Istri Paksa Tuan Mafia

Istri Paksa Tuan Mafia
29. Tinggal kan Villa kalian


__ADS_3

Tepat pukul dua dini hari dengan sisa kesadaran nya ia memaksakan kaki berjalan menaiki untaian tangga, ia begitu merindukan Istri dan calon anak nya, dengan perlahan ia memutar kenop pintu, pria yang bersimbah darah itu pun berjalan ke arah ranjang, ia tersenyum melihat begitu lelap nya sang istri yang sedang tidur.


Sebelum melangkah ke arah kamar mandi, ia mendaratkan sebuah kecupan di kening Istri nya. Tepat saat Burack hendak menarik diri nya, tiba-tiba pejaman mata itu terbuka, kedua manik mata mereka terkunci satu sama lain dalam waktu yang lama, hingga Burack yang tak ingin terlihat dalam kondisi yang buruk itu tiba-tiba membuang pandangan nya, dan berlalu pergi, namun baru dua langkah ia berjalan, sebuah lengan menahan nya.


"A-apa yang terjadi?" tanya wanita hamil itu dengan tubuh bergetar kala melihat darah yang menetes di lantai.


Melihat raut ketakutan istri nya, Burack pun tersenyum kearah nya.


"Aku baik-baik saja, tidurlah lagi." balas nya dengan lembut.


"T-tidak kau berdarah, Burack. Katakan apa yang terjadi?" cecar nya lagi, dan posisi nya saat ini sudah duduk.


Burack pun berjongkok di depan istri nya itu. Ia mengelus pipi tembem Lethisa. "Tak perlu khawatir, hanya sedikit insiden saja, sebentar lagi pasti sembuh kok." Burack mencoba menenangkan sang istri yang terlihat khawatir, entah lah ia tak tau pasti apakah sang istri benar mengkhawatir kan diri nya atau tidak.


Dengan tangan bergetar Lethisa mengulurkan tangan nya ke arah di mana darah itu mengalir, seketika Lethisa menatap suami begitu lekat, ada rasa yang tak di mengerti oleh nya saat ini.


"Kau tertembak! dan kau masih bilang ini akan sembuh sebentar nanti!" teriak Lethisa entah kenapa ia merasa sakit saat melihat pundak suami nya yang tertembak.


"Tenangkan diri kamu. Tidur lah jangan berpikir terlalu banyak, aku akan membersihkan ini di kamar mandi." ucap Burack entah ia bahagia kala mendengar istri mengkhawatirkan diri nya. Terdapat sebuah senyum menghiasi sudut bibir nya.

__ADS_1


"Tidak! aku akan membantu kamu mengeluarkan peluruh nya." tekan Lethisa lagi dan beranjak turun dari ranjang.


Burack pun tak berbicara lagi, ia pun membiarkan Lethisa mengeluarkan peluruh tersebut, ia tak sekali pun meragukan istri nya itu dalam hal sepele seperti ini, bagaimana pun Lethisa adalah seorang dokter yang bertugas sebagai dokter di instansi kepolisian, dan mengenai kondisi seperti ini sudah sering di jumpai oleh nya.


Hening di antara mereka, tak satu pun dari kedua nya berbicara, di dalam kamar mandi itu hanya terdengar isak kan tangis Lethisa yang entah sedang menangisi apa, Burack pun tak bertanya, ia cukup tau jika Istri nya itu tidak mungkin menangisi keadaan nya saat ini, itu sungguh mustahil. Tatapan kebencian istri nya itu sudah cukup menjawab segala pengharapan nya saat ini, namun jauh dari lubuk hati nya ia ingin sekali di cintai wanita itu meski tak sebesar cinta istri nya kepada Julio, ia ingin menjadi suami yang selalu di rindu kan, ia ingin pernikahan yang di penuhi dengan cinta dan kasih sayang.


"Maaf!" ucap nya pelan dengan mata yang sudah berkabut.


