
Tiga bulan berlalu, sejak meninggalkan hotel di mana tempat pernikahan nya berlangsung, kini Rania menjalani kehidupan nya dengan bahagia, pasal nya tinggal tiga bulan lagi ia akan melahirkan, namun seketika raut kesedihan tampak di wajah nya. Menjalani masa kehamilan tanpa ada seorang suami atau pun keluarga membuat hati nya sakit, mungkinkah takdir sekejam ini sehingga apa yang di rasakan Rania sejak kecil akan kembali di rasakan anaknya. Semua pertanyaan itu terus saja berputar di kepala nya, menjadi gunjingan orang karena tidak memiliki orang tua dan di anggap sebagai anak haram akan di rasakan anak nya kelak nanti.
Pikiran itu terus saja berputar di kepala Rania, namun sekuat tenaga ia berjanji, apapun yang akan terjadi ia akan selalu ada untuk anak nya, ia akan berperan sebagai Ibu sekaligus Ayah untuk anak nya.
Meski dalam kondisi hamil besar, semangat Rania untuk bertahan hidup tak pernah redup sedikit pun, meski memiliki sertifikat kelulusan di Universitas ternama tidak membuat Rania merasa gengsi untuk bekerja paru waktu, pikir nya saat ini hanyalah janin yang ada di perut nya, meski harus bekerja kasar pun akan di lakoni nya demi pertumbuhan janin di perut nya.
Para warga desa pun banyak yang merasa iba, namun ada juga yang menggunjing diri nya sebagai wanita tidak baik-baik, namun perkataan demi perkataan yang terlontar untuk nya tak pernah di gubris oleh nya.
Rania yang sedang asik menyiram tanaman di halaman rumah nya, tidak mengetahui jika setiap gerak-gerik nya sedang di awasi oleh beberapa pasang mata. Wanita hamil itu terus saja menyiram tanaman dengan bersenandung, namun seketika, pegangan tangan nya pada selang air melemah, tubuh nya membeku ketika tidak sengaja melihat siapa sosok yang berdiri di depan nya, melihat ada seseorang yang mendekati Rania, beberapa pria yang mengawasi Rania sejak tadi hendak maju namun mereka mengurungkan niat nya kala mendengar sesosok itu berbicara.
"Ikutlah pulang bersama ku, Mom begitu terpukul saat tau kau pergi." ajak pria itu dengan suara melemah, namun dari setiap tutur kata nya terdapat sebuah kesedihan yang entah apa itu.
"Pergilah! jangan mengusik kehidupan aku lagi, tanpa kalian aku bisa membesarkan anak aku tanpa belas kasih kalian." usir Rania dengan ekspresi yang tidak dapat di arti kan oleh siapapun.
__ADS_1
"Aku tau kesalahan aku tidak dapat di maafkan, tapi percayalah waktu itu aku terlalu terkejut dengan kehadiran kalian berdua, setelah kepergian kamu dan janin itu, hidup aku terasa kosong dan hambar, aku mohon beri aku satu kesempatan lagi, aku janji akan memperbaiki segala kekacauan yang aku lakukan." kali ini ucapan Delta terdengar begitu tulus dan ia terlihat menyesali setiap tindakan nya selama ini. Mendengar ungkapan pria di depan nya membuat hati Rania terenyuh, ia tidak dapat berkata kata, lidah nya terasa kelu saat ia ingin menolak ajakan pria itu.
Di suatu rumah bak seperti istana ada empat orang dewasa sedang beradu argumentasi masing-masing.
"Burack, sampai kapan kita harus terpisah dengan Arezha, aku sudah tak sanggup membendung segala kerinduan ini. Aku mohon jemput Arezha sekarang juga." lirih seorang wanita kepada suami nya.
"Sayang, bukan hanya kau yang merindukan nya, aku juga. Tapi ini belum waktu nya, setelah Barack berhasil di tangkap oleh orang-orang ku, aku janji akan segera menjemput anak kita." balas sang pria dengan mengusap punggung istri nya.
Sepasang suami istri itu hanya diam, lidah mereka terasa keluh untuk berucap, mereka bahkan tak berani mengangkat wajah mereka menatap sosok pria tua di depan mereka yang memiliki aura dingin dan begitu mengintimidasi.
"Dan kamu Burack, kerahkan seluruh pengawal untuk menjaga keamanan Arezha, dari hasil penyelidikan yang Ayah dapat kan, anak kalian telah menikah dan saat ini ia sedang mengandung cicit keluarga Hanthoni, pastikan keselamatan mereka." ucap nya lagi, ia tersenyum bahagia ketika mendapati kiriman foto di mana Arezha kecil nya tumbuh menjadi wanita dewasa, namun ia menyayangkan perilaku Istri dan juga anak dari kakak menantunya yang terus saja mencemooh cucu nya.
"Dan untuk kamu Thisa, berhenti menopang kehidupan Kakak kamu dan keluarga nya. Selama ini istri dan anak Kakak kamu selalu bersikap kasar kepada Arezha, mereka memperlakukan Arezha ku seperti seorang pembantu, setiap hari anak itu di hajar oleh kedua wanita iblis itu ketika Kakak kamu pergi bekerja." ingatan akan perlakuan perempuan itu terhadap cucu nya, membuat darah pria tua itu mendidih.
__ADS_1
"Jika saja Kakak kamu tidak menyayangi Arezha kita, mungkin sejak lama Ayah sudah membunuh kedua wanita iblis itu. Berani nya mereka menyiksa pewaris utama Hanthony." desis pria tua itu lagi dengan mengetuk-ngetuk tongkat nya dengan lantai.
"Ayah, Thisa mohon jemput Arezha sekarang. Thisa tidak sanggup membayangkan kesedihan dan kesulitan yang di rasakan Arezha selama 24 tahun ini, sudah cukup ia hidup susah dan selalu menjadi gunjingan orang." mohon Thisa dengan berderai air mata, kesedihan tampak jelas terlihat di manik kecoklatan wanita itu.
Mendengar permohonan yang begitu memilukan dari menantu nya itu, membuat hati pria tua ini menjadi dilema, di sisi lain ia ingin sekali bertemu dan dan memberikan seluruh cinta dan sayang nya kepada cucu nya itu, namun mengingat bahaya yang mengintai Arezha membuat pria itu menatap tajam menantu nya.
"Keputusan Ayah sudah bulat, sebelum Burack menemukan keberadaan Barack dan memberi anak itu pelajaran yang sesungguh nya, kita hanya bisa melihat Arezha dari kejauhan saja." tekan pria tua lagi
Thisa diam, ia tidak menyangka jika Kakak ipar nya tega memperlakukan anak nya layaknya seorang pembantu, ia tidak akan membiarkan wanita iblis itu, ia berjanji akan membuat perhitungan dengan wanita ular itu meski ia harus berhadapan dengan sang Kakak yang sudah menjaga dan menyayangi anak nya. Ia tidak akan mentolerir setiap perbuatan tidak baik Kakak iparnya kepada anak nya Arezha.
Setelah kepergian pria tua itu, Barack mendekap tubuh istri nya yang begitu sedih mengingat posisi dan kesulitan anak semata wayang mereka.
"Aku janji akan segera menangkap Barack, dan setelah nya kita akan segera menjemput Arezha kita." ucapnya lirih sembari berulang kali mengecup puncak kepala istri nya.
__ADS_1