
Flashback Off
Maafkan aku Delta, aku hanya ingin meneruskan amanah Lethisa dan Burack untuk terus menyembunyikan identitas Rania. Aku menyayangi Rania seperti anak ku sendiri.
Dengan langkah cepat, Julio pun meninggalkan mansion Delta.
"Cari informasi mengenai masa lalu Julio, segera." titah nya kepada Galfin.
"Siap Tuan." balas Galfin, setelah nya ia pun memutus sambungan tersebut.
Rania yang sedang duduk bersantai di ruang tamu di kaget kan dengan kedatangan sang mertua.
"Selamat pagi sayang." sapa wanita paru baya dengan tersenyum manis.
"Selamat pagi juga, Mom." balas Rania dengan menghampiri sang mertua dan mencium punggung tangan wanita paru baya itu.
"Nak, bagaimana perkembangan cucu, Mom? apa kalian baik-baik saja?" tanya Dania sembari mengelus perut besar Rania.
"Alhamdulillah Mom, dede bayi nya baik. Maafkan Rania ya Mom nggak sempat mengunjungi Mom beberapa hari yang lalu." sesal Rania karena tidak jadi mengunjungi sang mertua akibat kedatangan wanita ular itu.
"No, Mom yang seharusnya kesini mengunjungi kalian. Apa Delta berlaku baik sama kamu sayang?" tanya Dania lagi ingin memastikan.
"Alhamdulillah Delta baik kok, Mom." balas Rania jujur.
"Syukurlah. Jika Delta berlaku tidak baik jangan sungkan mengadukan anak nakal itu ke Mom maupun Daddy, okey!" Dania lagi-lagi menunjuk kan kasih sayang nya kepada Rania.
"Mom bisa temenin Rania nggak buat beli perlengkapan bayi?" tanya Rania takut-takut.
__ADS_1
"Dengan senang hati, sayang." balas Dania dengan wajah berbinar, ia sudah sangat menantikan hari ini.
Kedua wanita itu tampak bahagia mencari perlengkapan bayi, menempuh perjalanan yang tidak cukup lama akhirnya kedua nya sudah tiba di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota A. Mereka tampak tak seperti mertua dan menantu karena Dania tak segan-segan memeluk Rania layak nya anak kecil yang tidak boleh jauh dari Ibu nya. Rania mengulum senyum kala di perlakukan sebaik itu oleh Dania.
"Sayang, nanti kamar baby nya di satuin aja kali ya dengan kamar kalian." saran Dania, ia ingin Rania maupun Delta berada dekat dengan anak mereka agar kedua nya bisa mengontrol si kecil.
"Mau nya gitu sih Mom, tapi keputusan ada di Delta juga, Nia nggak mau ambil keputusan tanpa berunding dulu sama Delta." balas Rania.
"Ya udah, sepulang dari sini kita temui Delta di kantor nya, bagaimana?" tanya Dania lagi.
"Rani ikut aja, Mom." balas nya dan kembali memilih beberapa pakaian bayi.
Kedua nya kembali memilih dan melihat lihat aneka perlengkapan bayi, Rania merasa dejavu saat mendapatkan perlakuan baik dari Dania. Seorang anak akan merasakan kebahagian luar biasa saat keluarga nya lengkap, namun selama ia hidup, tak sekalipun ia tau mana nama nya kasih dan sayang dari seorang Ibu, ia benar-benar merasakan kasih sayang dari seorang Dania.
Dari kejauhan tapi masih di tempat yang sama, ada beberapa pria berjas hitam dan seorang pria bermanik mata kecoklatan sedang memperhatikan gerak-gerik Rania, kali ini pria itu tidak akan melepaskan mangsa nya, ia bertekad untuk menghabisi pewaris tunggal Hanthony, sudah puluhan tahun ia mencari keberadaan Rania hingga ia akhir nya menemukan gadis itu, baginya gadis itu adalah penghalang untuk tujuan nya menguasai keseluruhan perusahaan dan kekayaan Anthony.
"Kita akan bermain cantik kali ini, ia akan aku jadikan pion untuk menghancurkan Burack!" seru Barack dengan smirk jahat.
Para pengawal tampak saling memandang satu sama lain, merasa bingung dengan ucapan Tuan mereka.
"Awasi saja dari jauh, aku akan memainkan permainan ini." titah nya lagi dan segera berjalan menuju arah di mana Rania duduk.
Entah apa yang akan di lakukan pria itu, dengan kedua tangan yang berada di dalam saku celana ia berjalan dengan gagah dan sedikit sombong, tepat saat berada di depan Rania pria itu mengeluarkan tangan nya dari saku celana.
Rania yang sedang menunduk pun tak sengaja melihat sesuatu yang jatuh di lantai, ia tampak mengedarkan pandangan nya, namun tak seorang pun yang lewat di depan nya, hanya salah seorang pria dewasa, dan Rania yakin lembaran itu milik pria tersebut. Rania pun berjongkok dan mengambil selembar yang di yakini itu adalah sebuah foto. Rania pun membalik kan foto tersebut, ia terkejut melihat siluet yang ada di dalam foto tersebut.
Deg.
__ADS_1
Inikan foto Ayah Hendro dan aku? kenapa pria itu bisa memiliki foto ini?
Tak ingin kehilangan jejak pria itu, Rania pun berbalik dan memanggil pria tersebut.
"Tuan, tunggu!" panggil Rania.
Pria itu pun menghentikan langkah nya, ia tersenyum sinis. Setelah mengatur ekspresi wajah nya, pria itu pun berbalik dan menatap Rania dengan sendu nya.
"Apa anda memanggil saya, Nak?" tanya pria itu dengan suara lirih yang di buat-buat.
"Ini terjatuh dan mungkin ini milik Tuan." balas Rania sembari mendekati pria tersebut, Rania pun menyodorkan foto itu kepada sang pria.
"Iya ini milik saya. Terima kasih banyak, jika anda tidak menemukan foto itu mungkin selama nya saya tidak bisa menemukan keponakan saya, hanya itu petunjuk yang saya miliki." jelas sang pria dengan lirih nya.
"Jika boleh saya tau, siapa anda? dan apa maksud dari ucapan anda mengenai keponakan anda?" tanya Rania yang mulai penasaran.
"Gadis di foto ini adalah Arezha Rania Hanthony dan pria ini ialah Hendro paman dari keponakan saya, sudah 24 tahun saya mencari keberadaan mereka, namun tak kunjung menemukan mereka, andai Tuhan mempertemukan saya dengan mereka, tapi sayang Tuhan tak berlaku adil hingga sekarang." jelas pria itu dengan isak tangis.
Rania awal nya tak percaya, namun melihat kesedihan pria di depan nya, hati nya pun tak tega ada rasa bahagia yang merasuk di relung hati nya, entah apa.
"Tu-.." baru saja Rania ingin berucap, tapi tiba-tiba sang mertua memanggil nya.
"Sayang, Pak Madi sudah menunggu kita di loby bawah, ayok sayang." ajak Dania dengan beberapa paper bag di tangan nya.
'****!!' decak pria itu, ia kesal bukan main dengan wanita yang baru saja mengganggu obrolan mereka.
"I-iya Mom." balas Rania, dan berlalu pergi tanpa meneruskan ucapan nya.
__ADS_1