
Delta masih saja berdiri mematung di tempat nya, tapi tidak dengan Galfin yang sudah menyeret Jasmine layaknya seperti binatang.
"Tuan, apa anda hanya akan berdiri di situ saja, tanpa mau mengejar Nyonya yang mungkin saat ini akan pergi menghilang untuk kedua kali nya!" seru Galfin yang geram melihat kebodohan Tuannya.
"Ooo Shittt!" pekik Delta sebelum berlari keluar mengejar Rania.
Di sepanjang perjalanan Rania menangis, ia tidak menyangka jika Delta akan benar-benar berselingkuh secara terang-terangan di saat pria itu meminta Galfin menjemputnya.
Kenapa sesakit ini, Tuhan? seharusnya sejak pertama aku tidak membuka hati ku dan memaafkan segala perlakuan nya selama ini. Mengapa semua ini terjadi di saat hati dan raga ini mulai menerima nya, mengapa?
Itulah segala pertanyaan yang hanya Rania tanya dalam hati, haruskah ia bertahan di saat ia melihat dengan kepala mata nya sendiri jika suami yang mulai bersemayam di hati nya berselingkuh?
Tak membutuhkan waktu lama, Rania tiba di lobby perusahan, para staf melihat Rania dengan tatapan iba ada juga tatapan meremehkan kala melihat wanita hamil itu dengan kondisi menangis, namun Rania tidak menggubris segala tatapan itu semua, wanita hamil itu terus berjalan mengabaikan beberapa sapaan para staf.
Tepat saat Rania hendak masuk ke dalam taksi, tangan nya di cekal oleh seseorang yang Rania yakini jika itu ialah Suaminya.
"Lepasin! tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, semua nya sudah cukup jelas, biarkan aku pergi." pinta Rania tanpa mau menatap sosok Delta.
"Tidak, aku tidak akan pernah melepaskan kalian, aku sangat mencintai kamu, percayalah aku tidak mungkin mengkhianati kamu. Beri aku satu kesempatan untuk menjelaskan semuanya." mohon Delta dengan perasaan takut akan sang istri yang akan pergi untuk kedua kalinya.
"Pak, pergilah istri saya tidak jadi naik." ucap Delta sembari menyodorkan beberapa lembar uang ke arah sang supir.
"Apapun yang kau katakan tidak akan merubah keputusanku!" tekan Rania lagi sambil mengusap bulir air mata dengan punggung tangan nya.
Tanpa membalas ucapan sang istri, Delta segera menggendong tubuh berisi Rania ala bridal style.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan? ayo turunkan aku!" kesal Rania saat tubuhnya melayang.
"Diam, sebelum aku mencium mu!" ancam Delta tanpa peduli dengan tatapan tajam sang istri.
Dengan pelan Delta mendudukkan sang istri di kursi penumpang, setelah memastikan sang istri duduk dengan nyaman ia pun berlari ke sisi kanan kemudi. Mobil pun perlahan meninggalkan perusahan, di dalam mobil tak satu pun dari mereka yang berbicara, Delta maupun Rania memilih diam. Hampir sejam lama nya menempuh perjalanan, kini mobil yang di kendarai Delta sudah memasuki pelataran mansion.
Tanpa menunggu Delta yang turun dan membuka pintu mobil, Rania segera turun dan berjalan memasuki rumah. Melihat kedatangan Rania, bi Lin pun hendak menghampiri namun urung saat melihat sosok Delta yang berjalan masuk dengan wajah muramnya.
"Sayang, dengerin Mas dulu. Semua yang kau lihat itu tidak seperti itu ceritanya." jelas Delta sembari mengimbangi posisinya dengan Rania yang terlihat tidak peduli dengan penjelasan nya.
"Cukup! aku sudah katakan jika aku tidak akan pernah memaafkan kamu kelak jika kamu ketahuan selingkuh, nyata nya kau mengabaikan ucapan ku kala itu. Jadi berhentilah untuk membujukku, karena semua nya sudah berakhir!" ucap Rania dengan nafas memburu dan terlihat jelas jika sorot mata istri nya yang begitu terluka.
"Terserah kamu mau percaya atau tidak!" bentak Delta yang mulai geram dengan kekerasan kepala istri kecil nya itu.
Rania berlalu menaiki tangga, ia marah, kecewa dan ada rasa takut kala melihat tatapan tajam suaminya, bayangan akan sang suami yang menyiksanya kala itu membuat tubuh Rania bergetar hebat, ia menangis sejadi jadinya di dalam kamar, tak berselang lama suara pintu terbuka, seperti tau siapa yang datang Rania pun memejamkan mata nya dan berpura pura tidur.
"Aku tau kamu belum tidur, maafkan aku, tapi sumpah demi apapun aku tidak ada niatan untuk bermain di belakang kamu, apa yang kamu lihat tadi semua nya hanya salah paham saja."
