Istri Paksa Tuan Mafia

Istri Paksa Tuan Mafia
55. Alden si pembuat onar


__ADS_3

Lethisa dan Dania pun mengikuti para perawat yang membawa anak dan cucu mereka ke ruangan yang sudah di siapkan. Burack dan Ashraf tak serta merta mengikuti mereka, kedua pria itu kembali menghampiri Delta, mereka ingin memastikan kondisi Delta terlebih dahulu, karena sejak tadi pria itu terus saja mual.


"Nak, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Ashraf sambil mengusap punggung belakang sang anak.


"Tidak apa-apa Dad, kalian jangan khawatir, Delta hanya nggak kuat saja melihat darah yang keluar dari jalan lahir Rania, Delta takut sesuatu hal yang buruk terjadi kepada mereka bertiga. Delta tidak bisa membayangkan jika satu di antara mereka nggak selamat, terlebih Rani tadi sempat memejamkan matanya cukup lama." lirih Delta dengan ketakutan yang amat besar.


"Sudah jangan di pikirkan lagi, Rani dan kedua anak kembar kalian baik-baik saja sekarang." ucap Ashraf menenangkan sang anak.


Setelah berhasil menenangkan Delta ketiga pria itu pun mulai melangkah kan kaki mereka meninggalkan ruang tunggu. Mereka pun kembali berkumpul di bangsal pasien, pandangan Delta tertuju pada sosok wanita yang sedang terlelap di ranjangnya, ia pun melangkah kan kaki nya mendekati raga sang istri.


Delta berulang kali mengecup dahi Rania, tak dapat di pungkiri jika hati nya begitu bahagia ketika tau jika anak mereka bukan hanya satu melainkan dua, tapi ada perasaan khawatir saat melihat sang istri yang masih betah memejamkan mata nya sejak tadi.


"Mom kenapa Rani nggak bangun juga? udah dua jam berlalu sejak mereka di pindahkan kesini, ada apa ini Mom?" tanya Delta dengan jantung berdebar tak karuan.


Ke empat paru baya itu pun tampak panik ketika mendengar seruan Delta, tanpa pikir panjang Burack segera melangkah keluar memanggil dokter. Tak berselang lama Burack pun kembali dengan di ikuti beberapa dokter beserta perawat di belakang nya.


"Tuan, tolong keluar, biarkan dokter memeriksa keadaan Nyonya Ammar." pinta sang suster kepada Delta dan lainnya.


"Lakukan yang terbaik, jika kalian tidak ingin rumah sakit ini rata dengan tanah!" seru Burack dengan sorot mata tajam nya sebelum ikut melangkah bersama yang lainnya.


Ashraf hanya menggeleng tak percaya dengan ucapan besannya yang selalu saja mengancam para dokter dan perawat.


Di lain tempat, ada Galfin yang sudah tak sadarkan diri setelah di pukul dengan membabi buta oleh anak buah lawan bisnis mereka yang tak lain ialah Barack.


"Cari di seluruh rumah sakit, temukan keberadaan Rania sebelum Tua bangka itu menemui mereka di sana!" titahnya dengan tatapan tajam kepada para anak buahnya.


"Bos, saya sudah menemukan rumah sakit Nona muda saat ini, tapi situasi di sana menyulitkan kita untuk masuk, terlebih Tuan besar sudah mengerahkan seluruh pengawal nya berjaga dengan ketat." jelas sang asisten.


"Kita kesana sekarang!" ajak nya dengan seringai licik.


Hampir satu jam lama nya setelah kepergian para dokter, Rania pun sadar. Delta yang sedang melamun belum juga menyadari jika istrinya sudah sadarkan diri. Melihat sang anak yang sudah sadarkan diri, Burack maupun Lethisa mendekati ranjang.

__ADS_1


"Alhamdulillah kamu udah sadar, sayang." seru Burack serempak dengan sang istri.


Delta pun tersadar kala mendengar ucapan syukur mertuanya, ia pun perlahan menatap manik mata sang istri dengan lekatnya.


"Mau minum?" tanya Delta, Rania pun mengangguk lemas.


Dengan cekatan Delta pun membantu Rania bangun dan memberikan segelas air yang di ambil Lethisa.


"Anak kita mana, Mas?" tanya Rania saat tidak mendapati kedua bayi kembarnya.


"Sebentar lagi pasti di bawah kesini." balas Delta.


Ruangan yang tadinya sunyi senyap kini menjadi riuh kala kedatangan para sahabat Delta. Dania bersama Lethisa hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah para sahabat Delta.


