Istri Paksa Tuan Mafia

Istri Paksa Tuan Mafia
70. Rencana Rania.


__ADS_3

Rania beserta lainnya di tuntun oleh Maxi menuju belakang mansion, di mana rumah baru Brian berada. Mereka kini telah berbaur dengan para pengikut Brian. Semua yang berada di sana mengenakan pakaian serba hitam, terlihat jelas jika mereka sedih kehilangan sosok akan seorang Brian.


Pria yang terkenal kejam dan dinginnya itu nyata nya sangat lah baik di kalangan para pengikutnya. Pria itu akan berubah dingin jika berada di luar mansion selebih nya ia akan bersikap baik di depan para pengikutnya.


Rania perlahan melangkahkan kakinya mendekati jasad Brian. Sekuat tenaga wanita itu menahan tangisnya agar tidak pecah, namun sayang, semua itu tidak dapat di tahan oleh nya lagi saat melihat tubuh Brian yang sudah di kafani. Ada rasa sesak saat melihat wajah kaku Brian yang masih terbuka sedikit.


Rania menundukkan kepala nya, ingin rasanya ia memeluk jasad pria itu untuk terakhir kali nya, namun ia mencoba menahan segala keinginannya karena Brian sudah di sucikan dengan air wudhu. Wanita itu hanya bisa menangis dalam diam.


Terima kasih atas cinta tulus mu selama ini, Ian. Aku bahagia bisa mengenal pria baik seperti mu. Maafkan segala kesalahan ku yang entah itu di sengaja atau tidak. Berbahagialah di tempat barumu, aku hanya bisa mendoakan kamu.


Setelah nya Rania pun berdiri dan meminta Maxi meneruskan prosesi pemakaman untuk Brian. Tangisan dan jeritan kembali terdengar dari sahabat dan para pengikut Brian, kala liang lahat itu sudah tertutup seutuhnya.


Prosesi pemakaman pun selesai. Rania terlebih dahulu menaburkan bunga di gundukan tanah itu, dan di susul oleh Maxi dan sahabat dari Brian sendiri.


Setelah pemakaman Brian selesai, Maxi pun meminta Rania untuk bermalam di mansion itu.


"Nyonya, jika anda tidak keberatan tinggallah sehari di sini, setidaknya mansion ini tidak terlihat sepi di saat pemiliknya sudah tidak ada lagi." ucap lirih Maxi dengan suara yang serak menahan tangis.


Rania menatap Delta dengan wajah sendu nya, ia berharap jika suaminya akan menerima tawaran dari Maxi. Apa yang di katakan oleh Maxi ada benar nya juga, ia tidak mungkin tega meninggalkan rumah itu di saat sang pemilik rumah sudah tidak ada lagi.


Tanpa pikir panjang Delta menganggukkan kepalanya, di ikuti yang lain nya juga.


"Terima kasih, Mas."


"Arash, minta Bibi untuk menyiapkan kamar utama untuk Nyonya dan beberapa kamar tamu juga untuk kerabat Nyonya, dan jangan lupa minta Frans untuk menghidangkan makan malam sebentar nanti." titah Maxi kepada salah satu temannya.

__ADS_1


"Baik bos." balas Arash.


Maxi pun kembali menuntun Rania dan lainnya memasuki loby utama rumah itu, Rania mengedarkan pandangan nya ke segala arah, senyumnya merekah saat melihat tatanan rumah mewah itu yang masih sama saat ia datang dan tinggal di rumah itu sembilan tahun yang lalu.


"Semuanya masih sama." gumam Rania pelan tapi masih bisa di dengar oleh yang lain.


"Tuan memang tidak pernah mengijinkan siapapun merubah tatanan di rumah ini sejak Nyonya yang menatanya sembilan tahun yang lalu, jadi sebisa mungkin para maid yang ada di sini hanya membersihkan saja dan merawat beberapa barang yang ada." jelas Maxi mengingat reaksi Brian yang marah besar kala itu, saat salah satu maid dengan beraninya memindahkan beberapa barang dari tempatnya.


