
"Sejak kapan kau mengetahui Arash salah satu pengkhianat di mansion ini?" tanya Jibril setelah kepergian Arash.
"Feeling aja." kilah Rania.
"Apa yang sebenarnya kau ketahui mengenai Arash?" kali ini Baritone itu berasal dari Alden.
"Tidak ada." jawab Rania setenang mungkin.
"Kau tidak pandai berbohong, Zi. Apa kau tidak memercayai kami?" seru Alden marah karena Rania masih saja belum mau terbuka dengan mereka.
"Mana ada teori seperti itu di antara kita! jangan lebay deh, aku bukan nggak percaya sama kalian, tapi aku sudah berjanji kepada Ian untuk tidak membuka identitas Arash di saat Mommy nya Arash masih menjadi tawanan Millen. Tapi aku janji secepatnya kalian bakalan tau siapa Arash dan mengapa aku tidak mempermasalahkan mengenai apa yang ia lakukan saat ini." jelas Rania jujur.
"Baiklah kami tidak akan membahas masalah itu lagi, tapi ingatlah jika kamu masih memiliki hutang penjelasan kepada kami." seru Alex menengahi saat melihat Alden 6ang hendak protes.
"Terima kasih kalian sudah mau ngertiin posisi aku. Tapi ada hal yang lebih penting yang ingin aku diskusikan bersama kalian. Dan aku tidak akan memaksa kalian untuk terus terjun ke dunia ku, jika kalian tidak ingin." terang Rania lagi.
"Masalah kamu, akan menjadi masalah kita juga, maka dari itu jelaskan tujuan kamu mengumpulkan kami di sini." ujar Garan.
"Kalian tau bukan siapa Millen sebenarnya, ia bukan hanya seorang petinggi di kedutaan tapi ia juga salah satu pimpinan dari salah satu klan mafia terkuat kedua setelah kepemimpinan Ian. Peperangan pasti akan terjadi saat berita kematian Ian di ketahui publik, maka dari itu aku memerlukan bantuan kalian terutama kepada suamiku, karena ia juga berkecimpung di dunia bawah tanah sudah sejak lama. Aku ingin Mas beserta Kak Jibril, Alex dan Garan untuk menjalin hubungan kerja sama bersama Millen, karena sejauh ini yang aku tau Millen sendiri sangat ingin menjalin hubungan kerja sama dengan klan yang Mas dan lainnya naungi. Aku harap Mas mau membantu ku, tapi jika Mas dan lainnya tidak ingin, aku bisa mengarahkan Eiger Met untuk menjalin kerja sama bersama Millen." ujar Rania panjang lebar.
Mata semua orang melotot tak percaya mendengar satu klan yang tak tersentuh itu di sebut oleh Rania. Siapa yang tidak mengenal klan Eiger Met. Klan yang selalu bermain di belakang layar namun berhasil menduduki peringkat kesatu di dunia bawah tanah yang begitu di takuti di beberapa negara maju, klan itu juga sangat sulit di dekati, terlebih pemimpin klan tersebut begitu misterius.
"Apa kau sedang bercanda? lebih baik buang jauh-jauh pemikiran kamu mengenai itu! jangan mencari masalah dengan klan itu, karena sejauh yang kita tau, pimpinan klan itu begitu dingin dan tak tersentuh, kita saja yang berkecimpung di dunia bawah tanah begitu sulit mencari tau siapa pimpinan itu." tegur Alex yang tak habis pikir dengan pikiran istri sahabat nya itu.
__ADS_1
"Selama kesepakatan yang aku berikan menguntungkan untuk mereka, aku yakin semua nya akan berjalan sesuai rencanaku, karena sejauh ini tidak ada kata tidak mungkin untuk seorang Rania." ucap Rania berbangga diri.
"Sayang, jangan aneh-aneh deh. Mas tau maksud kamu baik, tapi jangan terlibat terlalu jauh, karena Mas takut kau akan terjebak dalam permainan mu sendiri." kali ini Delta yang berbicara.
