Istri Paksa Tuan Mafia

Istri Paksa Tuan Mafia
93. Ayla menggila


__ADS_3

Di lain tempat masih ada Ayla yang terus menerus memperhatikan layar monitor, matanya yang jeli menangkap satu pergerakan musuh yang hendak mengeluarkan pistol, dengan cepat gadis cantik itu berdiri dan berlalu keluar dari ruangannya di ikuti Millito dan beberapa anak buahnya yang lain.


Brakkk


Ayla mendobrak pintu salah satu ruangan VVIP yang di mana terdapat lima orang pria di dalam nya, dengan seringai Ayla ikut duduk di salah satu sofa tunggal.


"Apa kalian tidak mendapatkan perintah dari Tuan kalian?" tanya Ayla dengan seringainya, gadis cantik itu memperhatikan muncung pistol yang di pegang nya.


Keempat pria itu saling melempar pandang dan menggelengkan kepala, dan raut ketakutan terlihat jelas di wajah keempat pria tersebut. Salah satu dari para pria itu memberanikan diri untuk berbicara.


"Maafkan kami, Nyonya. Kami hanya di utus untuk melakukan tugas kami." ujar salah satu pria dengan keringat dingin.


Keempat pria itu bukan tidak tau siapa wanita muda di depan mereka, hanya saja mereka mendapatkan tekanan yang mau tidak mau harus mereka lakukan. Siapa yang tidak tau dengan kekejaman wanita muda di depan mereka, meski memiliki wajah yang begitu cantik bak bidadari tetapi auranya sangatlah menyeramkan dan sangat pekat sekali.


"Aku sudah memperingati Tuanmu, tetapi dia sangat tidak mendengarkannya. Jika hanya berbisnis ya berbisnis saja, kenapa harus mencampuri urusan yang bukan rana kalian, dan kalian juga kenapa mau di bodohi olehnya." seru Ayla dengan seringainya.


Keempat pria itu menelan Saliva mereka susah payah, padahal Ayla tidak mengatakan hal aneh apapun tetapi membuat mereka bisa merasakan jiwa kekuasaan dari seorang Ayla.


"Pergilah, sebelum aku berubah pikiran," kata Ayla dengan santainya, Ayla sendiri menatap keempat pria itu dengan senyum yang sangat aneh.


"Ba-baik Nyonya." seru keempatnya dengan gugup. Dan segera beranjak dari duduk mereka dan sedikit berlari menuju pintu, namun sayang seorang Ayla tidak semudah itu lepas dari sosok Ayla.


Dor'


Dor'


Dor'


Dor'


"Aakkkkhhh!"


Empat tembakan beruntun tepat mengenai bahu para pria itu.

__ADS_1


"Oleh-oleh dariku untuk Tuan kalian. Katakan kepadanya untuk tidak mencampuri urusanku, dan katakan kepadanya juga jika ingin melawanku jangan mengirimkan tikus got seperti kalian," peringat Ayla dengan senyum devil nya.


Keempat pria itu pun mengerang kesakitan.


"Kirim mereka kepada majikan mereka." titahnya dengan wajah datar.


"Baik Bos."


"Dasar bodoh, apa pria tambun itu tidak mau mengikuti ucapanku? Apa yang harus aku berikan kepadanya sebagai bentuk tanda perkenalan?" tanya Ayla kepada Millito.


Millito tersenyum miring.


"Sepertinya hal yang membuatnya tidak akan pernah melupakannya, Bos." saran Millito.


"Lakukan bagianmu, pastikan ia tidak mendapatkan bantuan siapapun dari pihak bawah tanah, dan tekankan kepada siapapun yang membantu mereka, akan menjadi musuh besar ku." ujarnya dengan senyum devil.


"Baik Bos."


Tok..


Tok..


Tok..


"Bos, ada telpon dari Ambar." jelas seorang pria dengan sopan.


"Apa yang Ambar katakan?" tanya Ayla.


"Sepertinya Tuan muda sudah menemukan orang yang anda maksud, dan Tuan muda juga sangat marah hingga lepas kontrol dan hampir membunuh Nyonya Regina. Kondisi di mansion utama tidak baik-baik saja, di karenakan Nyonya besar Dania murka dan beliau juga melayangkan beberapa kali tamparan kepada Tuan muda. Terlebih saat ini, Ayah anda ikut tersulut emosi saat tau Tuan muda yang hampir membunuh Nyonya Regina." jelas pria itu panjang lebar.


"Sialan, wanita tua itu pasti senang karena mendapat dukungan dari seluruh keluarga. Tak akan kubiarkan siapapun menyakiti Adikku termasuk Ayah." gumam Ayla marah dengan cepat pula wanita muda itu beranjak dan keluar dari ruangan tersebut.


