Istri Paksa Tuan Mafia

Istri Paksa Tuan Mafia
73. Gail tertembak


__ADS_3

Rania baru saja selesai menyiapkan sarapan untuk keluarga besar mereka, tak lupa juga wanita itu mengajak Arash dan Maxi untuk sarapan bersama mereka. Setelah merasa hidangan sudah di sajikan di atas meja, Rania pun segera beranjak dan menuju lift. Kali ini ia melangkah kan kaki nya menuju kamar kedua bayinya, senyum wanita beriris kecoklatan itu mengembang seketika kala melihat pemandangan yang menyejukkan hatinya, di mana sang suami menggendong kedua bayi mereka di kedua sisi tangannya dengan penuh binar bahagia.


"Mas, biar aku saja yang menjaga mereka, Mas mandilah terlebih dahulu, kasian jika yang lainnya menunggu Mas terlalu lama." ucap Rania sambil melangkah mendekati suaminya.


"Bentar lagi, Mas masih ingin menggendong mereka, boleh ya?" pinta Delta dengan manja.


"Tidak untuk pagi ini, Mas! cepat sana." tolak Rania sambil mengambil alih kedua anak nya dari tangan suaminya.


Delta menarik napas dan menghembuskan nafas nya perlahan, ia tak membantah lagi dan memilih menuruti keinginan istrinya, namun sebelum meninggalkan ketiga nya, ia pun mendaratkan kecupan sayang ke kedua pipi si kembar, tak lupa juga sebuah kecupan di bibir istrinya itu.


Setelah kepergian Delta, Rania pun perlahan menyusui kedua anak kembar nya, lima belas menit lama nya ia menyusui hingga kedua bayi itu tampak sudah terlelap. Dengan perlahan Rania pun segera meletakkan kedua bayi itu ke dalam box.


Jam di dinding sudah menunjuk kan waktu sarapan pagi, Rania dengan cepat nya juga segera berlalu keluar dari kamar itu, langkah nya terhenti kala melihat sosok Max yang keluar dari bilik lift.


"Selamat pagi, Nyonya. Maaf saya lancang menemui anda dengan ketidak sabaran saya menunggu anda di bawah." ujar Max tak enak hati.


"Tidak apa Max. Apa ada masalah?" tanya Rania.


"Orang-orang suruhan kita di tembak mati oleh orang-orang Millen. Dan saat ini, kediaman hutan anggur di serang oleh orang-orang Millen." jelas Maxi panjang lebar.


Rania mencoba meredam amarahnya kala mendengar berita tersebut, jelas terlihat jika wanita itu berulang kali mengeram tertahan, kilatan matanya menyorot tajam bak seperti elang yang siap memangsa segala buruan nya.


"Akan ku kirimkan sebuah video kepadamu, pastikan itu menjadi peringatan keras untuk Millen. Jangan buat Delta curiga, aku akan menyelesaikan sendiri semua ini." titah nya.


"Baik Nyonya. Jika tidak ada lagi saya pamit ke bawah terlebih dahulu." pamit Maxi dan melangkah mundur.

__ADS_1


Rania pun kembali membalikkan badan nya, kali ini ia tak langsung turun ke lantai dasar di mana suami dan seluruh anggota keluar sudah menunggu di ruang makan. Dengan langkah cepat Rania pun meraih ponsel nya dan menekan salah satu nomor untuk menghubungi seseorang. Selang beberapa saat sambungan telpon itu pun terhubung.


"Gail, bawa orang-orang kita ke mansion hutan anggur, habisi siapapun yang berani mengusik ketentraman mansion itu, pastikan semua nya mati tak tersisa. Beri peringatan keras kepada Millen dan antek-antek nya untuk tidak bermain-main denganku!" ujar Rania penuh dengan penekanan.


"Siap Nyonya." balas Gail.


Rania pun segera memutus panggilan itu secepatnya, wanita itu tidak ingin sang suami khawatir dan ikut andil dalam masalah kali ini mengingat Rania sendiri tau jika perusahan suami nya dalam masalah besar. Bukan tak ingin membantu tapi Rania memilih bermain di belakang layar tanpa di ketahui oleh suaminya dan juga Galfin.


****


Di tempat yang jauh seorang pria sedang mengeram kesal saat melihat sepenggal video yang baru saja masuk ke dalam ponselnya. Wajah pria itu berubah pucat pasi, dengan tangan bergetar. Berulang kali ia memutar ulang video itu, hingga pada akhirnya ia melemparkan ponsel nya.


