
Setelah menyelesaikan makan siang nya, gadis cantik itu pun pamit untuk bekerja. Dengan mengandalkan sepeda buntutnya, ia mulai melaju di jalanan, entah kesialan apa, sepeda gadis itu tiba-tiba di serobot dari belakang, hingga ia jatuh terperosok di kubangan air.
Menyadari jika supir tersebut telah menabrak sesuatu, Ayla pun segera turun di ikuti Arta dan Eve.
"Maaf." cicit Ayla penuh rasa bersalah kala melihat gadis itu duduk di kubangan air.
Ayla pun mengulurkan tangannya untuk membantu gadis itu berdiri. Tanpa rasa jijik Ayla membersihkan lutut gadis itu yang berdarah.
"Arta, minta Pak Amin menghubungi temannya, biar Pak Amin pulang bersama mereka." seru Ayla.
Arta hanya menganggukkan kepalanya, tanpa protes karena ia sendiri merasa iba melihat kondisi gadis itu.
Tak membutuhkan waktu lama, sebuah mobil berhenti tepat di belakang mobil mereka. Menyadari itu, Ayla segera mendekati supir mobil tersebut.
"Pak Amin akan ikut di mobil kalian, kalian bisa mengikuti kami dari belakang." jelas Ayla.
"Baik Nona." balas pria itu sopan.
Ayla pun kembali mendekati Arta dan lainnya. Melihat gadis itu terus menundukkan kepala, Ayla pun mengedarkan pandangannya ke arah Arta yang memasang wajah datar nya.
"Jangan terus menunduk, kau tidak perlu takut dengan nya." ujar Ayla sambil mengusap pundak gadis itu.
"Kenalin, aku Ayla dan ini Eve calon istri pria datar itu, namanya Arta." ujar Ayla lagi memperkenalkan nama mereka.
"J-jihan." cicit sang gadis gugup.
"Kau ikutlah bersama kami, aku akan mengobati luka mu terlebih dahulu." ajak Ayla.
"T-tidak perlu Nona, saya harus bekerja jika tidak saya akan di pecat." tolak sang gadis lirih.
"Jangan menolak, masalah di tempat kerja mu akan aku atasi, kau tinggal memberikan alamat tempat kerjamu, biar aku minta ijin untukmu." seru Arta tegas.
__ADS_1
"Katakan saja di mana tempatmu bekerja, biar Arta segera menghubungi manager tempatmu bekerja." timpal Eve yang sedari tadi diam.
"Saya kerja di Wellington Cafe." ujar nya pelan.
"Itu kan Cafenya Uncle. Kau tenang saja, Manager Kin pasti akan memakluminya." seru Ayla kaget.
"Baiklah." seru Arta, setelah mengetahui tempat bekerja gadis itu, Arta segera menelpon seseorang.
Ayla sendiri perlahan mengemudikan mobil membela jalanan yang agak padat dan di ikuti beberapa mobil di belakang nya. Satu jam barulah mereka tiba di sebuah mansion megah yang berada di tengah-tengah hutan.
Arta, Eve dan Jihan tampak tercengang kala tau di hutan belantara itu terdapat sebuah mansion yang begitu megah, terlebih di setiap tikungan terdapat pos penjagaan, yang arti nya tidak sembarangan orang bisa masuk ke area hutan tersebut.
"Kak, beneran Kakak tinggal di sini? apa Kakak tidak takut, di sini pasti banyak hewan buas yang kapan saja bisa menyerang Kakak dan lainnya." tanya Eve bergidik ngeri.
"Ngapain takut, orang di taman belakang aja banyak hewan peliharaan Kakak kok." jawab Ayla santai.
"Jihan, kau tinggal di mana?" tanya Ayla saat melihat gadis itu tampak diam.
"A-ku tinggal di area perkumuhan yang ada di perbatasan Kota, Nona." jawab Jihan gugup, ia merasa tak pantas duduk satu mobil dengan ketiga orang asing yang ia yakini jika mereka orang-orang terpandang.
"Kau tak perlu merasa sungkan, di mata Tuhan kita itu sama derajatnya, okey." ujar Alya dengan tersenyum tulus.
Eve maupun Arta kembali di buat tercengang dengan ucapan Ayla yang tidak sedikitpun merendahkan kasta seseorang, meski ia terkesan dingin dan cuek, namun pembawaan nya yang suka berteman dengan siapapun membuat setiap orang yang ada di dekatnya menjadi nyaman.