Jalanan yang sepi membuat Ayla menggila saat mengendarai mobil sport nya, sorot mata wanita itu memerah menahan amarah, ia berharap jika sang Ayah tidak melakukan sesuatu kepada Adiknya namun jika sang Ayah turut menyalahkan sang Adik, Ayla berjanji akan sangat membenci Ayah nya.

__ADS_1


Tak membutuhkan waktu lama, Ayla pun akhirnya tiba di mansion keluarga Ammar. Melihat kedatangan Nona muda, para penjaga gerbang dengan senang hati membuka gerbang mansion tersebut.


Dengan jelas Ayla bisa mendengar keributan dari dalam rumah mewah itu, namun gadis cantik itu masih terlihat santai sembari mengunyah permen karet. Mendengar teriakan seseorang yang seperti menahan seseorang membuat tubuh gadis cantik itu seperti tertarik untuk segera masuk.


"Jangan kau pikir, kau anak laki-laki di keluarga ini, maka kau bisa melakukan semuanya sesuka hatimu. Ingatlah Arta, kau tidak akan menjadi apa-apa jika kau terusir dari rumah ini." sarkas Dania tajam.


"Sekalipun kalian mengusirnya, ia tidak akan menjadi gelandangan. Karena aku tidak akan membiarkan ia hidup susah." celetuk Ayla santai namun sorot mata gadis cantik itu menatap nyalang ke arah semua orang yang ada di ruangan itu.


"Ka-kak." lirih Arta senang saat melihat sang Kakak yang membelanya.


"Jaga sopan santun mu, Mikayla Anastasya!" tegur Delta marah.


"Aku akan sopan kepada orang yang bisa menghargai keberadaan ku, namun sayang nya itu semua tidak berlaku di rumah yang penuh kebohongan ini!" balas Ayla geram dengan sifat otoriter sang Ayah.


"Entah apa salahmu Nak, hingga kau melahirkan seorang anak gadis yang memiliki sifat bar-bar sepertinya." cibir Nyonya Regina dengan seutas senyum simpul.


Delta yang sudah tersulut emosi karena kebenaran tentang Putri nya itu perlahan melangkah maju dengan amarah yang sudah tak dapat di bendung nya lagi, tangan pria dewasa itu sudah terangkan dan hendak mendarat di pipi Ayla namun dengan cepatnya, Ayla menahan pergelangan tangan sang Ayah.


"Aku tau Ayah bukan tidak tau dengan apa yang telah di lakukan wanita tua itu, jangan menutup matamu, Ayah. Penyesalan pun tidak akan ada artinya lagi setelah tangan Ayah mendarat di pipi Ayla." seru Ayla lembut namun setiap kata yang di lontarkan berhasil membuat tubuh Delta menegang sempurna.


Bukan hanya Delta, tapi seluruh keluarga tampak bungkam mendengar setiap kata yang di lontarkan Ayla yang syarat akan ancaman.


"Apa maksudmu Nak?" tanya Lethisa lembut sembari melangkah mendekat ke arah cucu perempuannya itu.


"Maafkan Ayla jika Ayla sudah berlaku tidak sopan Ommah, tapi Ayla tidak akan tinggal diam jika seseorang mengusik Arta." ucap Ayla dengan sorot matanya yang memerah menahan bulir air mata yang hendak menetes.


Mendengar Ayla yang memanggil kata Ommah untuk pertama kalinya, ada rasa haru yang di rasakan oleh semua orang terkecuali Regina yang merasa geram dan mendelik tak suka jika semua orang mulai dekat dengan gadis itu.


"Ada apa sebenarnya, Ay? Kenapa sejak pertama kau terlihat seperti menyembunyikan sesuatu tentang Nyonya Regina, apa ada hal yang tidak kami ketahui? Jika Nyonya Regina telah berlaku curang, Grandpa tidak akan tinggal diam." ujar Tuan Hanthony yang sejak tadi diam dan merasa ada bau-bau permusuhan antara cicit dan besannya itu.


"Hahaha," tawa Ayla begitu menakutkan menghiasi kebisuan yang ada di mansion tersebut. Semua orang kaget melihat sikap Ayla yang berbeda.


"Apa kau takut Nyonya, jika kebusukan mu selama ini di ketahui oleh seluruh anggota keluarga?" tanya Ayla dengan seringainya saat mendapati wajah pucat Nyonya Regina.

__ADS_1


Atensi semua orang yang awalnya melihat Ayla kini beralih menatap ke arah Nyonya Regina. Tubuh Nyonya Regina membeku sempurna saat banyak pasang mata menatap ke arahnya.


__ADS_2