Istri Paksa Tuan Mafia

Istri Paksa Tuan Mafia
36. Memasak untuk suami


__ADS_3

Delta menuntun sang istri duduk di kursi penumpang, setelah memastikan sang istri duduk dengan nyaman Delta pun segera mengitari mobil dan duduk di kursi kemudi, dalam perjalanan pulang tak ada yang berbicara, kedua nya diam membisu, suasana canggung pun kian menghiasi mobil itu.


Sungguh hancur hati Rania ketika mendengar cacian dan umpatan dari keluarga nya sendiri, wanita hamil itu berpura pura tegar di depan suami dan juga pengunjung warung makan. Tampa bisa di cegah bulir air mata yang sejak tadi di tahan pun akhir nya jatuh membasahi pipi nya, ia menangis dalam diam. Delta yang berada di samping nya pun dapat melihat kesedihan di sorot mata sang istri, dengan lembut nya ia mengusap puncak kepala sang istri.


"Jangan pernah keluarkan air mata mu hanya karena umpatan dan cacian yang di lontarkan mereka. Sebisa mungkin jangan pernah lagi berhubungan dengan keluarga itu, apapun alasan nya." suara Delta begitu lembut namun penuh dengan penekanan.


Rania diam, ia tak menyahut atau pun membantah ucapan suami nya. Tak berselang lama, mobil yang di kendarai mereka pun mulai memasuki pekarangan mansion. Tanpa menunggu sang suami, Rania pun segera turun dan berjalan memasuki ruang utama, ia terus saja berdiam diri.


Melihat sang istri yang kembali berwajah dingin dan datar Delta hanya bisa mengembuskan nafas nya kasar. Sungguh ia merasa kesal dengan kedua wanita tadi, karena kehadiran mereka, istri nya kembali ke mode datar dan tak tersentuh.


"Bos, apa yang terjadi? mengapa wajah Nyonya berubah muram?" tanya Galfin yang sejak tadi memperhatikan perubahan mood istri majikan nya.


"Hancurkan karir Liana, blacklist nama nya di berbagai perusahan agensi, dan satu lagi minta debkolektor mendatangi rumah nya. Tapi ingat jangan menyentuh Ayah Hendro, karena aku tidak ingin istriku membenci diri ku lagi jika sesuatu menimpah Ayah nya." titah nya dengan sorot mata tajam.


"Akan segera saya laksanakan." balas Galfin, pria itu pun segera pamit dan meninggalkan mansion sang bos.


Di dalam kamar, tampak Rania baru saja keluar dari kamar mandi, setelah berganti pakaian wanita hamil itu pun perlahan menyandarkan kepala nya di sandaran ranjang.


Sudah pukul tujuh waktu untuk makan malam pun akan tiba, Rania pun beranjak, kali ini ia akan memulai kewajiban nya sebagai seorang istri, ia tidak ingin di cap sebagai istri durhaka yang tidak mengurus segala keperluan sang suami, meski merasa canggung dengan apa yang terjadi seharian ini, namun tak membuat diri nya mengurungkan apa yang hendak ia lakukan sekarang.


"Bi, makan malam nya biar Rani saja yang menyiapkan nya." seru nya saat sudah berdiri di samping Bi Lin.


"Nggak usah Nya, Nyonya duduk aja biar bibi siapin semua nya." tolak Bi Lin dengan sopan.


"Jika bibi nggak bolehin Rani masak, Rani nggak mau makan, minta Delta saja yang makan malam ini." ancam Rania seraya membalikkan tubuh nya hendak meninggalkan bi Lin.


"Tapi bibi takut sama den Delta, bisa-bisa bibi di pecat karena mengijinkan Nyonya melakukan pekerjaan bibi." seru bi Lin dengan segala ketakutan nya.

__ADS_1


"Delta nggak bakalan tau jika bibi nggak ngomong. Bibi tenang aja, urusan Delta belakangan. Rani hanya ingin menunaikan kewajiban Rani sebagai seorang istri." balas Rania jujur mengenai niat awal nya berada di dapur.


"Ya sudah, bibi siapin meja makan dulu." angguk bi Lin dengan pasrah setelah nya wanita paru baya itu berlalu meninggalkan sang majikan.


Setelah kepergian bi Lin, Rania kegirangan, sudah hampir sebulan lama nya ia vakum dari yang nama nya masak dan kini ia kembali ke masa-masa di mana diri nya yang suka sekali memasak. Dengan telaten Rania pun mengeluarkan beberapa bahan dari dalam kulkas, kali ini ia ingin sekali membuat ayam goreng mentega, sudah sejak seminggu yang lalu ia ingin sekali memakan ayam goreng mentega dengan diri nya sendiri yang membuat nya.


