
"Bawa Rania kembali!" marah Delta dengan tatapan membunuh.
Galfin menunduk takut, dengan perlahan ia melangkah kan kaki nya ke arah Rania.
"Nyonya, Tuan meminta saya untuk mengantar anda kembali ke mansion. Mari." ajak Galfin dengan suara pelan nya.
Rania menatap Galfin sekilas lalu ia kembali memandang Delta yang berada di dalam mobil.
"Rania menyingkir lah! aku tidak segan-segan menabrak kamu!" bentak Delta dengan perasaan campur aduk, kesal, marah entah lah.
"Jika dengan kematian ku kau terbebas dari belenggu pernikahan gila ini maka lakukan lah, ayo tabrak aku!" balas Rania dengan dingin, ia tak menyangka jika Delta akan berucap seperti itu.
Ketiga sahabat Delta mematung mendengar ucapan dingin wanita hamil itu, mereka pun segera berlari ke arah Rania. Menyadari itu Rania memberi isyarat ketiga pria itu dengan mengangkat salah satu tangan nya.
"Aku tidak membutuh kan belas kasih kalian, jadi berhentilah di situ!" ucap Rania sarkas tanpa mengalihkan pandangan nya dari Delta.
Ketiga pria itu pun mengikuti kemauan Rania, Jibran tau jika saat ini wanita hamil itu sedang menahan tangisan nya.
"Rania menyingkir lah!" bentak Delta sekali lagi.
Namun sayang, Rania bukan wanita yang mudah di intimidasi, ia tak menggubris segala bentak kan Delta, namun jauh di lubuk hati nya, ia merasakan sesak di dada nya, andai sejak tadi ia berpikir untuk tidak menyetujui keinginan Galfin mungkin ia tidak akan semalu sekarang, namun mengingat semua nya telah terjadi Rania pun tetap berdiri tegap di depan mobil Delta. Namun sejurus kemudian Rania tersenyum menyeringai dan senyum itu sungguh menakutkan. Jibran dan lain nya tampak bergidik ngeri melihat senyuman Rania.
__ADS_1
Di detik berikut nya, Rania berjalan ke salah satu mobil yang berada tepat di samping mobil Delta. Awal nya Jibran dan lain nya pikir jika Rania melunak dan tak ingin membuat Delta makin marah, namun keterkejutan kembali melanda mereka kala Rania masuk ke mobil milik Jibran.
"Hey Nona, apa yang anda lakukan? turunlah." bujuk Alex merasa khawatir dengan istri sahabat nya.
Delta berulang kali memukul stir mobil kala melihat apa yang sedang di lakukan Rania, ia marah, kesal dengan diri nya. Karena keegoisan nya, Rania malah ingin mencelakai diri nya sendiri. Delta pun turun dan mengitari mobil dan berjalan ke arah mobil Jibran di mana dalam mobil itu ada istri nya yang sedang hamil.
Delta dengan gerakan cepat telah membuka pintu mobil tersebut, saat pintu terbuka hati Delta seperti di tusuk-tusuk beribu belati kala melihat pemandangan di kursi kemudi.
"Rania!" lirih Delta dengan mata berkaca kaca.
Rania tak menjawab, ia menangis dalam diam. Kepala nya menunduk di stir mobil, Delta tau jika saat ini Rania menangis. Ada rasa sesal di relung hati nya, Delta pun berjongkok sembari mengelus rambut istri nya.
"Jangan sentuh aku!" Rania menepis tangan Delta. "Aku benci kamu, Delta." ucap Rania lirih di sela-sela tangisan nya.
"Sudah puas?" sarkas Rania yang mengangkat kepala nya menatap ke arah Delta yang berada di samping nya.
Wanita hamil itu tidak tau apa yang dirasakan saat ini kala mendengar suara bergetar Delta, entahlah. Tatapan mata mereka terkunci satu sama lain, tak ada yang berbicara lagi.
"Maaf!" ucap Delta lagi memecah keheningan di antara mereka.
"D, ajak istri mu kembali, ia kehujanan mungkin saat ini tubuh nya demam." ucap Jibran yang khawatir dengan istri sahabat nya.
__ADS_1
"Pulanglah bersama Galfin." ucap Delta pada akhir nya.
"Tidak perlu! aku bisa kembali sendiri." balas Rania dingin, ia pun mendorong Delta hingga pria itu terhuyung kebelakang. Jibran dan lain nya terbelalak kaget melihat Delta yang terduduk di lantai sirkuit yang begitu dingin.
Rania turun dan berlalu pergi namun seketika tubuh nya membeku kala sebuah lengan melingkar di perut nya.
"Maaf!" bisik Delta dengan lirih nya. Rania speechless, jantung nya berdegup kencang, lidah nya terasa keluh, ada rasa sesal di hati nya kala melihat kesungguhan Delta.
"Maaf untuk segala nya, segala keegoisan aku selama ini, sikap aku yang selalu membuat kamu marah, aku hanya tidak tau cara meminta maaf. Tuntun aku untuk menjadi lebih baik, aku mohon jangan tinggal kan aku, Ra." ucap Delta dengan terisak, sesaat ia melupakan images nya sebagai seorang mafia yang di takuti.
Mendengar setiap ucapan penyesalan Delta, membuat Rania terdiam sesaat. Andai saja pernikahan mereka di dasari oleh sebuah cinta, mungkin pengakuan Delta akan membuat Rania bahagia, namun sayang, kebencian Rania terhadap Delta sudah sangat membekas di hati nya, ia tidak mungkin menjanjikan sebuah pernikahan yang normal, ingin sekali Rania menimpali setiap ucapan Delta, namun entah mengapa ucapan nya seperti tertahan di tenggorokan.
Bulir air mata yang tadi nya berhenti, kini mengalir kembali membasahi pipi nya, setetes air mata jatuh tepat di pergelangan tangan Delta, menyadari itu Delta mengurai pelukan nya, dengan lembut ia membalik kan badan Rania menghadap ke arah nya. Rania menunduk, ia tak sanggup menatap manik mata suami nya. Mungkin kah ia berdosa telah menyakiti hati suami nya?
Delta menarik Rania masuk kedalam dekapan nya, ia memeluk erat tubuh Rania. Rania menangis di dalam pelukan Delta, ia memukul mukul dada Delta berulang kali.
"Kita pulang ya?" ajak Delta dengan tangan yang terus mengelus rambut Rania dengan sayang nya. Rania tak menjawab, ia hanya mengangguk kan kepala.
Rania merasa kan kenyamanan saat berada di dalam rengkuhan Delta. Delta pun tak ingin mengurai pelukan hangat itu, tanpa berucap lagi Delta menggendong Rania bagaikan seekor anak kanguru yang tidak ingin lepas dari induk nya, awal nya Rania kaget kala merasakan tubuh nya melayang, ia pun memberontak.
"Apa yang kau lakukan? ayo turun kan aku, Delta." kesal Rania, namun Delta seakan menulihkan telinga nya, Rania yang takut jatuh pun akhir nya mengalungkan kedua lengan nya di leher Delta.
__ADS_1
Jibran dan lain nya tak henti-henti nya tersenyum melihat kelakuan Delta, pasal nya mereka sangat tau sepak terjang seorang Delta, pria Casanova yang tidak ingin menjalin hubungan serius dengan seorang wanita, pria minim ekspresi, selalu dingin dengan siapapun, namun siapa sangka insiden salah tangkap yang terjadi bagaikan merubah segala tabiat buruk seorang Delta.
Jibran dan lainnya dapat bernapas lega saat pasangan suami istri itu meninggalkan sirkuit.