"Yakinlah Mas, semua nya akan baik-baik saja. Toh aku sudah menghubungi asisten pimpinan itu dan mungkin saat ini ia sedang di tahan di pos depan mansion." ucap Rania menyakinkan suaminya.
Semua yang berada di situ pun tampak membelalak kaget kala mendengar ucapan Rania, mereka tak menyangka jika Rania bisa sejauh dan sematang ini untuk menyelesaikan misi nya, wanita itu juga terlihat tak gentar dengan segala kemungkinan yang akan terjadi saat diri nya memilih melibatkan Klan terkuat itu dalam misi nya saat ini. Ada ketakutan tersendiri di hati mereka, takut akan sesuatu hal buruk menimpah Rania dan juga Delta.
"Kami akan tetap membantu mu, tapi batalkan segala kesepakatan di antara kamu dan juga Klan Eiger Met, apapun alasan nya jangan pernah terlibat terlalu jauh dengan Klan itu." penolakan tegas itu terucap dari bibir seorang Alden yang biasa nya bersikap lebay.
"Maaf, keputusan ku sudah bulat!" ucapan singkat itu menjadi pertanda jika keputusan wanita itu sudah mutlak dan tak terbantahkan.
Tok..tok..tok..
"Kak, Tuan Gailel, sudah tiba." ujar Arash saat sudah di persilahkan masuk.
"Antarkan ia kesini, Arash." jawab Rania.
"Baik Kakak, jika tidak ada lagi, aku pamit undur diri." pamit Arash dan perlahan melangkah mundur.
Tak berselang lama, pintu ruangan itu kembali di ketuk dari luar. Max pun kembali membuka pintu ruangan itu lagi. Tepat saat pintu itu terbuka, tampak lah sesosok pria bertubuh tinggi tegap berdiri dengan membungkuk hormat ke arah Rania.
"Silahkan masuk, Tuan Burkhan." sambut Rania.
__ADS_1
"Grazie, signora." balas pria itu dengan membungkuk sopan.
"Non rovinare tutto solo con la tua sbadataggine, Gail. Comportati come noi come soci nelle transazioni d'affari. Non creare loro scappatoie per scoprire chi sono veramente."
(Jangan buat semua nya hancur hanya dengan kecerobohan kamu, Gail. Bersikap lah layak nya kita sebagai seorang rekan dalam melakukan transaksi bisnis. Jangan buat celah untuk mereka mengetahui siapa aku sebenarnya.)
"Va bene signora, mi perdoni se sono presuntuosa nel rivelare la sua identita davanti alla gente." balas pria itu dengan tubuh menegang sempurna.
(Baiklah Bu, maafkan saya jika saya lancang mengungkapkan identitas Anda di depan orang-orang.)
"Silahkan duduk, Tuan Burkhan." ucap Alden.
"Grazie Signore." balas pria itu dengan wajah datar nya.
Rania pun mulai mejelaskan segala maksud dan tujuan nya meminta Gail untuk datang ke negara nya, semua orang tertegun dengan setiap ucapan yang di lontarkan oleh Rania. Beberapa kali juga Rania berbicara menggunakan bahasa Italia, yang ia yakini jika semua yang berada di ruangan itu pasti tidak akan mengerti saat ia memberikan arahan kepada Gail.
Setelah perbincangan yang cukup panjang, dan menemukan titik temu, Rania pun segera beranjak dan mengajak semua nya untuk makan malam.
"Baiklah, mari kita akhiri pembicaraan ini. Aku sudah terlalu lapar dan kalian juga pasti merasakan hal yang sama seperti ku. Ayo." ajak Rania sambil merangkul lengan suami nya dengan manja.
Semua yang ada di ruangan itu hanya bisa mengulum senyum saat melihat perubahan ekpresi Rania yang awal nya dingin dan datar berubah lembut dan manja di lengan suaminya.
Mereka pun beranjak dan berjalan di belakang sepasang suami istri itu, mereka bagaikan seorang pengawal yang mengawal langkah Raja dan Ratu yang begitu agung di depan mereka tak terkecuali Gail sendiri menyunggingkan seutas senyum melihat binar bahagia dari majikannya.
__ADS_1