Istri Paksa Tuan Mafia

Istri Paksa Tuan Mafia
75. Mari bercerai.


__ADS_3

"Ada hubungan apa di antara kalian bersama Istri saya?" tanya Delta dengan dinginnya. Pria itu sudah cukup bersabar tidak menanyakan perihal ini sejak seminggu yang lalu.


Gian yang mendapat pertanyaan itu pun, gugup setengah mati, entah apa yang harus ia jawab saat ini, ia tidak mungkin membuka identitas pimpinan nya itu karena ia tidak memiliki kewajiban untuk membuka semua nya.


"Signore, bisa menanyakan itu kepada Signora karena saya tidak memiliki hak dan kewajiban untuk berbicara di sini." jawab Gian tegas, wajah pria itu pun kembali datar.


"Ck! sudah seperti ini kau masih saja menutupinya dari kami, ayo katakan?" desak Alden sambil menatap Gian dengan tajam nya.


Mendapat tatapan seperti itu tidak membuat seorang Gian terintimidasi sedikit pun, pria itu tetap pada pendirian nya untuk tetap selalu bungkam mengenai perihal identitas pimpinan nya yang tidak boleh sembarangan orang yang tau.


"Sekalipun kalian menembaki nya, Gian tidak akan pernah membuka mulut nya. Aku pimpinan Eiger Met, aku yakin kalian tidak akan percaya, oleh karena itu aku menutupinya dari kalian." seru Rania saat melihat Alex dan Alden yang hendak mencecar pertanyaan kepada Gian lagi.


Tubuh semua orang membeku sempurna, Gian sendiri sudah beranjak dari duduknya sambil membungkuk ke arah Rania. Jantung Delta seakan berhenti berdetak, ia tidak menyangka jika istrinya ialah seorang yang selama ini di takuti di beberapa negara maju, rasa ketidak percayaan diri dalam dirinya pun perlahan tumbuh, ia merasa ia bukan pria yang tepat untuk bersanding dengan wanita yang memiliki kesempurnaan seperti istrinya.


"Kebohongan apa lagi yang kau sembunyikan dariku?" tanya Delta dingin, terlihat jelas jika pria itu mengepalkan tangannya.


Deg


****


Kembali ke rumah sakit.


Alfi dan Brayen tak henti-henti berjalan kesana kemari di depan pintu ruang operasi. Rasa takut kian menggerogoti hati dan pikiran mereka, sungguh mereka mengkhawatirkan kondisi Gail yang hingga saat ini belum ada kejelasan dari pihak dokter maupun para suster yang ikut mendampingi Gail di dalam ruang operasi.


"Suster ada apa?" tanya Alfi saat melihat dua orang suster yang keluar berlarian dari ruang operasi.


"Pasien mengalami pendarahan hebat. Saya permisi Tuan." balas sang suster dan kembali berlarian entah kemana.


Seketika tubuh kedua pria itu luruh ke lantai, otot-otot di kaki mereka seakan tak ada lagi, mereka menangis dalam diam.


"Aku yakin Gail pasti melewati masa kritisnya, ia pria tangguh, ia tidak mungkin meninggalkan kita." gumam Alfi yakin, meski jauh di lubuk hati nya yang paling dalam menyangkal kemungkinan itu.

__ADS_1


"Ya, Gail pasti bangun. Aku akan menghubungi Signora." timpal Brayen mencoba tetap tenang.


Pria itu pun perlahan menempelkan ponselnya ke telinga, sambungan telpon itu segera terhubung.


"Brayen, ada apa? apa terjadi sesuatu kepada Gail?" tanya Rania dengan jantung kembali berdebar.


"Signora, Gail--."


Belum sempat Brayen meneruskan ucapan nya, Rania segera memutuskan sambungan telpon tersebut.


Brayen pun menjauhkan ponselnya dan melihat layar ponselnya, panggilan itu sudah terputus.


"Ada apa?" tanya Alfi.


"Entahlah, mungkin Signora sedang dalam perjalanan kesini." jawab Brayen bingung.


