Istri Paksa Tuan Mafia

Istri Paksa Tuan Mafia
85. Kenapa Kakak Membenciku?


__ADS_3

Seketika wajah penuh bahagia Delta berubah sendu, ia tak dapat membayangkan kemarahan dan kecewa nya Mikayla terhadap dirinya.


"Sayang, Ayah bisa jel-"


"Tidak ada yang perlu Ayah jelasin, karena Ay bukan anak kecil lagi. Jadi Ayah rela tak menjemput Ay hanya karena Ayah ingin bertemu wanita ini!" potong Ayla cepat dengan sorot matanya yang sudah berkaca-kaca.


"Tidak seperti itu sayang, tolong sekali ini saja dengerin Ayah." pinta Delta sambil melangkah mendekati Ayla, namun tinggal dua langkah lagi, langkah nya terhenti kala Ayla perlahan mundur menjauhi nya.


Semua orang yang berada di ruangan itu pun tampak bahagia saat tau jika gadis cantik itu ialah kembaran Arta, namun melihat sorot kebencian yang di tunjukan gadis itu pada sosok Rania membuat mereka sedih.


"Nak, duduklah. Mari kita bicarakan ini dengan kepala dingin." ajak Dania lembut.


"Maaf, karena Ay sudah merusak kebahagian di keluarga ini." ujar Ayla sembari membungkukkan badannya.


"Tak seharusnya kau melakukan itu, Nak. Kami keluargamu, kebahagian di keluarga ini ialah saat kami tau jika Ayahmu membawa kau kembali kepada kami. Kembalinya kalian adalah kebahagian terbesar buat kami." seruan lembut itu berasal dari Ashraf yang perlahan berjalan ke arah Ayla yang terlihat rapuh.


"Tidak! kalian tidak pernah mengharapkan kehadiran Ay berada di sisi kalian! apa kalian pikir Ay bodoh, hah!" teriak Ayla histeris, ada rasa marah, kecewa yang melebur menjadi satu.


"Mikayla Anastasya, jaga batasanmu!" marah Delta yang tak suka melihat sikap tak sopan Ayla kepada sang Ayah.


Gadis cantik itu terkejut, kala mendengar suara bentakan dari sosok sang Ayah, gadis cantik itu tersenyum sinis dan bertepuk tangan.


Prok..prokkk


"Apakah Ayah Menyalahkan Ay atas sikap Ay saat ini? Demi orang yang telah melupakan kita! Ayah juga membentak Ay di hadapan mereka! Ay kecewa sama Ayah. Ayah bisa kembali pada mereka, tapi Ayah akan kehilangan Ay untuk selama-lamanya. Ay bukan Arta yang akan selalu siap menerima keputusan yang di ambil oleh tertua di keluarga ini! jangan pikir Ay tidak tau dengan perjodohan yang di lakukan oleh Kakek buyut." ucap nya dengan nafas memburu.


Tak jauh dari mereka, telah berdiri keluarga besar dari Rania, di mana ada Arta beserta Gailel yang entah sejak kapan mereka berada di sana dan mendengar semua yang di ucapkan oleh Mikayla.

__ADS_1


"Sayang, maafkan Ayah. Ayah tak bermaksud membentak mu, Ayah hanya tidak suka kau meninggi kan suaramu di depan Opa." ujar Delta lembut sembari mengikis jarak di antara mereka, namun lagi-lagi Ayla melangkah mundur.


"Keputusan Ay sudah bulat, Ay akan pergi menjauh dari kalian, anggap Ay sudah lama mati. Jangan pedulikan Ay, karena bagi Ay keluarga ini sudah lama mati." ujar nya lagi dengan wajah datar dan dingin.


"Ayla." sebuah baritone lembut itu menginterupsi ketegangan yang ada. Seketika gadis cantik itu membalikkan tubuhnya, dan dengan cepat ia berlari menubruk tubuh tinggi pria tersebut.


Melihat kedatangan sang sahabat, Delta perlahan menghembuskan nafas leganya.


"Ay benci Ayah. Ayah tega membentak Ay di depan mereka." adu Ayla dengan tangisannya.


Stttthh


"Mau jalan-jalan berdua? jika mau hapus air matamu." ajak sang pria sambil mengusap lembut punggung gadis itu.


"Tuan, Nyonya maafkan sikap Ayla, dia anak yang baik, hanya saja dia belum terbiasa." mohon Galfin sambil menunduk dan segera membawa Ayla pergi dari kediaman itu, namun sebuah suara menghentikan langkah Ayla.


