya ia pikir jika sang istri hanya akan merajuk dan terus mendiaminya namun pada kenyataan nya semua di luar ekspetasi. Belum sempat Delta berbicara Rania sudah berlari keluar dari sana.


Galfin pun berniat mengejar Rania namun urung saat tatapan nya mengarah pada sosok Jasmine yang berdiri sambil menyunggingkan senyum tipis. Galfin yang peka pun segera menghampiri Jasmine dengan satu tarikan, tangan Galfin sudah melayang di pipi Jasmine.


Plaakkk

__ADS_1


"Kau kira aku tidak tau apa yang sedang kau rencanakan, hah! berani nya kau!" teriak Galfin dengan tangan yang sudah berada di kepala Jasmine, tanpa perasaan ia pun menyeret Jasmine keluar dari ruangan sang Tuan.


__ADS_2