*****


"Aku mencoba menahan segala rasa ingin tau ku sejak seminggu yang lalu, tepat saat kedatangan Gail ke mansion hutan anggur. Kau tau, aku menunggu penjelasan mu sejak malam itu, namun nyata nya kau tak pernah mengatakan apapun kepadaku. Jika saja hal ini tidak menimpah Gail, mungkin semua kenyataan ini tidak akan pernah terungkap dan kamu sendiri pun akan menutupi satu kebohongan dengan kebohongan yang lain." teriak Delta marah.


Semua orang hanya diam mendengar kemarahan Delta, mereka juga kecewa dengan sikap yang di ambil Rania, oleh karena itu mereka membiarkan saja Delta mengeluarkan unek-unek di hatinya.


"Mari bercerai." dua kata yang berhasil membuat semua orang membeku sempurna.


Deg


Bagai di sambar petir di pagi hari, andaikan tidak ada Anhet di samping Rania, mungkin Ibu dua anak itu sudah luruh ke lantai. Seketika bulir air mata membasahi pipi Rania, rasa sesak hinggap di hati Rania kala mendengar ucapan suaminya.


"D, apa yang kau katakan? semuanya bisa di bicarakan baik-baik." tegur Jibril dengan keputusan Delta.


"Tidak ada yang perlu di bicarakan lagi, semua nya sudah jelas. Kelak carilah pria yang bisa menerima semua kebohongan yang akan kamu katakan terus menerus." ucap Delta sarkas dan berlalu pergi dari sana.

__ADS_1


Alex dan Garan hendak menyusul, namun langkah kaki mereka terhenti kala mendengar ultimatum yang Delta ucapkan.


"Jangan ikuti aku, atau persahabatan di antara kita juga akan berakhir!" ucap Delta tegas dan tidak ingin di bantah.


"Mas tunggu." ucap Rania berlarian ke arah Delta. Tanpa rasa takut dengan kemarahan suaminya, ia memeluk tubuh Delta dengan eratnya.


"Hukum aku jika kamu mau, Mas. Pukul aku jika itu semua bisa membuat kamu memaafkan aku." ucap Rania lirih.


"Semua nya sudah berakhir." seru Delta lantang sambil melepas kaitan tangan Rania di tubuhnya.


"Mas aku minta maaf." lirih Rania dengan tubuh yang sudah luruh ke lantai.


"Ra, tenangkan pikiran kamu, Delta memerlukan waktu untuk menenangkan pikirannya, aku yakin jika ucapan Delta barusan hanya emosi sesaat." ucap Alden mendekap tubuh sahabatnya.


"Aku harus apa Al? Delta bukan orang yang mudah mengambil keputusan tanpa berpikir, ia pria yang memiliki komitmen. Aku tidak ingin bercerai, bantu ku Al." mohon Rania dengan air mata yang terus menerus jatuh.


"Gail memerlukan kamu, Ra. Masalah di antara kamu dan Delta akan kita pikirkan nanti, Gail lebih membutuhkan kamu saat ini." ucap Jibril mengalihkan fokus Rania.


Seperti tersadar, Rania pun perlahan-lahan mengendurkan pelukannya dari tubuh Alden.


"Kalian mau kan menemaniku melihat kondisi Gail?" tanya Rania dengan pupil eyes nya.


Semua pun mengangguk. Anhet beserta Alden pun membantu Rania berdiri kembali.


****


"Gaf, bagaimana kondisi kamu?" tanya Delta saat sudah berada di markas.


"Sudah lebih dari cukup bos, biarkan aku bekerja lagi, sudah seminggu berlalu dan kau masih saja memintaku untuk rehat." keluh Galfin.


"Baiklah jika itu maumu, tolong urus perceraian ku dengan Rania. Cukup kerjakan apa yang aku minta." ucap Delta dengan aura yang sangat berbeda dari yang biasa nya di lihat oleh Galfin.

__ADS_1


"Segera di laksanakan bos." balas Galfin pasrah. Meski ia sendiri enggan untuk melakukan tugas pertamanya itu, tapi sosok Delta ialah orang yang tidak ingin siapapun membantah segala titah dan ucapannya.


__ADS_2