Mendengar hinaan itu, membuat tubuh Mikayla bergetar, emosi nya kembali meledak, ia yang terlanjur menyayangi Galfin seperti Ayah nya sendiri menjadi murka saat mendengar ada orang yang menghina Uncle nya itu.


Delta dan lain nya memejamkan mata mereka, tak percaya jika Oma Regina bisa berbicara seperti itu, terlebih semua yang ada di sana sudah tau pengorbanan Galfin selama ia bekerja dengan Delta.


"Sekalipun dia hanya bawahan Ayah, tapi setidaknya ia merawat Ay layak nya berlian yang tak bisa di sentuh oleh siapapun! kemana kalian saat Ay membutuhkan kasih sayang dari keluarga Ayah dan keluarga wanita itu, hah?" teriak Ayla murka dengan sorot mata tajam nya yang berhasil membuat seluruh anggota keluarga terbungkam.


"Kalian tau, pria ini tak pernah sedikitpun meninggalkan Ay, dia selalu ada di saat Ay membutuhkan sosok untuk mengeluarkan keluh kesah Ay selama ini!" ujar nya lagi, dan itu berhasil menyentil perasaan seluruh orang yang ada di sana.


"Ay diam lah, Uncle tidak apa-apa." tegur Galfin tak enak hati.


"Tapi tidak untuk Ay. Aku diam bukan berarti Aku tidak tau apa yang di rencanakan oleh anda, Nyonya Regina yang terhormat." sindir Ayla, dan berhasil membuat tubuh Nyonya Regina membeku sempurna.

__ADS_1


Semua yang ada di sana tampak terhenyak dan bingung dengan ucapan Ayla, namun sepersekian detik semua mata kini tertuju kepada Nyonya Regina.


"Jangan dengarkan apa yang gadis nakal itu katakan. Di hanya asal bicara saja." ujar Nyonya Regina gugup dengan bulir keringan yang mulai bercucuran.


"Apa maksudmu, Nak?" tanya Ashraf dengan urat-urat saraf yang mulai menegang.


"Uncle, ayo pergi. Setidaknya Ay berhasil membungkam keangkuhan dan mulut pedas Nenek tua itu." seru Ay lantang dan kembali melangkah kan kakinya sambil menarik lengan sang Uncle.


Melihat sang Kakak yang hendak meninggalkan kediaman sang Oma, Arta pun perlahan melangkah maju, entah mendapat keberanian dari mana, pria tampan itu segera memeluk tubuh Ayla dengan erat nya.


"Lepas brengsek!" desis Ayla marah, namun jauh di lubuk hati nya, ia merasakan kehangatan yang entah sejak kapan ia rindukan.


"Kenapa Kakak membenciku? apa salah ku? sudah sejak lama Arta mencari keberadaan Kakak, tapi entah mengapa semuanya selalu berujung buntu." lirih Arta, untuk pertama kali nya pria dingin itu terlihat rapuh dan menyedihkan.


Tak sedikitpun kakak membenci mu, Arta. Semua itu karena Oma buyut yang selalu menutup akses kalian untuk menemukan kami, andaikan kau tau, sebulan yang lalu Oma buyut menyuruh beberapa orang untuk membunuhku, tapi untungnya Kakak mu ini bukanlah orang bodoh seperti kamu yang mau saja mengikuti perintah mereka.


"Kau ingin membunuhku?" tanya Ayla ketus.


"Uncle, apa aku boleh ikut bersama kalian?" tanya Arta dengan suara lembutnya.


"Dia bukan Uncle mu, jangan aneh-aneh. Sudah minggir, kami mau lewat." kesal Ayla karena Arta memanggil Galfin dengan sebutan Uncle.


"Ayla." tanya Galfin melalui isyarat matanya. Karena sebenarnya Galfin sendiri tau jika Ayla begitu menyayangi kembarannya itu.


"Ya sudah, tapi ingat jangan panggil Uncle, cari sebutan lainnya saja." ketus Ayla sembari melangkah keluar rumah, di dalam benak nya ia bahagia bisa berjalan berdua dengan sang Adik.


Galfin pun kembali melangkah kan kakinya setelah membungkuk hormat kepada kedua orang tua Rania di ikuti oleh Arta yang tersenyum bahagia.

__ADS_1


Melihat itu semua mengucap syukur, bagi mereka Galfin ialah sosok yang sangat berjasa, setidaknya Arta berhasil mencuri perhatian Ayla meski gadis itu masih tampak ketus dengan kembarannya.


__ADS_2