Bi Lin yang takut akan kemarahan Tuan muda nya pun hendak memberitahukan apa yang sebenar nya terjadi, namun baru beberapa langkah hendak naik ke tangga tubuh bi Lin bergetar gugup saat mendapati sosok tuan nya sedang berdiri tak jauh dari arah ruang makan.


"De-."


"Bukan nya bibi senang? Ikuti saja kemauan Rani, bi." potong Delta cepat saat tau apa yang akan di sampaikan sang bibi.


Bi Lin mengulum senyum, ia bahagia dan merasa senang melihat kemajuan hubungan kedua majikan nya, ia pun ingin segera membagi cerita bahagia ini kepada Nyonya besar nya.


"Sudahlah bi, jangan buru-buru mengabari Mommy." seru Delta saat memergoki gelagat mencurigakan sang bibi. Setelah mengucapkan itu ia pun segera berlalu pergi ke arah paviliun belakang.


"Bagaimana perkembangan nya?" tanya Delta saat sudah mendudukkan bokong nya di kursi kebesaran nya.


"Semua petunjuk mengarah ke arah Tuan Burack Hanthony pewaris Hanthony Corp. Selama ini Tuan Burack diam-diam mengutus beberapa pengawal untuk menjaga Nyonya. Untuk motif belum saya temukan, tapi berdasarkan penelusuran kami, dokter Julio ada kaitan nya juga." jelas salah seorang anak buah secara detail.


"Bicara mengenai Julio, bagaimana dengan penelusuran kalian mengenai masa lalu nya?" tanya Delta semakin tertarik mengetahui rahasia di balik kejadian akhir-akhir ini.


"Dua puluh lima tahun lalu, dokter Julio dekat dengan seorang wanita cantik bernama Lethisa mereka sempat menjalin cinta, kedua nya pun saling mencintai namun wanita itu hamil dengan pria lain." jelas pria itu lagi.


"Bagaimana pun cara nya gali informasi sebanyak mungkin mengenai ketiga orang itu, apapun!" tekan Delta dengan sorot mata tajam.


Pembicaraan mereka terhenti saat seorang wanita dengan dress selutut berjalan masuk, Delta menekan kasar ludah nya, ia takut jika sang istri mendengar seluruh pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Mas, makan malam nya udah siap, ayo makan. Kamu juga Fin ikutlah makan bersama kami, dan kalian bergabunglah bersama bi Lin di belakang, makanan kali ini aku yang masak dan kalian semua boleh mencoba nya." ajak Rania dengan wajah berseri seri, ia ingin menunjukkan kehebatan memasak nya kepada semua orang terlebih kepada suami nya.


Delta tertegun mendengar ajakan sang istri kepada semua anak buah nya, ia menatap horor ke arah anak buah nya untuk menunduk selama sang istri berbicara, ia tidak ingin ada yang mengagumi senyuman indah di wajah istri nya.


"Baiklah, ayo Fin ikut kami makan malam bersama, dan kalian ikuti perintah istri saya!" ucap nya pelan tapi tetap dengan sorot mata tajam nya.


"Baik Nyonya. Sebelum nya terima kasih sudah mengizinkan kami untuk mencicipi masakan anda, Nyonya." seru Brama mewakili anak buah nya.


Delta menggenggam tangan mungil sang istri, kedua nya berjalan dengan tangan saling menggenggam di ikuti Galfin dan para anak buah nya di belakang mereka.


"Nyonya, ini makanan terlezat yang pernah saya makan, sungguh saya tidak berbohong." celetuk Galfin sesaat sesudah menghabisi sepiring nasi dan ayam yang di buat Rania.


Rania tersipu malu ketika mendapat pujian dari Galfin, namun perlahan senyum yang menghiasi wajah nya memudar kala ucapan suami nya tadi yang sempat menusuk gendang telinga nya. Atensi nya kini bukan lagi kepada Galfin namun beralih pada sosok sang suami yang tengah duduk menyantap makanan nya.


"Kalian tidak perlu mencari tau identitas ku yang sebenarnya, biarkan aku hidup seperti ini tanpa mengungkit siapa di balik statusku!" ucap nya datar.


Delta yang baru saja hendak menyuap makanan nya pun terdiam sesaat hingga sendok itu pun lepas dan memecah keheningan di meja makan itu.


"Fin, minta Bara menyelesaikan segala nya lebih cepat!" titah Delta tanpa mau mendengar ucapan istri nya.


"B-ba."


"Silahkan saja!" potong Rania santai namun dua kata itu menyiratkan sebuah ancaman yang entah apa.


Setelah mengatakan dua kalimat itu Rania pun beranjak dan meninggalkan kedua pria yang menatap intens ke arah nya.


"Lakukan secepat nya, jangan pedulikan ancaman Rani." seru Delta ketika melihat keraguan di manik mata asisten nya.

__ADS_1


__ADS_2