Mendengar itu, semua orang saling tatap satu sama lain, ada banyak yang mereka pikirkan kala mendengar penjelasan Maxi barusan. Delta sendiri hanya bisa diam mendengar kisah masa lalu yang tidak biasa di antara istrinya dan juga rivalnya itu. Menyadari perubahan wajah suaminya, Rania dengan cepat mengalihkan pembicaraan. Bukan ia tidak ingin bercerita tapi saat ini ada hal yang lebih serius yang harus mereka bahas.


"Kalian ikutlah bersama Max, ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan kalian. Kita bertemu sepuluh menit lagi."


"Max, minta Arash juga untuk ikut bergabung bersama kalian." ucap nya lagi, dan berlalu pergi bersama suaminya.


Di lain tempat, ada seorang pria yang sedang berbahagia kala mendengar kematian Brian dari para mata-mata yang di kirim oleh nya di kediaman Brian.


"Tuan, ada jangan senang dulu. Dari info yang saya dapat, wanita itu kembali lagi. Mungkin saat ini ia yang akan mengambil alih kekuasaan Brian." ujar salah satu anak buah pria itu tanpa rasa segan sedikit pun.


Tawa pria itu seketika terhenti, ia menatap tajam pria di depannya.


"Apa maksudmu?" tanya pria itu dengan rahang mengetat.


"Ya, Nona Rania telah kembali, dan saat ini ia tinggal di mansion hutan anggur." jelas asisten pria itu.


"Minta anak buah kita menggali informasi di mansion itu, pantau segala pergerakan Rania, jika perlu minta mereka menghabisi dirinya." titahnya dingin.

__ADS_1


"Mungkin kali ini kita akan mengalami kesulitan, pasalnya Nona Rania tidak sendiri tinggal di mansion hutan anggur, melainkan ada Tuan Delta juga di sana." terang pria itu.


"Cari tau ada hubungan apa Rania beserta bedebah sialan itu."


"Baik Tuan. Jika tidak ada lagi, saya pamit undur diri."


Setelah kepergian orang kepercayaan nya, pria itu tampak menghubungi seseorang, ia hanya ingin memastikan saja mengenai informasi yang baru saja di terimanya. Kekesalan pun kian menyeruak kala sambungan telpon itu tidak di angkat oleh orang yang sangat di butuhkan oleh pria itu.


Braakkk


"Sial! kenapa Tuan Jeremy juga sulit di hubungi! apa jangan-jangan ia juga sudah tau mengenai kembali nya Rania ke mansion hutan anggur?" monolog pria itu sambil menjambak rambutnya penuh frustasi.


"Jika kembalinya kau hanya untuk mengacaukan segala kerja kerasku, akan aku pastikan kau mengikuti jejak Brian, Rania!" gumamnya penuh amarah.


Ya, pria itu ialah Millen Gustaf, pria yang menjadi prioritas utama Rania saat ini, pria itu tidak tau jika kematian Brian ada hubungannya dengan Jeremy, karena kematian Brian di sembunyikan sebab akibatnya karena Rania yang peka cukup tau jika di dalam mansion hutan anggur ada penyusup, maka dari itu ia meminta Maxi merahasiakan siapa dalang di balik kematian Brian.


Flashback On


"Max, sebab akibat kematian Ian tolong di rahasiakan terlebih dahulu, kau akan tau jawaban nya saat kita tiba di mansion hutan anggur." jelas Rania.


"Apa anda menyadari kejanggalan juga, Nyonya?" tanya Max yang merasakan keanehan dari beberapa pengikut mereka.


"Yupz, maka dari itu tolong rahasiakan terlebih dahulu, setelah aku berhasil menangkap basah para pengkhianat itu!"


"Baik Nyonya."

__ADS_1


Flashback Off


__ADS_2