
Melihat Rania yang telah berjalan menjauh dan keluar dari restoran tersebut, pria itu pun menyunggingkan seutas senyum. Ia yakin setelah ini hubungan di antara Delta dan juga Rania pasti akan berakhir.
Sebentar lagi, Ra. Aku yakin kau akan menjadi milikku seutuh nya. Aku siap menjadi Ayah dari janin yang ada di perutmu.
Pria itu pun beranjak dan berlalu ke arah toilet. Tepat saat sudah berada di balik toilet, pria itu pun membuka sketsa wajah yang ia kenakan. Sungguh penyamaran yang sempurna, pria yang bertemu Rania tak lain dan tak bukan ialah David. Mantan kekasih Rania, dengan cara picik pria itu mengenakan sebuah topeng wajah seseorang untuk menutupi identitas nya.
Berbeda dengan David yang sedang mengumbar senyum kemenangan, wanita hamil yang baru saja meninggalkan restoran itu tampak menangis tersedu di balik kemudi, tatapan nya begitu kosong, kejadian sembilan bulan yang lalu seakan berputar kembali di kepala nya.
Akan ku buat kau mendesah hebat di bawah kungkungan ku, Belia Amor.
Ya, sepenggal kalimat itu terngiang-giang di telinganya. Ia begitu yakin jika wanita itu adalah wanita yang sama yang di cari Delta kala itu, hingga diri nya lah yang menjadi sasaran kebejatan Delta.
Setelah tiba di rumah, Rania pun segera mengurung diri di dalam kamar, tak sekali pun wanita itu beranjak dari ranjang. Kecewa, itulah yang di rasakan oleh wanita hamil itu, bagaimana tidak, ia yang sudah berdamai dengan masa lalu nya dan perlahan menerima pria itu menjadi bagian dari hati ny, tapi apa balasan pria itu, ia kembali menorehkan sebuah luka yang teramat sakit di hati wanita hamil itu.
Bodoh kamu Rania, kau begitu percaya kepada pria yang nyata nya hanya menjadikan kamu sebagai pelampiasan nya saja, kau wanita bodoh yang begitu lemah hingga dengan suka rela memberikan wewenang kepada pria itu untuk menjamah tubuhmu lagi.
Berulang kali Rania membenturkan kepala nya ke dashboard ranjang. Hingga ia tak menyadari kedatangan bi Lin yang entah sejak kapan sudah masuk ke dalam dan menyaksikan keadaan nya yang begitu menyedihkan.
"Nyonya, apa yang anda lakukan? kenapa anda menangis?" tanya bi Lin yang merasa kasihan melihat kondisi Rania yang tampak menyedihkan. Wanita paru baya itu pun perlahan mendekati raga Rania.
Tanpa rasa sungkan, ia mendekap tubuh Rania ke dalam pelukan hangat nya. Ia tidak tau apa yang terjadi, tapi melihat keadaan majikan nya yang seperti sedang terpukul membuat hati nya begitu perih.
"Apa yang terjadi? kenapa Nyonya seperti ini?" tanya bi Lin dengan lirih nya, wanita paru baya itu pun dapat merasakan tubuh bergetar wanita hamil tersebut.
"D-delta bi, Delta selingkuh. Keberangkatan nya pagi tadi bukan semata mata karena ada masalah di hotel cabang, melainkan ia menemui selingkuhan nya." jelas Rania dengan tangisan nya.
"Tenang lah, Nyonya. Tuan tidak mungkin melakukannya. Tuan sangat mencintai Nyonya, bibi dapat melihat kesungguhan saat Tuan menatap Nyonya." ujar bi Lin meyakinkan majikan nya.
__ADS_1
"Aku harus apa bi? bukti-bukti itu begitu nyata, terpampang jelas wajah Delta yang tersenyum bahagia bersama wanita itu di atas ranjang." lirih nya lagi.
"Nyonya tidak perlu melakukan apapun, Nyonya hanya perlu menunggu kedatangan Tuan dan membicarakan semua nya dengan kepala dingin. Ikutlah bersama bibi ke ruang makan, jam makan malam sudah lewat sejak setengah jam yang lalu, kasian dede bayi nya belum di beri asupan apapun." bujuk bi Lin sambil mengelus perut buncit Rania dengan sayang.
Seperti tersadar dari mimpi buruk nya, Rania pun mengusap lembut perut nya. Meski tidak bernafsu makan, tapi ia tidak boleh egois karena di rahim nya ada sesosok bernyawa yang butuh akan asupan. Ia pun menganggukkan kepala pelan tanpa setuju dengan ajakan bi Lin.
Dengan penuh kehati-hati bi Lin pun membantu Rania turun dari ranjang. Kedua wanita beda usia itu pun mulai melangkah kan kaki menuju pintu.
Maafin Bunda ya, Nak.