"Astaga, sekali colok saja kau sudah mendapatkan dua sekaligus, sungguh bibit yang unggul!" celetuk Alex tanpa dosa.


Mendengar itu Garan memukul kepala Alex menggunakan map yang ada di tangannya, pria itu pun melotot tajam ke arah sahabat laknat nya.


"Emang kenyataannya gitu kok!" timpal Alex lagi.


Perdebatan di antara mereka terhenti kala ketukan pintu menginterupsi mereka, Burack pun mempersilahkan masuk.


"Masuklah!" seru nya dari dalam.


Seorang pria dengan tubuh tinggi, berjalan masuk sambil membungkuk sopan ke arah semua orang yang ada di ruangan itu, Rania begitu terkejut melihat siapa sosok yang datang saat ini, ia menatap tajam pria itu. Sungguh ia tidak ingin ada orang yang mengetahui identitasnya yang sebenarnya.


Delta maupun yang lainnya saling melempar pandang, pasalnya tak satu pun dari mereka yang mengenal pria tersebut. Kini semua mata menatap ke arah Rania yang terlihat gugup.


"Ada apa? apa kamu mengenalnya?" tanya Alex yang menyadari jika saat ini istri sahabat nya itu terlihat gugup dan gelisah.


"Hey, ayolah. Kau tak perlu lagi menyembunyikan apapun dari mereka, aku sudah kembali, mari akhiri semua drama ini!" seru pria itu dengan begitu santai nya.

__ADS_1


"Diam, Al! pergilah, aku akan menemui mu tiga hari lagi!" usir Rania yang geram dengan tingkah laku Alden.


"Apa kamu takut jika suami dan seluruh orang yang ada di sini tau siapa kamu sebenarnya? tanya pria itu dengan menaik turunkan alis nya.


Astaga, Alden. Andaikan tidak ada orang di sini, sudah aku pastikan kau akan ku tembak mati, dasar pria menyebalkan!


"Jangan menggerutu, Ra. Aku hanya ingin menjenguk mu saja, dan ya, sebentar lagi aku akan kembali ke Kota H, ini hadiah untuk kedua putra-putri mu sebagai ucapan selamat datang." seru sang pria berjalan mendekati ranjang Rania sambil menahan tawa nya saat melihat wajah kesal Rania.


"Terima kasih!" ketus Rania dengan tatapan tajamnya.


Semua orang yang berada di ruangan itu hanya diam mengamati Rania dan pria itu, ada banyak sekali pertanyaan yang ingin mereka tanyakan kepada Rania tapi urung mereka tanyakan karena pria itu masih ada di sana.


"Al, pergilah! jangan buat kegaduhan di sini." bisik Rania saat pria itu tanpa dosa memeluknya.


"Suami mu boleh juga, apa aku boleh mencicipinya?" tanya pria itu tanpa dosa.


Rania hanya memutar bola mata nya malas, ia pun mendorong tubuh Alden.


"Berhentilah bicara omong kosong, Al! dan cepatlah pergi dari sini sebelum aku lepas kendali!" ancam Rania dengan senyum devil nya.


"Ya sudah aku pergi, tapi pertimbangkan apa yang baru saja aku bisik kan kepada mu, baby." seru nya lagi dan berlalu keluar dari ruangan tersebut dengan gelak tawanya yang seperti orang gila.


Rania berdecak kesal, ia yakin setelah ini ia pasti akan di interogasi oleh semua orang yang ada di depannya. Rania bergidik ngeri saat mendapati semua orang menatap nya dengan tatapan tajam, tak terkecuali suami nya yang menyorot nya dengan tatapan membunuh. Tak ingin terjebak dengan permainan gila Alden, Rania pun menjelaskan.


"Pria itu sahabatku, kami berteman sejak duduk di bangku kuliah, dia bukan pria normal seperti pria pada umumnya, dia seorang gay." jelas Rania jujur.


"What? kau tidak sedang berbohong kan, Ra?" tanya Alex tak percaya.


"Kenyataan nya memang seperti itu kok, jika tidak percaya, lihatlah ini." ucap Rania sambil menyodorkan ponselnya.


"Oh astaga, kenapa pria setampan dirinya bisa berbelok arah sih!" tanya Garan dan Alex bersamaan saat melihat beberapa potret pria tersebut dengan seorang pria yang saling memeluk begitu eratnya.

__ADS_1


__ADS_2