
Rania berhasil mengalahkan puluhan anak buah Barack, wanita itu menjelma menjadi seorang malaikat pencabut nyawa, semua yang menyaksikan kebengisan Rania hanya biasa terdiam. Sahabat dari organisasi Rania sendiri tercengang dan tak menyangka jika Rania memiliki sisi gelap seperti saat ini.
"Aku tak yakin jika Zi akan melepaskan Barack setelah apa yang terjadi menimpah Brian." seru Alden saat melihat sorot mata penuh kemarahan Rania yang tak pernah di lihatnya selama mengenal wanita itu.
"Entahlah, semoga saja Zi masih memiliki belas kasih, bagaimana pun Barack ialah Paman nya sendiri ia tidak mungkin setengah itu menghabisi nyawa Pamannya." timpal Jery penuh keyakinan.
"Damn! Zi sudah memulai misinya, ayo cepat keluar sebelum sesuatu di luar kendali kita." seru Alden penuh kepanikan.
Mendengar itu Jibril segera keluar dan berlari memasuki mansion mewah Brian, beberapa pria bertubuh besar terlihat berdiri membuat satu formasi menghadang dirinya, tanpa pikir panjang Jibril segera menembak para pria itu.
Dari arah yang tidak terlalu jauh tampak Delta dan lainnya ikut menembaki para pria itu. Di dalam rumah mewah itu, Rania sedang menyelesai kan misi terakhirnya. Setelah berhasil menyekap Barack, Ibu dua anak itu kini sibuk bermain di depan komputer yang berada di salah satu ruang rahasia milik Brian.
Sorot mata wanita itu kian mengelap kala apa yang ia cari telah ia temukan, ada rasa bersalah saat dirinya dengan tidak sengaja menuduh Brian menjadi dalang dari hilang nya beberapa aset kekayaan negara.
Maafkan aku, Ian. Aku janji akan segera mengembalikan nama baik mu seperti sedia kala. Akan aku pastikan Millen Gustaf menerima akibat dari perbuatannya.
Tangan nya begitu lihai bermain di papan keyboard, setelah berhasil menyalin semua file penting tersebut, Rania segera menghapus log data bass yang baru saja di akses olehnya.
Sudah cukup kau bermain-main selama ini Millen! tunggu serangan ku, kehancuranmu akan segera tiba!
Max memerintahkan puluhan anak buah nya untuk mempersiapkan acara pemakaman untuk Brian di mansion utama yang berada di hutan anggur. Max beserta beberapa anak buah lainnya sedang bersiap pergi ke hutan anggur sesuai perintah Rania untuk menunggu nya di sana. Awal nya Max menolak dan memilih memerintah kan para anak buah nya untuk pergi terlebih dahulu membawa jasad Brian, sedangkan dirinya akan tetap berada di samping Nyonya baru nya itu demi menepatinya janji nya kepada Brian untuk selalu menjaga keamanan wanita itu.
Tapi Rania tetaplah Rania. Wanita itu tetap pada pendirian nya, ia tidak mempercayai orang lain untuk mengurus jasad Brian, terlebih selama ini ia hanya mempercayai Max seorang. Setelah perdebatan yang cukup alot, akhirnya Max mengikuti perintah Rania dan pergi meninggalkan mansion itu terlebih dahulu.
Dengan bantuan beberapa anak buahnya, Max beserta dua anak buah lainnya telah meninggalkan mansion tersebut menggunakan helicopter milik Brian.
__ADS_1
Setelah berhasil menuntas habis para bodyguard Barack, mereka semua pun segera berlari memasuki lobby utama mansion. Jibril dan lainnya tampak terbelalak melihat apa yang sedang di lakukan Rania. Jantung mereka seakan berhenti melihat kesadisan Rania saat ini tak terkecuali Delta sendiri yang tak menyangka jika istrinya memiliki sisi gelap seperti dirinya.
"Zi, hentikan! jangan kotori lagi tangan mu, biarkan hukum yang menindak lanjuti Barack." ujar Jibril menenangkan Rania dari kebengisannya.
Pergerakan Rania terhenti kala mendengar seruan sahabat nya, wanita itu perlahan lahan mendongakkan wajah nya menatap orang-orang terdekatnya, namun rasa bersalah yang besar kepada Brian membuat Rania mengabaikan ucapan sahabatnya.