Rania pun makan dengan lahap, ia merasa terhibur dengan keberadaan Sandra dan juga Nadin yang ikut makan bersama nya. Setelah makanan nya habis, Rania pun segera pamit kepada Nadin dan juga Sandra.
Di dalam kamar, wanita hamil itu pun merogoh ponsel yang berada di dalam tas selempang nya, tak ada notifikasi apapun di layar ponsel nya. Wanita hamil itu mencoba menepis segala nya, kali ini ia berniat menghubungi suami nya melalui panggilan telpon.
Panggilan pertama tidak di angkat, ia pun mencoba kembali mendial nomor suami nya. Meski lama di angkat, tapi akhir nya panggilan vidio itu pun di angkat.
"Di mana Delta?!" tanya Rania dengan dingin nya pada sosok wanita di layar ponsel nya.
"Delta saat ini sedang di kamar man-.." belum usai wanita itu menjawab Rania langsung menyelanya.
"Katakan pada nya untuk segera menghubungi saya!" potong Rania dengan penuh kemarahan, setelah nya ia pun segera memutuskan sambungan telpon vidio itu sepihak.
Aku harap kau tidak mengecewakan ku, Mas. Jika itu terjadi maka aku akan segera menggugat cerai dirimu, dan aku pastikan kau tidak akan menemukan keberadaan ku untuk kedua kali nya.
Sekeras janji nya, sekeras itu pula cengkraman tangan nya pada selimut yang ada di samping nya. Tiga jam berlalu sejak Rania menghubungi Delta dan meminta Jasmine untuk menyuruh Delta menghubungi nya, namun hingga larut malam tak ada satu pun notifikasi pesan atau pun panggilan dari suami nya.
Hari pun berlalu dengan cepat nya, sudah satu minggu berlalu, tak sekali pun Delta mengabari istri nya tersebut. Sungguh Delta sangat keterlaluan, ia yang semula berjanji jika perjalan bisnis nya hanya memakan waktu tiga hari lama nya, tapi pada kenyataan nya sudah satu minggu berlalu dan pria itu tak kunjung kembali, apalagi mengabari istrinya.
__ADS_1
Rasa marah dan kecewa kian menyeruak di hati wanita hamil itu. Apakah sesibuk itu hingga tak sempat mengabari istri nya? pertanyaan-pertanyaan itulah yang ada di kepala Rania.
Tepat pukul sembilan pagi, Dania datang dan mengajak menantu nya untuk kontrol kehamilan dan Rania merasa senang dengan kedatangan sang mertua. Bi Lin tersenyum bahagia saat melihat kedatangan sang Nyonya besar ke rumah Nyonya muda nya.
Setidaknya dengan kehadiran Nyonya besar pikiran Nyonya muda bisa sejenak teralihkan.
"Mom, kok dateng nya nggak ngabarin Rani sih." seru Rania sambil memeluk tubuh Ibu mertua nya dengan manja.
Mendapat pelukan manja dari menantu nya, Dania merasa bahagia dan senang, pasalnya berapa kali mengunjungi menantu nya itu, selalu saja ada kecanggungan di antar mereka.
"Ponsel Mom ketinggalan di rumah, jadi nggak sempat ngabarin sayang. Jadwal kontrol nya hari ini kan?" tanya Dania sambil mengelus rambut kecoklatan Rania dengan penuh kasih sayang.
"Mom mau kan temenin Rani kontrol kandungan?" tanya Rania tanpa mau melepaskan pelukan hangat dari Ibu mertua nya itu.
"Iya dong, Mom juga pengen tau perkembangan cucu Mom. Mau pergi sekarang?" kali ini Dania bertanya.
"Ya udah, ayo Mom." balas Rania.
Kedua wanita beda usia itu pun berlalu meninggalkan rumah setelah berpamitan kepada bi Lin. Setelah mengikuti serangkai prosedur rumah sakit dan bertemu dokter dokter kandungan, kedua wanita itu pun berlalu meninggalkan rumah sakit, dan kali ini Dania mengajak Rania ke salah satu restoran milik sahabatnya.
Setiba nya di sana, kedua nya sudah di sambut antusias oleh seorang wanita cantik, yang tak lain adalah sahabat Dania selaku pemilik restoran tersebut.
"Hay Pretty, apa kabar kamu?" sapa Dania pada sahabat nya sambil bercipika cipiki pipi kiri pipi kanan.
"Aku baik Dan. Oh iya siapa wanita cantik ini?" tanya wanita itu saat melihat sosok Rania yang berdiri di samping Dania.
"Ini Rania menantu ku yang aku ceritain waktu itu." jawab Dania sembari memperkenalkan Rania pada sahabat nya.
__ADS_1
Rania pun menyalami wanita itu dengan takzim. Mendapat perlakuan seperti itu dari menantu sahabat nya membuat wanita paru baya itu berdecak kagum, senyum pun kian menghiasi wajah Pretty.