Istri Paksa Tuan Mafia

Istri Paksa Tuan Mafia
83. Perdebatan Ayla dan Gailel


__ADS_3

Jam weker terus saja mengeluarkan bunyi, entah dering yang ke berapa barulah gadis cantik yang bergelut di balik selimut itu terbangun, dengan kesal ia meraih jam weker tersebut, tak berapa lama ini menjerit keras dan segera meloncat turun dari ranjang.


"Mampus! kenapa Uncle nggak bangunin aku sih." gerutunya sembari berlalu ke kamar mandi.


Setelah siap, ia berlari menuruni tangga menuju meja makan, mengambil sehelai roti dan mengoleskan selai coklat.


"Kak Ana, Uncle mana?Ay harus berangkat cepat." pekiknya menggigit roti dan mengikat tali sepatunya.


"Sebentar lagi keluar. Ayolah, sarapan dengan benar. Kau bisa tersedak." tegur Ana yang mengambil susu coklat untuknya. Ayla bahkan tak sadar jika di depannya ada Jibril dan Alex yang menatapnya tajam.


"Kau akan jadi pasien sebelum kau bertemu pasien mu jika kau makan terburu-buru."


"Ay nggak mau telat, Ay mau ke kampus saat ini. Om minta kunci mobilnya dong." bujuknya dengan memasang wajah memelas.


"Duduk, dan habiskan sarapan mu dengan benar." titah Galfin yang baru keluar dari kamar, dengan menghentakkan kaki, gadis cantik itu akhirnya memilih duduk dengan wajah di tekuk sedemikian rupa.


"Uncle, ini udah jam berapa? Ay kesiangan, dan semua ini karena Uncle dan Om berdua yang ajak Ay main Ludo hingga larut malam."


"Diam Ay, kau sudah seperti bebek yang nggak berhenti bicara. Dan siapa juga yang ajak kamu main, bukannya kamu yang ajak Om Jibril sama Uncle mu bermain." balas Alex geram melihat tingkah keponakan nya tersebut.


"Habiskan sarapan mu, setelahnya Ayah yang akan mengantarmu ke kampus." lerai Delta saat mendapati sahabat dan Putrinya saling menyalahkan.


Galfin, Ana dan Jibril hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Alex yang selalu membantah perkataan Ayla.


"Aku ada pertemuan dengan Mister Kaito di hotel jam 10 nanti, dan mungkin aku nggak bisa jemput Ayla. Tapi kau tenang saja, Gustaf dan lainnya sudah berjaga di jarak aman untuk keamanan Ayla selama kita tidak di dekatnya." jelas Galfin sebelum berlalu masuk ke mobilnya.


"Baiklah, berhati-hatilah. Kabari aku jika sesuatu terjadi." balas Delta khawatir, entah mengapa sejak semalam perasaan nya menjadi tak enak.


Kelima orang itu pun segera berlalu pergi ke tujuan mereka masing-masing dengan mobil sendiri-sendiri.

__ADS_1


"Ayah tidak lupa bukan dengan janji Ayah, buat beli mobil kesukaan Ay?"


"Nanti Ayah minta Uncle mu mengurusnya, tapi ingat jangan ngebut-ngebut."


Tak membutuhkan waktu lama, mobil yang di kendarai mereka telah tiba di gerbang masuk kampus ternama di Cantania. Ayla mengulurkan tangan dan mencium tangan Delta. Setelah nya gadis cantik itu turun dengan senyum yang menghiasi wajahnya.


"Sampai jumpa malam nanti ayah." seru nya dan segera melangkahkan kakinya memasuki halaman kampus.


Ayla mencari ruang pendaftaran. Tak di sangka olehnya jika ruangan itu begitu penuh dengan pendaftar baru, dengan penuh kesabaran Ayla menunggu, ia di kagetkan dengan kedatangan para sahabatnya yang entah mengapa ada di kampus tersebut.


"Mika, kau juga mendaftar di sini?" tanya Sinta dengan wajah berbinar.


"Hey, kalian? oh..jangan bilang jika kalian juga mendaftar di sini?" tanya Ayla sumbringa.


