
Setelah mengantarkan suami nya ke depan rumah, dan menatap kepergian mobil yang membawa suami nya, Rania kembali ke kamar dan berganti pakaian, hari ini akan ia habiskan di taman belakang, sungguh Rania merasakan bebas karena ia bisa melakukan apapun tanpa ada suami nya yang akan mengomel jika dirinya melakukan suatu pekerjaan.
Ya, semalam wanita hamil itu mengirimi pesan kepada Sandra untuk membelikan beberapa tanaman karena hari ini ia ingin berkebun seperti dulu tanpa ada larangan atau ocehan suaminya.
"Kak, bagaimana jika Tuan tau? meski Tuan tidak ada di sini, beliau bisa melihat gerak-gerik kakak melalui CCTV yang terpasang." bisik Sandra dengan takut-takut.
"Masalah Delta aku yang akan menyelesaikan nya. Oh iya, tanaman yang kakak minta semalam gimana? udah adakan di taman belakang?" tanya Rania
"Semuanya udah siap, dan mungkin udah selesai di angkat oleh Mario ke taman belakang." jelas Sandra.
Wanita hamil itu merasa senang dengan apa yang ia kerjakan saat ini hingga ia lupa waktu, terik matahari mulai menyorot ke arah nya, saat itu pula ponsel nya berdering. Melihat id penelpon Rania mengulum senyum, dengan cepat ia pun menekan tombol hijau.
"Sayang apa yang kau lakukan? kenapa wajahmu kotor sekali?" tanya Delta kaget melihat wajah istri nya yang penuh lumpur.
"Mas udah nyampe? ingat jangan dekat-dekat sama tu perempuan!" sungguh Rania wanita yang pintar mengalihkan pembicaraan.
"Jangan alihkan pembicaraan, Ra. Jangan bilang jika kamu sedang di taman belakang? dan melakukan pekerjaan Arman?" tanya Delta tajam.
"Mas udah dulu ya, kayak nya Mommy dateng tuh. Dahh, aku cinta kamu Mas." seru Rania cepat dan segera memutuskan sambungan videocall sang suami.
Dan dengan cepat pula ia beranjak dan kembali ke kamar, setelah berbenah diri ia pun turun kembali ke bawah karena jam makan siang hampir tiba.
"Nyonya." panggil bi Lin yang kebetulan ingin memanggil sang majikan untuk makan siang.
"Iya, ada apa bi Lin?" tanya Rania saat baru keluar dari kamar.
"Makan siang nya sudah kami siapkan, Nyonya." jelas bi Lin sambil menunduk.
"Menu makan siangnya apa, Bi?" tanya Rania lagi.
__ADS_1
"Sesuai dengan apa yang di pesankan Tuan, Nyonya." jawab Bi Lin.
Sungguh Rania kesal bukan main dengan suaminya itu, meski ia berada di tempat yang jauh tetap saja posesif. Tentang makanan pun ia yang atur.
Namun Rania tetap melangkahkan kaki nya menuju meja makan, Rania menatap satu persatu hidangan di atas meja yang begitu menggugah selera. Saat Rania hendak makan Bi Lin pun segera undur diri.
Sedang asik menyantap makan siang nya, sebuah notifikasi pesan masuk ke ponselnya. Rania pun menghentikan suapan nya dan beralih ke ponsel nya.
+1983672xxx
Jika kau ingin tau apa saja yang di lakukan suamimu, temui aku di Senoria Cafe pukul tiga nanti.
Isi pesan itu seketika membuat napsu makan Rania hilang, pasal nya ia tidak tau siapa yang mengirimi nya pesan singkat tersebut. Awal nya Rania tak menggubris pesan tersebut, namun beberapa saat kemudian terdengar notifikasi pesan kembali masuk dan itu membuat tubuh Rania lemas seketika, sekuat tenaga ia menopang tubuh nya pada sandaran kursi.
Tanpa bisa di tahan bulir bening itu pun mulai berjatuhan, ia tidak menyangka jika suami nya tega melakukan itu terhadap nya.
Kau akan menyesali nya, Mas. Aku bukan Rania yang dulu, yang selalu takut akan bentakan mu. Akan aku ikuti permainanmu, Mas.
Dengan cepat Rania pun berganti pakaian serta memasukkan beberapa barang yang akan di bawah nya pergi menemui seseorang. Setelah melihat tampilan nya yang sudah rapi, Rania pun keluar dari kamar.