Satu kata itu meluncur dengan sendiri nya, gerakan yang di lakukan Lethisa pun terhenti, ia menengadah menatap manik mata suami nya, ia pun melemparkan sebuah senyum yang begitu manis ke arah suami nya. Melihat satu senyuman dari wajah sang istri untuk pertama kali nya selama mereka menikah membuat Burack speechless, ini kali pertama nya ia melihat senyuman dari Lethisa istri nya. Ia begitu bahagia.


"Jauh sebelum kau meminta maaf aku sudah memaafkan kamu, Burack. Mungkin ini sudah jalan nya takdir untuk aku lalui." ucap Lethisa dengan jujur, ia tak menyangkal hati nya saat ini merasa bahagia saat berada di dekat pria itu.


Setelah nya Lethisa pun dengan cekatan mengeluarkan peluruh di pundak Burack. Suasana hening pun kembali tercipta di antara mereka, hingga beberapa saat kemudian ponsel Burack berdering, pria itu merogoh saku celana nya dan mengambil ponsel nya, ia mengernyitkan alis nya saat melihat id penelpon. Ia segera menerima telpon itu tanpa membuang waktu lagi.


"Burack, pindahkan istri kamu dari Villa itu. Barack sudah tau mengenai kehamilan Lethisa, mungkin saat ini ia dan para pengawal nya sedang dalam perjalanan menuju tempat mu." ucap seseorang dari seberang telpon.


Tanpa membalas ucapan pria itu, Burack segera menutup telpon tersebut secara sepihak.


"Lethisa, ikutlah bersama aku. Villa ini sudah tidak aman untuk kamu, Barack dalam perjalanan kesini." ucap Burack setenang mungkin, ia tidak ingin istri nya ketakutan.

__ADS_1


"Kita akan kemana lagi, Burack. Aku sudah lelah berpindah pindah terus menerus." balas Lethisa dengan suara pelan.


"Maafkan aku, sayang. Tapi kali ini bukan waktu yang tepat untuk menjelaskan, ikutlah bersama ku, aku mohon." jelas Burack sembari mengelus pipi Lethisa dengan sayang.


"Apa kita akan membawa perlengkapan kita juga?" tanya Lethisa pada akhir nya, ia tidak ingin menambah beban pikiran Burack yang terlihat begitu lelah memikirkan keamanan mereka.


"Tidak usah, kita akan membeli nya lagi, ayo." balas nya dan segera menggenggam jari jemari Lethisa. Kedua nya pun turun dengan segera meninggalkan Villa tersebut.


Dalam perjalanan kedua nya diam dengan pikiran masing-masing. Lethisa tampak melirik ke arah Burack, ia tau pria itu akan melakukan segala nya demi keamanan ia dan juga anak mereka.


"B-burack apa luka tembak itu berasal dari Barack juga?" tanya Lethisa dengan perasaan takut.


"Hhmmm" balas Burack tanpa mau berkata kata. Burack tampak melirik Lethisa yang tubuh nya bergetar ketakutan, ia pun menarik Lethisa ke dalam pelukan nya.


"Tenanglah, Barack tidak akan mudah membunuhku. Aku tidak akan membiarkan Barack menyentuh kalian sedikit pun. Tapi untuk saat ini aku tidak bisa menjaga kamu dan anak kita, berjanjilah untuk menunggu ku kembali dan aku akan menjemput kalian secepat nya."


"Apa maksudmu?" tanya Lethisa dengan lirih nya, ia tidak ingin Burack meninggalkan nya lagi, ada perasaan yang mengganjal saat berjauhan dengan pria itu.


"Untuk saat ini, kamu akan aku titip kan pada seseorang, aku yakin kamu pasti akan aman jika bersama nya." jelas Burack meski awal nya ia tidak rela, tapi ia tidak ingin sesuatu terjadi kepada Lethisa dan anak mereka.

__ADS_1


__ADS_2