Ke empat orang itu pun turun, Ayla kembali menuntun Jihan untuk ikut masuk bersama mereka. Setibanya di lobby utama, kedatangan mereka di sambut oleh belasan maid yang sudah berjejer menantikan kedatangan mereka.
Ana selaku kepala pelayan di mansion itu, perlahan menghampiri Nona mudanya.
"Nona bersihkan tubuh Nona terlebih dahulu, biar temen Nona, Kakak yang bantu." pinta Ana.
"Ya udah, Kak Ana tolong antar Jihan ke kamar tamu, Ay mau mandi dulu biar seger lagi." balas Ayla.
__ADS_1
"Oh iya, Kak Ana tolong siapin kamar tamu terpisah juga buat Eve dan Arta, rencananya Ay mau mereka bertiga nginap di sini biar Ay ada teman nya juga. Dan minta Kak Meri menyiapkan makan malam untuk kami." ujar Ayla lagi.
"Baik Nona." jawab Kak Ana.
"Terima kasih Kak Ana, Kak Ana memang yang terbaik." seru Ayla sembari berlari menuju lift.
*****
Mendapat kabar jika Ayla membawa seorang gadis tak di kenal ke mansion, membuat Galfin khawatir, pria itu yang sedang meeting pun di buat tak fokus. Meski ia sendiri tau kronologi yang terjadi hingga Ayla memilih mengajak gadis tersebut. Ketakutan membuat kewarasan pria itu lenyap seketika, tanpa berpikir panjang, Galfin meminta Mario untuk melanjutkan meeting tanpa peduli dengan ketidak setujuan sang clien.
"Meeting akan tetap berlanjut dengan Mario yang melanjutkan nya, ada hal darurat yang mengharuskan saya pergi saat ini juga." jelas Galfin sopan.
"Bagaimana bisa anda meninggalkan meeting di saat penandatanganan kontrak kerja belum juga terlaksana." jawab sang clien keberatan.
"Jika pun penandatanganan kontrak di antara kedua perusahan tidak terjadi, tidak masalah untuk perusahan kami, jika anda ingin melanjutkan kerja sama ini, silahkan lanjutkan bersama Mario." seru Galfin datar dan begitu mengintimidasi.
"Saya pamit undur diri." pamit Galfin tetap berlaku sopan dengan membungkuk kan tubuhnya.
Dalam perjalan Galfin terus fokus pada layar iPad di mana ia sedang mengawasi gerak-gerik yang ada di dalam mansion. Iya yang semula berada di Catania di haruskan berangkat ke Sisilia setelah mengajak ketiga keponakan nya untuk berbelanja siang tadi.
Entah mengapa jantung pria itu terus saja berdebar tak karuan, ia merasakan akan ada sesuatu yang terjadi. Di dalam capung besi itu, ia terus saja memperhatikan siluet seseorang yang seperti ia kenali tapi ia lupa siapa sosok tersebut.
"Kenapa wajah gadis itu begitu familiar? wajahnya mengingatkan ku pada seseorang di masa lalu, tapi siapa?" monolog Galfin yang mencoba mengingat siapa sosok tersebut.
Tiga jam berlalu, capung besi itu pun mendarat tepat di rooftop mansion Delta. Dengan langkah yang sedikit cepat, Galfin menuruni anak tangga menuju lantai 3 mansion, di mana lantai 3 itu ialah area bioskop yang sering kali di gunakan mereka untuk menghabiskan waktu bersama dengan Ayla.
Ayla dan lain nya tampak terkejut kala pintu ruangan itu di buka paksa dari luar hingga terdengar dentuman yang agak keras, Ayla mencebikkan bibirnya kala tau siapa pelakunya.
"Ayah." lirih Jihan pelan saat melihat siluet Galfin.
"Uncle ingin bicara denganmu, temui Uncle di ruang kerja Uncle sekarang." titah Galfin dengan pandangan terus meneliti gadis yang berada di samping Eve.
__ADS_1
"Baik Uncle." balas Ayla yang tau apa yang akan di bicarakan Uncle nya.
Ayla pun perlahan bangkit, dan pamit sebentar kepada ketiganya. Setelah meyakinkan gadis itu untuk tidak takut dan percaya jika Uncle nya tidak marah dengan adanya keberadaan gadis tersebut.