
Setelah kepergian keluarga besar, kini tinggal Rania dan Delta bersama kedua bayi kembar mereka di ruang keluarga.
"Dia begitu cantik sepertimu, sayang." puji Delta seraya menatap istri dan sang anak yang ada di pangkuannya.
"Dia juga tampan sepertimu, Mas." balas Rania.
Delta mencium kening Rania penuh cinta dan sayang. Delta maupun Rania tidak pernah berpikir jika hubungan mereka bisa sampai ke titik ini. Hubungan yang di awali dengan penuh luka dan benci berakhir bahagia dengan kehadiran kedua bayi kembar mereka.
"Siapa nama mereka, Kak?" tanya Sandra yang sudah mengambil alih mengendong anak perempuan Rania, sedangkan Nadin mengendong anak laki-laki.
"Keanu dan Mikayla." jawab Rania sambil mengumbar senyum kepada semua penghuni mansion.
"Mikayla, nama yang cantik secantik dirinya." puji Sandra.
"Tolong bawa mereka ke kamar." pinta Rania. Wanita cantik itu pun bergegas masuk ke dalam lift menuju kamar mereka terlebih dahulu. Delta juga ikut beranjak dan melangkah mengikuti istrinya.
Sandra dan Nadin pun meletakkan kedua bayi itu di boks masing-masing yang berada tepat di samping kamar Rania dan Delta, dan tentu nya kamar itu memiliki pintu terhubung langsung ke kamar mereka.
"Kak, apa anda mau di buatkan sesuatu?" tanya Sandra saat sudah menidurkan Mikayla ke dalam boks bayi.
"Buatkan teh hangat saja, dan minta Bik Lim untuk membuatkan secangkir kopi untuk Tuan."
"Baik Kak."
Sandra dan Nadin pun segera keluar dari kamar bayi. Rania dan Delta pun berdiri di dekat kedua boks bayi. Delta memeluk Rania dari belakang, menyandarkan dagu pada bahu istrinya.
__ADS_1
"Terima kasih sudah menghadirkan mereka pada kehidupan ku yang suram ini." bisik Delta.
Rania berbalik lalu mengalungkan kedua tangan pada leher suaminya. "Aku, kau dan anak-anak kita akan saling melengkapi satu sama lain dalam menjalani kehidupan yang penuh warna ini, Mas."
"Aku mencintaimu, sayang." Delta menyatukan bibirnya dengan bibir ranum Rania.
Sudah dua minggu berlalu, keberadaan Galfin belum juga di temukan oleh orang-orang mereka. Delta merasa kesal sendiri karena tidak bisa menemukan keberadaan sahabat sekaligus orang kepercayaan nya itu. Pekerjaan di kantor pun kian membumbung kala ia memandatkan salah satu sekretarisnya untuk menghandle pekerjaannya selama ia tidak masuk kantor.
Tepat hari ini Delta pun memilih pergi ke kantor. Saat dirinya baru melangkahkan kaki nya memasuki lobi terdengar beberapa serut dari para staf perusahannya.
"Selamat atas kelahiran anak-anak anda, Tuan."
Sambutan itu berkumandang di lobby perusahan miliknya. Semua pegawai berkumpul di tempat itu untuk memberikan selamat pada bos mereka. Delta tidak membalas ucapan mereka, melainkan hanya seutas senyum yang tidak pernah di lihat oleh para pegawainya.
"Ternyata dengan kelahiran Nona dan Tuan
"Bos semakin tampan dan terlihat begitu menggoda."
"Apa kalian sudah tau mengenai identitas asli manager Nia?"
"Maksud kamu?"
"Manager Nia di gandang-gadang sebagai ahli waris satu-satu nya keluarga Hanthony, lebih tepatnya manager Nia anak kandung dari Tuan Burack Hanthony."
Mendengar itu para pegawai di sana tampak terbelalak kaget, mereka tidak menyangka jika Rania, gadis sederhana itu ialah sosok pewaris Hanthony Corp. Kabar itu pun menjadi tranding topik di perusahan raksasa milik Delta.
