
Setelah berpikir keras, Ashraf pun mulai menyibukkan diri nya dengan beberapa berkas yang harus di tanda tangani nya. Namun baru saja ia hendak menandatangani beberapa file penting tersebut terdengar sebuah ketukan dari luar ruangan nya.
"Masuk!" seru nya dari dalam.
Tampak sang asisten masuk dengan wajah cemas nya.
"Tuan Besar, Nyonya..."
"Ada apa?" Ashraf segera berdiri ketika melihat kecemasan di wajah asisten nya itu.
"Nyonya Besar, pingsan!"
Dengan langkah besar, Ashraf pun melangkah lebih cepat, ia tau jika akhir-akhir ini istri nya tidak beristirahat dengan baik. Raut kecemasan pun terpampang di wajah tua nya. Hampir 15 menit berlalu, Ashraf pun kini tiba di mansion milik nya, ia turun dengan tergesa-gesa, ia takut hal buruk menimpah Dania.
"Sayang, kamu kenapa?' tanya Ashraf khawatir. Ashraf menghampiri raga istri nya yang sedang terbaring sedih di ranjang.
"Tensi Nyonya Dania mendadak tinggi. Jangan banyak pikiran biar gula darah nya tidak ikut naik." jelas sang dokter keluarga. Dengan cepat nya pun ia menyodorkan beberapa butir obat penurun gula darah.
Mata tajam Ashraf kini tertuju pada satu sosok yang berdiri tak kalah cemas nya dari diri nya.
__ADS_1
"Apa lagi yang ingin kau lakukan? belum puas kah kamu melukai hati Mommy kamu!" serang Ashraf yang sudah di landa kesal dengan anak semata wayang nya hingga istri nya sampai jatuh sakit.
"Sudah, sudah. Mom tidak apa. Jangan marahi Delta lagi." ucap Dania yang kini mengelus lengan suami nya.
"Nak, tolong pertimbangkan ucapan Mom barusan ya. Jangan lari dari tanggung jawab, selama kau pergi, Rania hidup dalam kesusahan, ia bolak-balik ke rumah sakit tanpa ada pendamping di sisi nya. Sekuat tenaga kamu menolak nya, itu semua nggak bakalan merubah kenyataan yang ada. Janin yang ada di rahim Rania adalah anak kamu, dan itu cucu Mommy dan Daddy." ucap Dania lagi, menjabarkan keseharian Rania selama beberapa bulan terakhir.
"Mungkin di luaran sana kamu terkenal dengan tangan dingin ataupun keangkuhan kamu, tapi nyata nya kau hanyalah pecundang yang lari dari tanggung jawab." sindir Ashraf yang sudah mulai tersulut emosi ketika sang istri memohon kepada anak nya.
"Sudahlah Ashraf, mungkin Delta perlu waktu untuk memikirkan semua ini. Kalian keluarlah aku ingin istirahat." usir Dania yang sudah tidak tahan berhadapan dengan kedua pria yang di cintai nya.
Delta diam mematung, ia tidak dapat membalas setiap cecaran dari kedua orang tua nya. Ia mengaku salah dengan tindakan nya beberapa bulan yang lalu, namun untuk saat ini, Delta tidak bisa karena diri nya sedang dekat dengan seorang model papan atas di Kota C, hubungan nya dengan gadis tersebut pun tidak main-main, Delta sering menghabiskan malamnya bersama gadis tersebut dengan bermain hasrat, meski sebenarnya gadis tersebut hanyalah pelampiasan nya saja untuk melupakan malam di mana diri nya menyiksa dan menyetubuhi Rania kala itu. Bayang-bayang wajah Rania selalu saja menghantui diri nya. Rasa bersalah yang besar sering kali muncul saat diri nya duduk termenung.
"Sayang, maafkan Bunda ya. Bunda sering kali melupakan jika di dalam sini, ada kamu, Nak." gumam Rania dengan satu tangan terulur pada perut nya. Gadis itu pun mengelus lembut permukaan perut nya sebelum ia melanjutkan menyelesaikan pekerjaan nya.
Tepat pukul lima sore, Rania yang sudah ada janji temu bersama salah seorang klien pun segera bersiap-siap, ia takut jika keterlambatan nya dalam pertemuan ini, membuat sang klien marah dan tidak mau melanjutkan kerja sama lagi bersama perusahan tempat nya bekerja.
Setelah menatap pantulan wajah nya di depan cermin dan merasa make up nya tidak belepotan, Rania menyunggingkan sebuah senyum, dan segera meraih beberapa berkas yang akan di bawahnya.
Tanpa terasa taksi yang di tumpangi Rania pun berhenti di salah satu restoran ternama di Kota A. Rania pun turun dan tak lupa memberikan ongkos kepada sang supir taksi.
__ADS_1
"Nona, uang nya terlalu banyak." ucap sang supir yang kaget di berikan tiga lembar uang oleh Rania.
"Ambil aja, Pak. Mungkin itu udah rejeki Bapak." balas Rania tulus dan berlalu pergi.
"Terima kasih, Nona." teriak sang supir yang merasa bersyukur di pertemukan dengan penumpang seperti Rania.
Dengan langkah tergesa-gesa Rania pun mempercepat langkah nya, ia mengedarkan pandangan nya mencari sosok yang mungkin sudah menunggu nya sejak tadi namun ia tak menemukan sesosok tersebut di meja yang sudah di reservasi oleh Medina asisten nya. Rania pun memperlambat langkah nya menuju meja tersebut. Ia berharap sang klien tidak pergi sebelum kedatangan nya. Rania pun memilih duduk dan membuka lembaran demi lembaran draf untuk ia pelajari lebih dalam.
Sudah lima belas menit berlalu, sesosok yang di nanti nya sejak tadi tak kunjung datang, Rania merasa frustasi, pasal nya kontrak ini menjadi acuan untuk tim nya mendapatkan predikat terbaik di perusahan. Rania pun tertunduk lesu mengingat anggota tim nya yang akan sangat kecewa dengan kerja keras mereka selama hampir tiga bulan ini menjadi sia-sia karena diri nya yang tidak konsisten menangani satu klien besar mereka.
Rania memilih menunggu sebentar, ia yakin jika klien nya pasti dalam perjalanan. Hingga pada detik berikut nya seseorang menyapa nya dengan sopan.
"Apakah anda perwakilan dari Ammar Group?" tanya seorang wanita dengan sopan yang di yakini Rania jika wanita tersebut adalah seorang sekertaris perusahan yang di nanti nya sejak tadi.
"Saya Rania Khumala Sari, saya perwakilan Ammar Group. Apakah anda..?" jelas Rania memperkenalkan.
Baru saja wanita itu ingin menjawab, tiba-tiba terdengar seseorang menyela ucapan wanita tersebut.
"Saya mohon maaf karena tidak on time dalam pertemuan ini." baritone itu berhasil membuat tubuh Rania membeku hebat, Rania sangat hafal dengan suara yang sangat di kenali nya itu. Seketika pria itu berjalan dan menarik kursi yang berada di seberang Rania.
__ADS_1
Kedua manik mata mereka saling beradu satu sama lain, Rania tak dapat membendung bulir air mata kala menatap sesosok di depan nya. Namun dengan cepat nya ia mengalihkan pandangan nya dan mengusap kasar bulir air mata tersebut.