
Delta sedang menggendong Mikayla. Pria itu membawa anak perempuannya menuju sofa balkon. Cuaca di sore hari tidak terlalu panas sehingga membuat malaikat kecil itu betah duduk berlama-lama bersama sang Ayah di balkon kamar. Rania sendiri sedang berada di kamar bayi sambil menyusui Keanu yang sejak tadi rewel.
Sedang asik bercerita dengan Mikayla, tiba-tiba ponsel Delta berbunyi dan tertera nama Albert di layar ponselnya. Segera pula ia menjawab panggilan tersebut.
"Entah hidup atau mati bawa mereka ke hadapanku segera!"
"Ada apa? jangan pernah membentak seseorang di depan anak-anak, Mas."
Seruan itu mengalihkan atensi Delta, hingga pria itu dengan cepat nya menoleh ke belakang. Rania bersedekap. Mata wanita dua anak itu menuntut penjelasan dari sang suami. Melihat raut masam sang istri membuat Delta kelimpungan, sungguh ia melupakan jika di dalam gendongan nya ada sang anak.
"Maaf, Mas sungguh lupa. Mas janji nggak bakalan ngelakuin itu lagi." sesal Delta sambil merangkul pinggul sang istri dan mengecup sekilas bibir ranum istrinya.
"Kenapa Mas tiba marah-marah dan meminta Albert membawa seseorang kesini? apa ada masalah?" tanya Rania di sela-selah langkah mereka yang kembali duduk di sofa.
"Ada beberapa orang di anak cabang perusahan Mas menggelapkan dana perusahan dengan nominal yang cukup besar, dan hasil penggelapan itu mereka hambur kan dengan bersenang-senang di club malam milik kita. Untuk kali ini jangan meminta Mas mentolerir perbuatan mereka." tegas Delta dengan rahang mengerat sambil menahan semburan amarah nya yang hendak meledak, jika saja sang istri tidak menenangkan nya.
"Aku hanya takut saja apa yang Mas lakukan berimbas kelak nanti kepada Mikayla, bagaimana pun juga hukum karma itu berlaku Mas. Ada hubungan timbal balik dari setiap keputusan yang kita ambil." desah Rania.
__ADS_1
"Mas nggak mungkin menghukum seseorang jika orang itu tidak melakukan kesalahan, mereka pantas mendapatkan hukuman atas apa yang telah mereka perbuat. Mereka sudah berhasil membangunkan singa yang sudah tertidur lama, oleh karena itu mereka harus di hukum, sayang." tukas Delta.
Rania menyenderkan kepalanya pada pundak sang suami, wanita dua anak itu hanya bisa menghela napas dalam-dalam. "Aku tidak ingin mencampuri pekerjaan kamu, Mas. Tapi aku takut kelak sesuatu menimpa Keanu maupun Mikayla, aku hanya ingin mereka selalu bahagia, itu saja."
Delta mengikis jarak di antara mereka, pria itu menarik Rania dan mencium pelipis istrinya itu. " Dan jika ada yang berani menyakiti atau pun melukai mereka, aku sendiri yang akan menghukum orang itu." janji Delta dengan keselamatan kedua anaknya.
Satu bulan pun berlalu, Delta akhir-akhir ini begitu sibuk, pria itu harus berangkat pagi dan pulang di kala langit sudah menggelap. Dia hanya bisa memandang kedua buah hati yang sudah terlelap setiap kali pulang dari kantor. Meski begitu ia akan menyempatkan menggendong kedua nya meski mereka dalam keadaan terlelap.
Setiap pagi nya, Delta selalu bangun di pagi hari saat mendengarkan tangisan salah satu buah hatinya, saat itu juga adalah waktu senggang nya sebelum memulai aktifitas yang super duper sibuk. Delta langsung menggendong keduanya dan mengajak kedua nya berbicara meski ia tau jika mereka belum tentu mengerti apa yang ia ucapkan. Sungguh Delta menikmati profesi barunya sebagai pengasuh kedua buah hatinya.
Beda dengan Rania yang sejak pagi sudah berkutat di dapur bergabung bersama bik Lin dan lainnya. Setelah selesai menyiapkan sarapan untuk sang suami, Rania pun kembali ke kamar, di mana rutinitas pagi nya untuk memandikan kedua buah hati mereka setelah menyiapkan segala perlengkapan bayi, wanita itu dengan telatennya memandikan Keanu, dan semua pergerakan Rania tak lepas sedikit pun dari penglihatan Delta.
Setelah selesai memandikan kedua buah hatinya, Rania pun menyusui satu persatu kedua anaknya kembali, hingga tak membutuhkan waktu lama kedua buah hati mereka kembali terlelap dengan tubuh yang sudah segar dan bersih. Setelah memastikan kedua buah hati mereka tidur, Delta segera menarik tangan Rania keluar dari kamar bayi.
Di sini lah mereka sekarang, Rania di buat pusing dengan tingkah bayi besarnya saat ini yang kembali mengajaknya berbaring di ranjang.
"Mas, apa sih? mandi sana, entar telat ke kantornya." tegur Rania penuh dengan kekesalan.
__ADS_1
"Mas menginginkan kamu sayang. Apa boleh?" tanya Delta dengan memohon.
"Mas jangan sekarang ya, tunggulah seminggu lagi, setelah nya tubuh ini menjadi milik Mas seutuhnya." tolak Rania sambil menahan tawa nya.
"Sayang, inikan sudah sebulan, masa nifasnya kok belum kelar juga." gerutu Delta penuh kekesalan, karena ia masih harus berpuasa selama seminggu lagi.
"Mas, masa nifasnya 40 hari, ini kan baru 34 hari, tunggulah seminggu lagi." tolak Rania lembut sambil mengusap rahang tegas suaminya dengan lembut.
"Sayang jangan mengada ngada deh! masa iya Mas masih harus bertahan selama seminggu lagi untuk tidak menyentuhmu?" tubuh Delta melemas seketika, ia kesal karena sudah satu bulan berlalu dan ia masih harus berpuasa selama seminggu lagi.
"Mas, apa udah ada kabar mengenai Galfin?" tanya Rania mengalihkan pembicaraan.
"Orang-orang Kakek sudah menemukan keberadaan Galfin, tapi masih sulit menerobos ke markas itu, di karenakan saingan bisnis Mas itu sudah berkolaborasi dengan salah satu mafia yang telah lama menjadi bebuyutan King Dragon sejak Daddy masih menjabat sebagai petinggi King Dragon." jelas Delta dengan menghembuskan nafas panjang.
"Emang nama mafia itu apa, Mas?" tanya Rania sepolos mungkin.
"Balck Butterfly, organisasi mafia terbesar di Manhattan." ujar Delta.
__ADS_1
Apa ini hanya kebetulan saja? mengapa aku merasa ini seperti ada yang sudah mengaturnya? tak akan aku biarkan siapapun melukai kalian Mas. Hanya dengan ini mungkin aku bisa membantu kalian Mas.