"Nyonya anda mau kemana?" pertanyaan Bi Lin menghentikan langkah Rania yang sudah berada di ambang pintu.
"Aku mau menemui temanku, Bi." jawab Rania tanpa ekspresi.
"Tapi Nyonya, Tuan melarang anda menyetir sendiri. Biar Mario yang mengantar anda, Nyonya." ucap Bi Lin dan membuat Rania berdecak kesal.
Rania sungguh kesal dengan keposesifan Delta yang terus saja membatasi pergerakan nya. Sungguh Rania tak habis pikir dengan pemikiran suami nya itu.
"Tidak usah! aku bisa pergi sendiri. Dan satu lagi, katakan kepada Mario jangan berani mengikuti kemana pergi nya saya. Apa Bi Lin paham?" tekan Rania dengan jengkel nya.
__ADS_1
"T-tapi."
"Stop! saya nggak mau bantahan apapun!" tekan nya sekali lagi dan berlalu pergi setelah meraih kunci mobil. Mobil pun perlahan meninggalkan kediamannya.
Di dalam mobil, Rania meruntuki diri nya yang telah berucap kasar kepada bi Lin. Namun hanya itu yang bisa ia lakukan agar tidak di ikuti oleh par bodyguard suami nya.
Tak membutuhkan waktu lama, mobil yang di kemudikan Rania berhenti tepat di depan sebuah restoran mewah. Wanita hamil itu pun turun setelah berhasil memarkirkan mobil nya tepat di depan pintu masuk restoran.
Ia pun melangkah kaki nya dengan hati-hati ke arah pintu masuk, tak henti-henti nya Rania melihat ke arah jam tangan nya yang masih menunjukkan pukul 2.45 yang arti nya masih ada 15 menit waktu pertemuan diri nya dengan orang misterius itu.
Sungguh Rania sudah tidak sabar menunggu kedatangan orang tersebut, potret yang di terima nya beberapa saat yang lalu seakan mengingatkan ia pada sosok wanita yang pernah ia temui semasa duduk di bangku kuliah.
Tepat pukul tiga, tampak seorang pria berjalan ke arah nya, Rania menelisik pria itu dari ujung kepala hingga kaki.
"Selamat sore, Nyonya." sapa pria itu dengan sopan.
"Apa yang anda ketahui mengenai suami saya?" tanya Rania to the points.
"Suami anda berselingkuh dengan tunangan saya. Maka dari itu saya mohon kepada anda untuk menjauhkan suami anda dari tunangan saya." jelas pria itu dengan suara bergetar menahan tangis nya. Pria itu pun menyodorkan ponsel nya ke arah Rania.
Deg,
Jantung Rania berdebar tak karuan, entah ia harus percaya atau tidak, tapi melihat kesedihan di manik mata pria itu membuat Rania merasakan sesak di dada nya. Ia tak menyangka jika Delta akan melakukan hal keji itu. Dengan besar hati Rania pun menerima sodoran ponsel dari pria itu, mata nya membola saat melihat beberapa potret sang suami yang memeluk seorang wanita yang hanya mengenakan bikini.
Rania memejamkan mata nya sesaat untuk menghalau bulir air mata yang hendak jatuh. Tangan nya bergetar hebat kala melihat potret kedua Delta dengan wanita itu yang berada di atas ranjang.
Dengan cepat nya Rania menyodorkan kembali ponsel itu kepada pria di depan nya.
"Apa mereka pernah berhubungan?" tanya Rania.
__ADS_1
"Mereka sepasang kekasih yang saling mencintai dan hendak menikah, tapi entahlah ada masalah apa hingga hubungan di antara kedua nya kandas, hingga sebulan kemudian aku bertunangan dengan Belia. Saya pun kaget ketika salah seorang klien saya mengirimi potret kebersamaan mereka di Turkey. Oleh karena itu saya memberitahukan anda mengenai ini." jelas sang pria dengan wajah yang begitu sedih.
Setelah mendengar penjelasan pria itu, Rania pun segera beranjak dan berlalu pergi meninggalkan pria itu tanpa memberi jawaban sedikit pun, namun sebelum ia melangkahkan kaki nya keluar dari restoran tersebut, Rania pun membayar pesanan nya tadi.