
Galfin pun menyunggingkan seutas senyum kala melihat wajah kesal Selia. Entah mengapa ia sangat ingin mengukung tubuh wanita itu saat ini, ada rasa rindu kala melihat wanita itu saat ini. Tak ingin berlama lama berdiri di depan pria itu Selia akhirnya memilih berlalu ke kamarnya menyisakan Ayah dan Anak itu.
"Uncle minumlah, maaf di rumah Jihan hanya ada ini." cicit gadis cantik itu.
"Tidak apa, Uncle juga sudah lama tidak di suguhkan teh hijau seperti ini." balas Galfin sambil melirik ke arah Selia.
"Oh iya, Uncle hampir lupa dengan kedatangan Uncle kesini. Liontin kamu ketinggalan di mobil Uncle, karena Uncle belum terlalu jauh Uncle memilih mengantarkan nya kembali kepada kamu." seru Galfin lagi menjelaskan maksud kedatangan nya sembari menyodorkan liontin tersebut.
"Uncle terima kasih, Jihan nggak tau bagaimana jika sampai liontin ini hilang, ini liontin satu-satu yang di berikan Ibu kepada Jihan, Ibu berkata jika Jihan harus menjaga liontin ini dengan baik karena liontin ini ialah identitas Jihan yang sebenarnya." jelas gadis itu dengan mata yang sudah berkaca kaca.
Deg
Tubuh Galfin seketika membeku, entah mengapa perkataan gadis remaja di depannya berhasil menggelitik relung hatinya. Namun sebisa mungkin Galfin merubah ekspresi wajahnya kembali datar.
"Maaf jika Uncle tidak sopan, emang ada apa dengan identitas kamu?" tanya Galfin yang mulai merasa ada sesuatu yang coba di sembunyikan oleh Selia terlebih mendengar makna dari liontin pemberiannya belasan tahun lalu.
"Kata Ibu, liontin ini ialah liontin terakhir pemberian Ayah sesaat sebelum kepergian Ayah yang tak kunjung kembali hingga saat ini." jelas Jihan dengan tubuh bergetar.
"Apa kau tau siapa nama Ayahmu?" tanya Galfin.
"Maaf Tuan, seharusnya anda tak menanyakan privasi keluarga kami terlalu dalam. Jihan masuk dan istirahatlah." potong Selia cepat.
"Baik Bu. Uncle maaf Jihan pamit ke dalam dulu, ini sudah waktunya Jihan tidur. Selamat malam Uncle." pamit Jihan.
Setelah melihat punggung kecil Jihan yang menghilang di balik pintu, Galfin pun bangkit dari duduk nya, dan melangkah mendekati Selia.
"Mengapa liontin yang aku berikan kepadamu, ada pada Jihan? Siapa Jihan?" tanya Galfin sembari mencengkram pergelangan tangan Selia.
"Siapa Jihan, itu bukan urusanmu! Dan satu lagi, mengenai liontin itu, itu bukan liontin milik anda Tuan, itu liontin pemberian Ayah Jihan, jadi anda tak perlu repot-repot mengurusi urusan privasi keluarga kami." balas Selia dengan raut datarnya.
__ADS_1
"Anda sudah mendapatkan jawaban nya, maka dari itu, pergilah dan aku berharap ini kali terakhirnya anda berhubungan dengan Jihan." lanjut Selia lagi dan segera menepis tangan Galfin dengan kasarnya.
"Baiklah jika kau tak ingin jujur, tapi ingatlah Sel, jika kau kedapatan membohongiku mengenai siapa Jihan kau akan menerima akibatnya." ancam Galfin dengan sorot mata tajamnya.
Setelah mengatakan itu, Galfin pun segera meninggalkan kediaman Selia. Dengan tubuh bergetar, Selia pun perlahan menutup pintu rumahnya. Tubuh wanita dewasa itu perlahan merosot ke lantai. Tangis yang sejak tadi di tahannya akhirnya tak bisa di bendung lagi.
'Maafkan aku, Gaf. Tapi aku terlalu takut untuk mengungkapkan kebenaran ini, aku takut mendengar penolakanmu, di lain sisi juga aku takut kau membawa Jihan pergi dariku, hanya Jihan kekuatanku untuk tetap hidup.'
*****
Di lain tempat seorang gadis cantik baru saja menyelesaikan rutinitas malamnya, namun baru saja ia hendak membaringkan tubuhnya, terdengar dering ponselnya berdering dan terlihat jelas nama Militto di layar ponselnya.
[ Bos, sepertinya negosiasi mereka gagal, pihak bawah tanah seolah sengaja membuat perjanjian yang tidak masuk akal.] lapor Millito dari seberang sana.
Kening gadis cantik itu menyeringit, wajah nya tanpa ekspresi dan aura yang di pancarkan begitu menyeramkan.
[ Mereka melakukan itu? ] tanya sang gadis dengan seringainya.
[ Aku akan kesana. ]
Gadis cantik itu langsung mematikan sambungan teleponnya, dan bergegas bersiap. Setelah nya ia pun perlahan meninggalkan kamarnya, namun sebelum kepergiannya ia meraih laptop dan menyabotase CCTV yang ada di rumah itu untuk ia matikan beberapa saat agar tak meninggalkan kecurigaan para orang mansion saat ia meninggalkan mansion pada dini hari. Setelah selesai menyabotase CCTV, gadis cantik itu pun meraih pistol yang ia simpan di bawah ranjang dan segera keluar dari kamarnya.