__ADS_1
"Oleh karena itu berhentilah mencari masalah dengan manager Nia, dan jangan lupakan Selia yang entah di mana keberadaan nya sejak hari di mana ia menghina manager Nia kala itu."
"Pantesan aja waktu itu banyak pria berpakaian formal datang dan menunduk ke arah manager Nia."
Ghibahan penuh pujian dan kekaguman itu terdengar dari banyak karyawan yang bekerja di kantor itu. Mereka merasa kagum dengan sosok Rania yang tidak pernah mengumbar status sosial nya sebagai seorang pewaris terkaya yang menduduki peringkat satu dan di ikuti sang suami yang menempati peringkat dua sebagai pebisnis muda yang kaya raya di Turki dan beberapa Negara maju, seperti Negara A salah satunya.
Delta memasuki ruangan di kantornya. Pria itu terlihat sibuk dengan banyak nya dokumen yang sudah menumpuk di atas meja kerjanya. Satu persatu berkas itu di periksa nya. Setelah selesai memeriksa berkas-berkas tersebut, kini Delta beralih memeriksa perusahan miliknya yang tersebar di beberapa kota dan negara. Setelah memeriksa beberapa bisnis bersihnya, ia pun kembali beralih memeriksa beberapa bisnis gelapnya yang sudah ia mandat kan pada adik Galfin untuk mengelola dan memantau segala nya.
"Ke ruanganku!" satu kalimat itu meluncur kala sambungan interkom itu tersambung.
Tak kurang dari satu menit, tampak seorang pria memasuki ruangannya setelah mendapat persetujuan dari nya. Dengan sikap siap menerima perintah, pria itu berdiri tepat di depan meja kerja Delta.
"Berangkat ke negara F dan J, cek keuangan di sana, bawa semua pengkhianat itu kehadapan saya!" titah Delta dengan rahang mengeras kala mendapati sesuatu yang janggal.
"Baik Tuan." Albert pun keluar setelah menundukkan kepalanya sedikit pada Delta.
Setelah merasa semua pekerjaan nya beres, Delta pun memilih pulang lebih awal, kali ini ia ingin membagi tugas mengasuh dan merawat kedua anaknya, ia tidak ingin sang istri kelelahan menjaga kedua anak mereka. Karena ia yakin jika istrinya itu tidak akan meminta bantuan para art selagi ia bisa menyelesaikan segalanya sendiri.
Kepulangan Delta di sambut dengan tangisan Keanu yang berada di pangkuan sang istri yang sudah terlelap. Delta pun dengan cepatnya berjalan ke arah ranjang dan mengambil alih Keanu dari pangkuan sang istri.
Delta merasa cukup bersalah, ia yakin jika sang istri kecapean merawat kedua bayi mereka seharian penuh tanpa bantuan siapapun terbukti dari tidur lelap sang istri sambil memangku Keanu, satu kecupan pun ia darat kan ke dahi sang istri. Ia pun membawa Keanu ke arah kamar bayi, ia tersenyum saat mendapati sosok anak perempuannya yang sudah terlelap di boks bayi, satu kecupan pun ia darat kan ke dahi Mikayla. Dengan penuh kesabaran ia pun menidurkan anak laki-lakinya, tak membutuhkan waktu lama, tampak sang anak sudah terlelap dalam dekapannya, dengan perlahan ia pun membaringkan sang anak ke dalam boks bayi.
Dengan cepat pula ia melangkah kan kakinya ke arah kamar milik nya dan Rania. Dengan perlahan ia mengatur posisi tidur Rania tanpa membuat pergerakan lebih karena takut mengusik tidur sang istri tercinta.
"Maaf, kau pasti lelah merawat mereka." gumam Delta dan kembali mengecup dahi sang istri.
__ADS_1
Delta pun berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket. Selesai mandi dan berpakaian Delta pun ikut berbaring di samping sang istri dan memeluk sang istri dari belakang, tak membutuhkan waktu lama ia pun ikut tertidur.