"Aarrgghhh! berani nya kau Rania, akan ku pastikan kau mengemis meminta pengampunan di bawah kaki ku!" desis pria itu dengan penuh amarah.


"Tuan, apa yang terjadi?" tanya White. Pria blasteran itu juga memunguti ponsel sang Tuan, mata nya membelalak kaget saat melihat sepenggal video di layar ponsel itu. Ia pun mengedarkan pandangan nya menatap ke arah sang Tuan.


"Segera akan aku selesaikan Tuan."


Ya, perintah Rania barusan segera di jalankan oleh Gail dari balik layar. Gail ialah salah satu orang kepercayaan Rania selama ini, apapun perintah Rania selalu saja di lakukan Gail dengan cepat, pria itu juga tak tanggung-tanggung memusnahkan para musuh dengan sekali gerakan mematikan yang ia miliki.


Gail sangat terlatih, pria itu punya banyak keahlian baik bertarung maupun taktik. Gail sendiri tidak boleh di pandang sebelah mata. Klan yang di pimpin Rania akan cenderung tetap stabil meski Rania tak di sana. Apa lagi selama Gail masih memegang kendali. Ia seorang pelindung dan pendamping yang cukup bisa di andalkan, Gail sendiri selalu ada untuk Rania kapan dan di mana pun Rania butuhkan.


Maka dari itu hubungan di antara kedua nya terjalin cukup baik layaknya kakak beradik yang saling melengkapi satu sama lain, Rania sendiri menganggap Gail sebagai sosok sang adik, ia tak pernah sekalipun menganggap Gail sebagai seorang bawahan.


****

__ADS_1


Mansion hutan anggur.


Setelah berhasil mengirim video kepada Millen, Gail pun segera meminta para anak buah nya untuk segera pergi ke mansion hutan anggur, menempuh perjalanan kurang lebih dua jam lama nya, akhirnya Gail beserta para anak buahnya tiba di sana. Mata Gail mengelap seketika saat melihat banyak nya mayat yang berserakan di pelataran mansion tersebut. Tanpa memberi perintah para anak buah Gail segera melenggang masuk, hampir sebagian dari penjaga mansion sudah tergeletak tak bernyawa.


Pertarungan di antara dua kubu itu pun tak terelakkan lagi, suara desingan pistol menggema di mana-mana, sungguh kali ini Gail tidak akan mengampuni siapapun yang berani mengusik pimpinan nya. Dengan membabi buta, Gail beserta anak buah nya menumpas habis anak buah Millen dan hanya menyisakan dua orang untuk menggali informasi terkait pria tua itu.


"Bos, kedua pria itu sudah kami masukkan ke penjara bawah tanah." ucap salah satu pria kepada Gail.


"Bersihkan kekacauan ini, pastikan mansion ini kembali bersih seperti sediakala." titah nya lagi sambil berjalan masuk menemui para maid dan beberapa pengawal yang tersisa.


"Gail!!" teriak Gian saat melihat salah satu pria mengarahkan pistol ke arah Gail.


Teriakan itu tak dapat menghentikan laju timah panas yang sudah mengarah ke arah Gail, seketika Gail jatuh saat timah panas mengenai dada nya. Gian yang melihat itu pun segera menembak mati pria yang menembak Gail. Gian pun segera berlari menuju Gail yang sudah bersimbah darah.


"Alfi, Brayen siapkan mobil!" teriak Gian lantang.


Alfi pun segera berlari ke arah mobil, sedangkan Brayen berlari mendekat ke arah Gian, pria itu pun membantu Gian membopong tubuh Gail.


"Gail, bertahan lah. Jangan tutup matamu, tetaplah sadar, kami akan membawa mu ke rumah sakit." pinta Gian dengan khawatir.


Melihat para sahabatnya yang mengkhawatirkan diri nya, Gail pun mengulas senyumnya. Meski mereka memiliki aura mematikan, tapi mereka juga saling menyayangi satu sama lain.


Alfi pun melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, pria itu juga begitu gelisah melihat keadaan Gail yang sejak tadi hanya membuka mata tapi tak bersuara.


"Gail, bertahanlah!" ucap Alfi gugup.

__ADS_1


"Ck! tenanglah, aku tidak semudah itu untuk mati, fokuslah mengemudi, Fi." decak Gail dengan suara melemah.


"Sudah seperti ini saja, kau masih berbangga diri. Dasar ceroboh!" desis Gian kesal.


__ADS_2