Sebenarnya gadis cantik itu merasa malas untuk berurusan dengan dunia bawah tanah secara langsung, tetapi mendengar informasi dari Millito membuat sisi gelapnya meronta-ronta untuk menyekolahkan para tikus tersebut agar mereka tau siapa yang sedang mereka hadapi, ingatan akan peristiwa menyakitkan itu membuat moodnya berantakan, dan dengan cepat pula wajah cantik itu mengeluarkan aura psikopat, sekian lama ia tidak lagi terjun langsung, namun mendengarkan informasi dari Millito membuat ia jadi bersemangat untuk mencurahkan segala isi hatinya dengan menjadikan mereka sebagai samsak.
Dengan langkah mengendap ngendap ia pun berjalan menuju tangga, melihat situasi yang sepi dari para penjaga, gadis itu pun merasa lega dan kembali melanjutkan langkahnya menuju paviliun belakang, di mana tempat yang bisa membawanya keluar dari mansion tanpa ada yang tau.
Pertemuan kali ini berada di salah satu kasino terkenal yang ada di kotanya, kasino itu juga merupakan salah satu milik orang yang sangat di rindukan gadis itu. Setelah berhasil keluar dari area mansion, gadis cantik itu segera masuk ke dalam sebuah mobil sport yang memang sengaja ia parkir di sana dengan di tutupi rerumputan untuk menyamarkan keberadaan mobil nya.
Tak lama gadis cantik itu tiba di kasino, terlihat banyak pria berpakaian casual dengan wajah garang dan tubuh besar menyambut kedatangannya dengan sopan dan hormat.
__ADS_1
"Bos," panggil Millito saat melihat gadis itu tiba.
"Mereka masih bernegosiasi?" tanya sang gadis sambil berjalan dengan di pimpin Millito di sebuah ruangan yang memang di khususkan untuk gadis itu.
"Ya Bos, tapi mereka seperti mempersulitnya. Mereka sepertinya ingin mendapatkan harga tinggi tetapi kualitasnya di bawah yang biasa kita pesan bos." lapor Millito dengan memperlihatkan sebuah layar monitor di mana salah satu anak buah mereka sedang berdiskusi dan bernegosiasi dengan empat orang pria.
Mereka sedang mendiskusikan pembelian anggur merah di mana stok produksi di pabrik gadis itu berada dalam masalah, di karenakan sekarang stok anggur menjadi begitu langkah sehingga gadis itu membeli beberapa stok anggur dengan perusahaan lain, mereka juga memiliki jalur bawah tanah dan sengaja perusahan itu mengirim keempat pria itu untuk berdiskusi dan menawarkan produk mereka pada perusahaan gadis itu.
"Mereka seperti sengaja mengirim para sampah itu," ujar sang gadis dengan seringainya.
Millito setuju dengan pendapat bosnya itu, mereka pikir dengan mengirim orang-orang itu untuk negosiasi membuat gadis itu mengalah begitu saja dan menyetujui penawaran mereka. Namun mereka keliru karena mereka terlalu meremehkan sosok gadis itu yang memiliki jam terbang tinggi di kalangan dunia bawah tanah.
*****
"Di mana Ayla?" tanya seorang pria dewasa yang tak lain ialah Galfin saat memasuki mansion.
"Nona muda sudah masuk ke kamar sejak dua jam yang lalu, Tuan." jelas sang asisten pria itu.
"Bagaimana dengan penyelidikan yang kamu lakukan?" tanya Galfin lagi.
"Semua informasi sudah saya kirimkan ke email anda, Tuan." jelas sang asisten sembari terus mengikuti langkah atasannya yang berjalan menuju ruang kerja pria itu.
Setibanya pria itu di ruangan kerjanya, ia pun segera menghidupkan laptop untuk memeriksa informasi yang telah di temukan asistennya itu.
Kernyitan terlihat jelas di wajah pria itu kala membaca setiap informasi yang tertera di layar laptopnya, dengan cepat pula pria itu mengalihkan tatapannya ke arah sang asisten.
"Apa kau yakin dengan informasi yang kau temukan ini?" tanya Galfin memastikan.
"Seperti yang anda lihat, semua informasi itu sangatlah akurat. Tiga tahun yang lalu Nona muda menjalin hubungan dengan salah satu pewaris tunggal keluarga Aslan. Dan sejak kejadian naas yang menimpa Tuan muda William, sejak saat itulah Nona muda meminta hak penuh kekuasaan Tuan muda William kepada Tuan besar Aslan dan beliau menyetujui permintaan Nona muda mengambil alih dunia bawah tanah yang di kendalikan oleh Tuan muda William." jelas sang asisten.
__ADS_1
Mendengar penjelasan sang asisten, membuat tubuh Galfin melemas, ketakutan mereka benar-benar terjadi. Bukan Galfin dan Delta tidak tau gelagat Ayla selama ini, namun kedua pria dewasa itu mencoba menepis segalanya karena mereka yakin jika Ayla tidak akan mungkin bergabung dengan dunia bawah tanah karena selama ini gadis kecil mereka itu selalu bersikap absurt dan sangat kekanak-kanakan. Tapi pada kenyataannya mereka terkecoh dengan segala sikap Ayla selama ini.