
"Selamat pagi Tuan Jeremy." sapa Delta setelah melihat Galfin yang sudah kembali. Delta pun mengulurkan tangan nya untuk berjabat tangan dengan rekan bisnis nya.
"Selamat pagi juga Tuan Delta." balas pria itu sembari menerima uluran tangan Delta.
"Maaf kami datang terlambat karena jalanan cukup macet di pagi hari, apa anda menunggu kami dengan waktu lama?" tanya Delta merasa tak enak hati, meski diri nya memiliki kecurigaan kepada pria ini, namun mengingat ia masih bersikap profesional dalam pekerjaan nya.
"Tidak apa, anda hanya telat lima menit saja dari waktu yang kita sepakati. Itu juga bukan waktu yang banyak untuk terbuang sia-sia." balas pria itu dengan tersenyum ke arah Delta.
"Baiklah, untuk pembangunan proyek baru mengenai resort nanti, konsep nya telah kami kirimkan sejak seminggu yang lalu. Apa anda sudah melihat nya?" Delta memulai pembicaraan mereka.
"Sudah saya terima, dan mengenai material anda tidak perlu khawatir akan hal itu, saya akan segera usahakan permintaan anda dalam waktu dekat ini, mungkin tiga hari kedepannya anda bisa mensurvei lokasi nya." balas pria itu serius.
Galfin membuka berkas penandatanganan kesepakatan kerja sama mereka. Ia pun menyodorkan berkas tersebut ke arah Jeremy, Jeremy membaca setiap klausal yang ada di kontrak kerja mereka, setelah nya ia pun segera menandatangani berkas tersebut.
Mereka terlibat obrolan yang cukup panjang hingga lupa waktu, Delta pagi tadi tidak ikut sarapan dengan Rania, ia pun memberi isyarat kepada Galfin untuk menyudahi rapat tersebut, diri nya merasa lapar, Galfin maupun Delta pamit dari ruangan itu, namun belum sempat diri nya keluar ia mendial nomor Rania, ia begitu mengkhawatirkan Rania namun tak kunjung mendapat jawaban, ia pun segera mendial nomor rumah.
"Mbok, Rania sedang apa saat ini? sejak tadi saya menghubungi nya namun tak kunjung di jawab oleh nya." tanya Delta khawatir.
"Itu Tuan, Nyonya muda mengalami mimpi buruk, dan saat ini sedang duduk di tepian kolam mungkin ponsel Nyonya muda sedang di kamar Tuan." jelas Mbok Lin.
__ADS_1
"Mimpi buruk?" tanya Delta memastikan, dan mulai melangkah keluar dari ruangan itu.
Pria yang menjadi rekan bisnis Delta tampak menyunggingkan seutas senyum mengerikan, ia menatap tajam punggung Delta.
Aku belum bermain dengan mu Rania, kenapa kau sudah mengalami mimpi buruk? jika kau suka sekali dengan mimpi buruk, baiklah aku akan menjadi mimpi buruk setiap hari mu! dan untuk kamu Delta, aku sudah menyiapkan kejutan besar untuk mu!
Setelah makan siang, Delta kembali sibuk dengan beberapa meeting di tempat berbeda. Hari ini adalah hari yang begitu melelahkan bagi Delta, pasal nya sejak kepergian Rania ia lupa akan tugas nya, maka dari itu kali ini ia harus ekstra dalam menyelesaikan beberapa kerja sama yang sudah melibat kan perusahannya sejak tiga bulan lalu.
"Apa kamu yakin dengan perkataan kamu tadi?" tanya Delta di sela-sela keberangkatan mereka menuju cafe yang akan menjadi tempat pertemuan meeting nya yang kedua.
"Saya yakin, Tuan. Sejak tadi pun saya mulai mencari informasi mengenai Jeremi namun tak satupun yang saya dapat kan, tak ada jejak apapun dari Jeremy yang dapat membantu kita, jejak digital tak menampil kan informasi pribadi mengenai Jeremi, tapi ada yang ganjal saat saya membuka profil nya, wajah nya seperti tidak asli, karena saya menemukan jika saat ini ia menyamar menjadi seorang yang bernama Jeremi dengan memakai silikon sketsa wajah Jeremi yang asli." jelas Galfin dengan detail.
"Cari tau apa saja kesibukan Jeremi, jika perlu ikuti kemana pun ia pergi." awal nya Delta tak memperdulikan namun ia mencoba menelaah setiap ucapan Galfin yang berbicara mengenai silikon wajah yang bisa merubah kepribadian seseorang dengan wajah orang lain.
"Saya sudah meminta Khalif untuk meninjau segala gerak gerik Jeremi agar memudahkan kita mencari tau apa tujuan dirinya terhadap Nyonya muda." balas Galfin.
"Kau sungguh bisa di andalkan Galfin." puji Delta dengan kinerja Galfin yang sangat memuaskan selama bekerja bersama nya.
Masih di rumah Delta, Rania merasa sangat bosan, pasal nya ia tidak di ijinkan oleh Delta untuk beraktifitas yang menurut pria itu akan membuat tubuh nya lelah dan pasti berdampak pada kesehatan nya.
__ADS_1
Tuhan aku bagaikan patung pajangan di rumah ini, jika saja pria tua gila itu tidak menemukan keberadaan ku, mungkin saat ini aku sedang mengajari anak-anak didik ku di rumah kecil ku. gumam Rania dengan kesal nya.
Hari berlalu dengan cepat nya, setelah makan malam kini Rania sedang duduk di ruang tamu sembari menonton tayangan berita kuliner, berulang kali ia menelan saliva nya saat melihat menu makanan yang sedang di santap oleh pembawa acara tv tersebut.
"Nak apa kamu menginginkan makanan itu? seperti nya kau ingin sekali." Rania berbicara dengan perut nya, dan semua gerak gerik Rania di pantau langsung oleh Delta meski di kejauhan.
Delta tersenyum melihat Rania yang mengajak janin di perut nya berbicara. "Akan aku belikan jika kalian berdua menginginkan makanan itu." ucap Delta dan meminta Galfin mengantar nya ke tempat penjual makanan yang membuat istri nya berulang kali menelan saliva nya.
"Cari di mana makanan ini di jual!" titah nya saat sudah memasuki mobil sembari menunjuk gambar yang ada di ponsel nya.
Galfin mengangguk, namun sepersekian detik menggeleng. Seperti tau apa yang sedang di pikirkan Galfin, Delta pun kembali berucap.
"Ini untuk Rania, jadi tidak usah berpikir berlebihan." ketus Delta yang merasa kesal dengan Galfin.
Galfin nyengir kuda, dan mengangguk. Tiga jam lama nya Galfin beserta Delta menyusuri setiap sudut kota A namun tak kunjung menemukan penjual yang menjual makanan yang di minati Rania, Delta kesal dengan Galfin karena terus saja berputar putar di tempat yang sama.
"Hey, apa yang kau lakukan? sudah tiga jam berlalu kau masih saja berputar putar. Apa kau ingin anak saya menunggu lebih lama lagi!" teriak Delta dengan kekesalan nya.
Tepat pukul sebelas malam, Delta akhir nya kembali dengan membawa makanan yang di ingin kan Rania, meski awal nya ia kesal dengan Galfin tapi untunglah makanan itu mereka dapatkan meski terbilang jika aksi mereka sangat gila dengan menggedor pintu rumah penjual yang sedang istirahat.
__ADS_1