Wanita itu terus saja memukul wajah Barack dengan kemarahan yang sudah tak bisa di bendung lagi.
Bugh! Bugh! Bugh!
"Jangan pernah berpikir jika kamu akan terbebas dari ku, Paman. Sekalipun kita memiliki ikatan darah, semua itu tidak akan merubah apapun! kematian Brian akan aku balaskan meski nyawaku taruhannya!" seru Rania dengan perasaan yang campur aduk.
Deg!
"Apa kau mencintainya?" tanya Delta dengan debaran jantung yang tidak karuan.
Rania hanya mengulas, wanita itu tak langsung menjawab pertanyaan suaminya. Ada rasa bahagia dalam hatinya kala mendengar pertanyaan suaminya yang tidak seharusnya di tanyakan.
"Tanyakan itu pada hatimu, Mas." balas Rania singkat dan padat.
Ada rasa kecewa saat mendengar jawaban istrinya, ingin rasa nya Delta pergi saat itu juga, tapi janji yang telah ia ucapkan di depan keluarga membuat ia urung melakukannya.
"Apa yang di katakan Jibril benar ada nya, mari pulang, biarkan Jibril dan lainnya mengurus sisanya." ajak Delta.
"Maaf, aku tidak bisa ikut bersamamu, Mas. Kalian kembali lah terlebih dahulu, jangan khawatirkan aku." tolak Rania.
__ADS_1
Penolakan Rania membuat hati Delta bertambah sesak, tebakan pria itu nyatanya terbukti, jika sang istri pasti akan menolak ajakan nya untuk pulang.
"Jangan berpikir terlalu jauh Mas, aku hanya ingin mengantar Ian ke peristirahatan terakhirnya sebagai bentuk penebusan rasa bersalahku selama ini kepadanya." ujar Rania seperti tau apa yang sedang di pikirkan suaminya itu.
Tepat saat Delta hendak menimpali ucapan istrinya, suara langkah kaki terdengar mendekati mereka, tampak Burack, Ashraf dan Benedict beserta belasan pria berjas berjalan mendekati mereka.
Bola mata ketiga pria itu melebar sempurna kala melihat apa yang terjadi. Perlahan Burack melangkah mendekat ke arah Rania, namun belum sempat pria itu mendekat Rania segera menggelengkan kepalanya.
"Menjauh lah Ayah, pria ini tidak memiliki masalah dengan Ayah ataupun Kakek, masalah pria ini bersama Rania, jadi Rania mohon untuk tidak mendekat." cengah Rania penuh dengan penegasan.
"Ayah mohon ampuni Barack, bagaimana pun Barack adik Ayah terlepas dari segala kejahatannya. Biarkan hukum yang bertindak, jangan kotori tangan mu." bujuk Burack dengan sorot mata penuh kesedihan.
"Hukum tidak akan membuat pria serakah ini jengah! jadi biar Rania menyelesaikan semua nya tanpa campur tangan Ayah, Kakek dan lainnya." ujarnya kembali.
"Lakukan apapun yang menurut kamu benar, Kakek akan mendukung segala keputusan kamu, balaskan segala kesakitan yang kamu rasakan karena pria brengsek itu!" seru Benedict penuh dengan amarah dan kebencian.
Kematian sang istri membuat Benedict menutup mata untuk mengakui Barack ialah darah dagingnya sendiri.
"Apa yang Papah katakan? Pah, Burack mohon maafkan Barack, apapun yang ia lakukan di masa lalu tak seharusnya Ayah membenci Barack seperti ini. Jangan dengarkan ucapan Kakek, Nak." mohon Burack dengan menangkup kedua tangannya di depan dada.
Mengapa kau membelaku, Kak? seharusnya kau membiarkan aku menerima ganjaran dari apa yang telah aku lakukan selama ini. Setelah apa yang aku lakukan kau masih saja bersikap baik terhadapku. Rasa iri dalam diriku membuat aku jauh dari kasih sayang yang begitu tulus darimu kak. Maafkan aku kakak.
"Tidak! anak tak tau di untung ini harus menerima konsekuensi atas segala tindakan nya. Maaf, permohonan mu, Papah tolak!" tolak Benedict dengan tegas.
Meski ucapannya penuh dengan penegasan tapi jauh di lubuk hatinya yang terdalam ada rasa tidak tega melihat sang anak yang tampak menyedihkan.
__ADS_1