Istri Paksa Tuan Mafia

Istri Paksa Tuan Mafia
30. Titipkan Anak kami kepada Hendro


__ADS_3

Tanpa terasa mobil yang di kendarai Burack memasuki sebuah perumahan elite dengan keamanan yang sangat ketat.


Lethisa mengernyitkan alis nya saat menyadari di mana mereka berada. Ia pun menatap Burack dengan tatapan ingin tau, apa maksud pria ini membawa nya ke tempat ini.


"Turunlah, kita sudah sampai." ucap Burack.


Lethisa tidak sedikit pun beranjak dari duduk nya, ia ingin tau siapa sebenarnya orang yang akan menjaga nya selama kepergian Burack.


Lethisa menatap tak percaya sosok yang akan menjaga nya mulai saat ini, ia tidak ingin lagi berhubungan dengan sosok tersebut, rasa cinta yang begitu besar terhadap pria itu sudah ia kubur dalam-dalam. Ia tidak ingin menyakiti suami nya yang sudah berusaha menyayangi nya selama ini.


Melihat keengganan Lethisa untuk turun, Burack pun membuka pintu mobil dan menatap wanita hamil itu dengan perasaan takut, ia takut wanita itu akan mencintai pria itu lagi namun mengingat keamanan anak dan istri hanya ini lah jalan satu-satu nya.


"Aku nggak mau, antar aku ke tempat kak Hendro saja." tolak Lethisa tanpa menatap manik mata suami nya.


"Aku mohon jangan seperti ini, jika kelak aku tak kembali, aku tak takut lagi meninggalkan kalian, karena hanya Julio orang yang tepat untuk saat ini." jelas Burack dengan berat hati.


"Berjanjilah untuk segera kembali, aku dan anak kita akan selalu menunggu kamu sampai kapan pun." ucap Lethisa dengan mata yang sudah berkabut dan di detik berikut nya bulir air mata itu jatuh dengan sendiri nya.


Burack bahagia mendengar ungkapan Lethisa yang akan selalu menanti kan kepulangan nya, entah kapan waktu itu akan datang. Ia pun memeluk erat tubuh istri nya dengan begitu sayang, kecupan kecil di puncak kepala istri tak henti-henti nya ia berikan.


"Nak, Ayah akan selalu merindukan kamu, kelak saat Ayah tak ada di samping kalian jangan nakal ya, nak. Jaga Bunda untuk Ayah." ucap Burack sembari mendaratkan kecupan di perut besar istri nya, tak dapat di hindari pria itu menangis tersedu mengingat ia harus berpisah dengan istri dan anak nya yang sebentar lagi lahir.


Lethisa tak dapat menahan bulir air mata nya, ia tau jika kehadiran bayi di perutnya sangat lah di nanti oleh Burack, betapa pria itu menjaga nya bagaikan berlian yang tak dapat di sentuh. Ia bertekad setelah Burack kembali ia ingin mengutarakan perasaan nya yang sebenarnya. Ia tidak ingin menyianyiakan lagi kehadiran pria itu.


Burack pun berdiri dan menggenggam erat tangan istri nya, kedua nya pun berjalan menghampiri sosok pria yang sedang menatap haru ke arah mereka, ada rasa tidak rela saat melihat wanita yang sangat di cintai menangis ketika suami nya akan meninggal kan mereka, namun di sisi lain ia bahagia melihat wanita itu bisa menerima pernikahan tersebut.


"Aku titip anak dan istriku, maaf telah merepotkan kamu." ucap Burack dengan tidak enak hati.


"Selesai kan masalah kamu secepat nya, aku akan berusaha melindungi mereka dari kejaran kembaran kamu." balas Julio dengan gentle, ia berjanji untuk melindungi wanita dari masa lalu nya.


"Sekali lagi terima kasih, Lio. Aku berhutang nyawa anak dan istri aku ke kamu, kelak aku akan membalas kebaikan kamu. Aku pergi dulu." ucap Burack dengan senyum tulus ke arah Julio.


"Cepatlah kembali, jangan membuat istri kamu khawatir." balas Julio dengan tersenyum juga.


"Jaga anak kita, aku akan segera kembali menjemput kalian." ucap nya kepada Lethisa sembari mengecup bibir wanita itu untuk pertama kali nya setelah pernikahan mereka.

__ADS_1


Setelah nya Burack pun mengendur kan pelukan nya, dan berlalu pergi secepat nya, ia tidak ingin jejak istri nya terlacak oleh kembaran nya.


"Mas!" lirih Lethisa, ia pun berlari mengejar Burack.


Langkah Burack terhenti ketika mendengar sebutan Mas di ucapkan istri nya, ia pun membalik kan tubuh nya, tepat saat itu sebuah lengan langsung melingkar di pinggang nya.


"Mas, berjanji lah untuk segera kembali dan menjemput aku dan anak kita." lirih Lethisa dengan tangisan.


"Mas janji akan segera kembali dan menjemput kalian. Jangan menangis lagi, kalian adalah penyemangat Mas untuk saat ini. Ikutlah bersama Lio, cuaca di sini sangat dingin Mas nggak mau kau dan anak kita sakit. Pergilah." jelas Burack mencoba menahan tangisan nya juga.


Kali ini Lethisa tidak menjawab, hanya anggukan yang ia berikan kepada suami nya.


Setelah memastikan Lethisa bersama Julio masuk, barulah Burack meninggal kan tempat itu, ia memerintahkan orang kepercayaan nya untuk memanipulasi data Lethisa untuk sementara waktu.