"Tadi itu Jasmine tak sengaja menumpahkan kopi di kemeja ku, tanpa bisa aku cegah, ia membantuku membersihkan noda kopi di kemejaku, mungkin siapapun yang melihat jarak kami pasti akan berpikir yang tidak-tidak, sumpah demi apapun termasuk anak kita, aku tidak akan berani bermain di belakang kamu." jelas Delta dengan jujur karena semua itu memang benar adanya, jika pun Rania tak percaya Delta akan memberikan bukti nyata seperti rekaman CCTV di ruangan nya.
"Dan masalah kemarin juga, aku minta maaf sudah menuduh kamu yang tidak-tidak, aku terlalu takut jika rasa yang dulu pernah ada di antara kamu dan David kembali tumbuh, sekali lagi maafkan segala sikapku yang membuat kamu takut dan kecewa." lanjut Delta sambil mendaratkan satu kecupan di dahi istrinya dengan penuh sayang. Setelah mengungkapkan segala nya, Delta pun beranjak dan berjalan menuju pintu keluar, namun langkah nya terhenti saat mendengar pertanyaan Rania.
"Apa kau bersama Belia waktu di Turkey?" tanya Rania yang sudah bangun dari pembaringan.
Delta tertegun, ia pun segera membalikkan tubuh nya menatap sang istri dengan pandangan bingung.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" tanya Delta bingung karena ia tidak tau kemana arah pembicaraan sang istri.
"Jawab saja Mas! apa benar kau menghabiskan waktu seminggu penuh bersama wanita dari masa lalu kamu?" sentak Rania kesal karena bukan mendapatkan jawaban atas pertanyaan nya mala sang suami balik bertanya.
"Okey, kali ini aku tau apa maksud kamu. Aku menjanjikan perjalan bisnisku tiga hari tapi ada beberapa kendala yang membuat aku menambah jadwal ku di sana hingga seminggu penuh, tapi sungguh selama aku di sana aku hanya menyelesaikan apa yang harus aku selesaikan. Dan untuk pertanyaan kamu, itu semua tidak benar, karena selama di Turkey bukan hanya aku dan Jasmine saja melainkan Daddy juga ada di sana, jika kamu tidak percaya aku akan hubungi Daddy dan tanyakan saja kepada Daddy." terang Delta panjang lebar agar istri kecil nya itu tidak berpikir macam-macam.
"Sudahlah tidak penting juga, bagaimana pun cara nya aku bertanya kau pasti akan mengelaknya, Mas. Pergilah!" usir Rania yang masih ragu dengan penjelasan suaminya tersebut.
Delta yakin ada sesuatu yang di sembunyikan istri nya itu, dan dari mana pula istri kecil nya itu tau mengenai Belia, wanita yang sangat di benci oleh nya. Delta pun kembali mendekati ranjang, ia ingin Rania berkata jujur dan terbuka tanpa di tutup-tutupin.
"Mengapa kau bertanya mengenai wanita brengsek itu? apa ada yang kau sembunyikan dari Mas, Ra?" tanya Delta saat sudah duduk di samping istri nya.
"Lihat saja sendiri!" ketus Rania sembari menyodorkan ponselnya.
Delta terbelalak kaget saat melihat beberapa potret dirinya bersama Belia dengan berbagai gaya, mata Delta kian membola saat melihat satu potret dirinya sedang berada di atas tubuh Belia. Namun sepersekian detik Delta tertawa.
Hahahaha
"Ternyata mata kamu tidak terlalu jeli sayang, lihatlah, sejak kapan Mas mu ini memiliki tanda lahir di punggung belakang, dan apa coba ini, sebuah tato seorang wanita bermain gitar, astaga sungguh orang bodoh yang mengirimi kamu semua ini." jelas Delta masih dengan gelak tawa nya.
Rania yang penasaran pun merampas ponsel nya dari genggaman Delta, ia pun mulai menelisik kembali potret-potret tersebut dengan seksama. Mata nya membola, saat tau semua potret tersebut bukan di rekayasa melainkan pria itu menggunakan sketsa wajah suami nya, terlihat jelas jika ada lipatan di samping telinga pria tersebut, dan sudah sangat jelas membuktikan jika itu bukan suami, karena bagaimana pun Rania bukan orang bodoh yang tidak tau apapun terlebih ia bukan orang yang gampang di kelabui oleh siapapun.
"Nggak lucu!" ketus Rania sambil membuang wajahnya karena ia sungguh malu telah bersikap acuh terhadap suaminya yang jelas-jelas tidak melakukan apapun.
Delta tersenyum kala melihat wajah istri kecil nya yang merona merah karena malu.
__ADS_1
"Udah percayakan sekarang, jadi Mas minta mulai malam ini jangan lagi memendam apapun, alangkah lebih baik jika kita saling terbuka satu sama lain agar kelak kejadian seperti ini tidak akan terulang kembali." ujar Delta sambil membelai pipi merona istrinya itu dengan penuh kelembutan.