Istri Paksa Tuan Mafia

Istri Paksa Tuan Mafia
50. Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

Sejak kepulangan mereka dari Villa seminggu yang lalu, hubungan pernikahan keduanya pun perlahan lahan kembali harmonis, Delta selalu meluangkan waktu makan siang nya untuk makan bersama sang istri entah itu di kantor atau di luar kantor.


Seperti saat ini, sepasang suami istri itu tengah jalan-jalan di salah satu pusat perbelanjaan milik keluarga Ammar. Dengan penuh kehati-hatian Delta menuntun sang istri memasuki salah satu butik milik Mommy nya.


Kedatangan keduanya di sambut antusias oleh para pegawai butik.


"Selamat datang Tuan Nyonya. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya salah satu pegawai dengan menunduk hormat.


"Berikan pakaian terbaik yang ada di butik ini." titah Delta dengan wajah datarnya.


"Baik Tuan muda." balas sang pramuniaga dan kembali menuntun Rania ke arah pajangan pakaian khusus wanita hamil.


Rania pun mulai memanjakan matanya dengan segala aneka ragam pakaian hamil. Pandangan Rania jatuh pada salah satu dress selutut berwarna putih dengan aksen pita kecil di bagian dada.


"Nona, tolong ambilkan yang itu, saya ingin melihatnya." pinta Rania sambil menunjuk dress yang berada di patung pajangan.


"Baik Nyonya akan saya ambilkan untuk anda." jawab sang pramuniaga sambil melempar senyum ke arah Rania.


Rania kembali melangkahkan kaki nya menuju arah lain sambil menunggu sang pramuniaga mengambil dress yang ia inginkan. Saat sedang memilah beberapa pakaian Rania tidak sengaja menyenggol seorang wanita paru baya yang sedang melihat lihat beberapa pakaian hamil juga.


"Maafkan saya Nyonya." ucap Rania sembari menunduk sopan.


"Tidak masalah, toh kamu juga tidak sengaja kan." balas wanita paru baya itu dengan suara yang begitu lembut.


Rania pun perlahan menengadah menatap sosok di depannya. Tubuh Rania membeku sempurna kala melihat siapa sosok yang baru saja ia senggol, ada desiran aneh pada dirinya, tanpa bisa di tahan setetes air mata meluncur dengan sendirinya. Wanita di depan Rania juga tak kalah terkejut sama seperti Rania, ada rasa rindu yang membuncah pada sosok wanita paru baya itu, ingin sekali wanita itu mendekap tubuh wanita hamil di depannya. Seketika juga bulir air mata wanita paru baya itu mengalir dengan begitu derasnya.

__ADS_1


"Arezha." gumam wanita paru baya itu dengan lirihnya.


Mendengar sang istri menyebutkan nama Arezha, pria yang berdiri tepat di belakang wanita paru baya itu pun membalikkan badannya, ia terkejut dan tak percaya takdir bisa mempertemukan mereka secepat ini.


Melihat sosok yang berdiri di belakang wanita paru baya itu membuat Rania segera menghapus kasar bulir air matanya, ia pun perlahan melangkah mundur, ada rasa marah dan kecewa kepada kedua sosok di depannya. Entah mengapa keyakinan akan kedua orang itu adalah orang tua kandungnya membuat hati Rania begitu sakit, sakit akan apa yang menimpanya selama ini, dan untuk saat ini sungguh Rania tidak ingin bertemu dengan mereka.


Melihat sang istri yang seperti tidak nyaman dengan pertemuan saat ini, Delta pun segera menghampiri istrinya.


"Ada apa?" tanya Delta lembut meski ia sendiri sudah tau apa penyebab kegelisahan sang istri.


"Mas, kita pulang aja. Aku capek." ajak Rania dengan suara lirih menahan tangisannya.


"Ya sudah, ayo." balas Delta sembari menggenggam jari jemari sang istri dengan eratnya.


Melihat sang anak dan menantu mereka yang hendak pergi, wanita paru baya itu pun segera berlari ke arah keduanya.


"Maaf, saya rasa saya tidak mengenal anda Nyonya. Kami sedang buru-buru, sekali lagi maaf." tolak Rania tegas dan kembali menarik lengan sang suami keluar dari butik tersebut.


Kedua pasangan suami istri itu pun benar-benar meninggalkan butik tersebut tanpa mau tau bagaimana kondisi wanita paru baya itu yang menangis di dalam butik.


"Ayah, bagaimana ini? Arezha benar-benar menjaga jarak dari kita, apa mungkin Arezha tau siapa kita?" pertanyaan demi pertanyaan ia lontarkan saat sang suami mendekapnya.


"Tenanglah Bun, Ayah sudah berencana jika sebentar nanti kita akan mengunjungi perusahan menantu kita, Ayah akan mencoba berbicara dengan menantu kita. Jangan menangis lagi." Burack mencoba menenangkan sang istri yang terlihat gelisah saat ajakan nya di tolak oleh sang anak.


Sepanjang perjalanan kembali ke perusahan, Rania terus saja diam, Delta yang menyadari perubahan pada sikap sang istri yang hanya diam sambil melihat ke arah jendela luar pun hanya membiarkan saja, ia yakin jika sang istri pasti membutuhkan waktu untuk menenangkan diri setelah pertemuan tak terduga barusan.

__ADS_1


Sudah setengah jam berlalu, setiba nya di ruangan nya, Delta menuntun sang istri untuk beristirahat di ruang private. Delta kembali menyelesaikan pekerjaan nya. Pria itu tampak sedang memikirkan sesuatu, hingga pekerjaan nya sejak tadi tidak selesai-selesai. Tepat pukul empat sore, ruangan pria itu di ketuk dari luar.


Tok


Tok


"Masuklah!" sahutnya dari dalam.


"Bos, di luar ada Tuan Burack Hanthoni bersama Istrinya, beliau ingin bertemu dengan anda." jelas Galfin yang sudah tau siapa kedua sosok paru baya tersebut.


Delta tampak terkejut mendengar kedatangan sang penguasa bisnis sekaligus mertuanya tersebut, Delta tampak berpikir sejenak sebelum meminta Galfin mempersilahkan sang tamu untuk masuk.


"Suruh masuk saja, Fin!" titahnya.


"Baiklah, saya pamit undur diri dulu." seru Galfin kembali dan segera meninggalkan ruangan atasannya.


Delta pun dengan cepat melangkah kan kaki nya menuju ruang private untuk memastikan jika sang istri benar-benar terlelap, setelah memberikan kecupan hangat di dahi sang istri, Delta pun kembali melangkah kan kaki nya keluar dari ruang private tersebut.


"Silahkan duduk Tuan dan Nyonya Hanthoni." Delta mempersilahkan sang tamu untuk duduk.


"Terima kasih Tuan Ammar." balas Burack tak kalah sopan nya.


"Maafkan kami yang datang berkunjung di waktu sibuk anda, ada beberapa hal penting yang ingin saya bicarakan dengan anda mengenai istri anda, jika anda tidak keberatan apakah bisa?" jelas Burack tentang maksud kedatangan mereka.


"Silahkan Tuan, anda tidak perlu terlalu sungkan dengan saya." balas Delta mempersilahkan.

__ADS_1


Burack pun mulai menceritakan kejadian yang sebenarnya tanpa ada yang di tutup-tutupi lagi, awal mula kenapa mereka mengasingkan Rania juga mereka ceritakan, dan Delta sendiri syok mendengar kebenaran tersebut, ia yakin jika kedua paru baya itu cukup tersiksa karena harus menelan pil pahit berpisah dengan anak semata wayang mereka hingga puluhan tahun


__ADS_2