Hari-hari di lewati Lethisa dengan perasaan khawatir, sudah tiga minggu berjalan Burack tak sekalipun mengabari nya maupun Lio. Rasa takut akan sesuatu menimpa suami nya membuat wanita hamil itu berkali kali mengalami pingsan, berulang kali juga Julio menasehati wanita hamil itu.


Hingga tiba di mana, Lethisa merasakan perut nya sakit dan melihat banyak nya darah di pakaian dalam nya, Julio yang notabene seorang dokter pun dengan sigap membawa Lethisa ke rumah sakit di mana tempat nya bekerja.


Kali ini rasa sakit yang di alami Lethisa tak dapat di tahan nya lagi berulang kali ia mengeram dengan kuat, Julio tau Lethisa akan segera lahiran, ia pun mencoba menenangkan wanita itu.


"Aku tidak tahan lagi, Lio." balas Lethisa yang sudah tak sanggup lagi.


"Kita akan segera tiba, tenanglah." ucap Julio lagi.


Mas, dimana kamu sekarang? aku ingin kamu berada di sampingku, anak kita akan segera lahir. Membatin Lethisa dengan perasaan takut, ia takut jika tidak bisa bertemu suami nya lagi.


Setiba nya di rumah sakit beberapa perawat telah menunggu kehadiran mereka di depan pintu UGD, Lio pun menggendong tubuh Lethisa dan di baringkan ke sebuah brankar pasien. Setelah hampir lima belas menit mengikuti protokol rumah sakit, Lethisa pun di pindah kan ke ruang operasi.


"Dokter, apa wali pasien ada?" tanya salah seorang perawat.


"Tunggu sebentar lagi, suami nya pasti akan segera tiba." balas Julio, ia ingin Burack sendiri lah yang menemani Lethisa untuk persalinan.


Tak berselang lama, seorang pria dengan pakaian berdarah di ikuti beberapa pengawal memasuki lobby rumah sakit, melihat itu Julio tau jika Burack sedang tidak baik-baik saja.


"Burack, ikut aku. Aku akan mengobati luka mu terlebih dahulu." ajak Julio saat sudah berdiri di depan Burack.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja, di mana Lethisa?" tolak nya dan kembali menanyakan keberadaan istri nya.


"Lethisa sedang di tangani dokter di ruang operasi." balas Julio.


"Apa aku bisa masuk kesana, aku ingin menemani nya." tanya Burack dengan wajah pucat nya.


"Tapi kau sedang tidak baik-baik saja, Burack." tolak Julio yang melihat Burack menahan kesakitan nya hanya demi menemani istri nya untuk lahiran.


Setelah perdebatan yang cukup lama, akhir nya Burack kini berada di atas kepala Lethisa, berkali kali ia mendaratkan kecupan di kening istri nya.


"Anak kita akan lahir, sayang. Maaf Mas tidak berada di samping kamu selama kamu mengalami kontraksi." sesal Burack, ia berjanji akan membunuh Barack setelah kelahiran anak nya.


Tiga jam berlalu, tangisan bayi pun terdengar di ruangan itu, Burack menitihkan air mata, sedih bahagia kini menyatu dalam diri nya. Setelah melewati sesi di ruang operasi kini tubuh Lethisa di dorong dan di pindah kan ke ruang perawatan VVIP.


Hari berlalu begitu cepat nya, kini tiba di mana Lethisa beserta bayi nya akan pulang, senyum manis terus terukir di wajah wanita itu, ia bahagia ketika tau mendapatkan seorang bayi perempuan dan suami nya juga berada di dekat nya sejak prosesi persalinan.


"Mas, apa semua nya baik-baik saja?" tanya Lethisa pada akhir nya.


"Sudah sayang, kita akan berkumpul lagi dan saat ini keluarga kita menjadi lengkap dengan kehadiran baby Arezha." balas Burack sembari mengecup bibir ranum Lethisa.


"Mas!" Lethisa kesal dengan tingkah suami nya.


"Oke.. Mas nggak bakalan lakuin itu lagi, ayo kita pulang." ajak Burack dengan satu tangan menggendong baby Arezha dan satu lagi memeluk pinggang istri nya.


Kedua nya pun keluar dari ruangan VVIP, bersamaan dengan itu terdengar suara tembakan yang berasal dari arah depan rumah sakit, Burack memejamkan mata nya, ia tau jika Barack pasti dalang di balik penembakan tersebut.


Julio yang tidak sengaja melihat kembaran Burack dengan cepat nya berlari menuju ruangan Lethisa.


"Burack, apa yang akan kau lakukan saat ini? Barack sedang menunggu kalian di luar." tanya Julio dengan ngos-ngosan akibat berlari.


"Titipkan anak kami kepada Hendro, katakan kepada nya untuk menjaga anak kami, setelah semua masalah ini selesai kami akan menjemput nya. Kau bisa pergi dengan pintu di sebelah sana, akan ada seseorang yang menantikan kamu beserta Arezha." jelas Burack dengan tatapan sedih, ia sudah tau kondisi yang akan di hadapi nya saat kelahiran anak mereka.


"Mas, apa ini? apa kau akan mengasingkan anak kita?" tanya Lethisa dengan sedih.


"Sekali ini saja, aku berjanji akan segera menjemput anak kita. Mas mohon." Burack kembali menatap istri nya dan setelah meyakinkan Lethisa ia pun menyerah kan Arezha ke tangan Julio.

__ADS_1


__ADS_2