"Iya, kami mendaftar di sini juga. Akhirnya kita bisa bersama lagi." timpal Satria.


Mereka pun mulai terlibat perbincangan yang seru, hingga tanpa mereka sadari sejak tadi ada sekelompok gadis menatap tak suka ke arah mereka. Perbincangan mereka terhenti kala nama masing-masing di panggil untuk maju.


Pandangan Ayla kini tertuju pada siluet seorang pria yang sedang menatapnya dengan tajam, namun sebisa mungkin ia bersikap tenang. Pertanyaan demi pertanyaan di lontarkan oleh beberapa dokter penguji, dan dengan kecerdasannya, Ayla menjawab nya dengan lugas dan dapat di cerna dengan baik oleh para penguji.


Tes kesehatan pun di lakukan. Semuanya di lakukan untuk meyakinkan jika Ayla sempurna tanpa cacat sedikitpun. Dan itupun lolos tanpa keraguan. Namun saat akan melakukan tes tinggi badan Ayla tampak pesimis. Untuk menjadi dokter, tinggi yang di tentukan harus mencapai 170cm untuk wanita sedangkan tinggi Ayla hanya 166cm.


"Kurang 4cm." ucap petugas yang melakukan pengecekan tinggi badan. Semua orang saling bertatap wajah.


"Mikayla Anastasya?" seruan itu membuyarkan lamunan Ayla yang sedikit kecewa.


"Iya, Dok?"


"Kamu serius, mau masuk kedokteran?"

__ADS_1


"Sangat serius." balas nya yakin.


"Di umurmu yang sudah 20 tahun tidak memungkinkan tinggi badan mu bisa bertambah, saya akan mendiskusikan ini dengan dokter kepala, jika memungkinkan kau bisa di terima, maka kau harus membuktikan keseriusan kamu. Apa kamu sanggup mengikuti serangkai tes mengasah otak sebagai pertimbangan kami untuk menerima kamu di sini?"


"Mika janji nggak bakalan ngecewain dokter dan lainnya." jawab Ayla penuh keyakinan.


"Baiklah, nanti pihak kami akan mengkonfirmasi kelanjutan nya. Semangat."


Setelah melakukan serangkaian kesehatan, beberapa tes lainpun di lakukan. Mereka di bagi beberapa kelompok, dan di bawah masuk ke sebuah ruangan khusus. Ayla beserta empat rekannya di giring menuju sebuah ruangan yang biasanya di gunakan untuk membekukan mayat.


Semula Ayla biasa saja, namun saat penutup jenazah di buka, tiba-tiba kepalanya berputar dan ia jatuh tak sadarkan diri.


"Kalian lanjutkan, gadis itu biar menjadi tanggung jawabku." suara tegas itu menginterupsi dokter dan lainnya.


Dengan cepat, pria tersebut menggendong tubuh Ayla ala bridal style menuju ruangan nya. Dengan penuh kelembutan, ia membaringkan tubuh Ayla di kamar pribadinya.


"Baru gitu aja udah down, gimana kedepannya!" ejek sang pria saat Mikayla siuman.


Mendengar itu Ayla menjadi kesal sendiri, tanpa mau membalas ucapan pria itu, Ayla segera bangun, namun langkahnya yang terkesan buru-buru membuat kepala nya kembali berputar dan hampir saja jatuh, namun sebuah lengan kekar berhasil menopang tubuhnya.


"Dasar keras kepala! berbaringlah." seru sang pria dengan tatapan tajamnya.


Mau tak mau, Ayla pun mengikuti perintah pria tersebut, dan kembali berbaring.


"Kemana gadis bar-bar yang aku temui sebulan yang lalu? baru liat mayat aja udah down." ejek sang pria dengan seringai liciknya.


"Diam aja deh, kamu udah kayak Ibu-Ibu kompleks yang suka ngerumpi." sembur Ayla kesal.


*****

__ADS_1


Setelah mengantarkan sang Putri, Delta melajukan mobilnya menuju arena balap yang sudah lama tak pernah ia datangi, momen di mana Rania datang dan menghalangi dirinya kala itu seakan berputar kembali, sebuah senyum yang telah lama hilang kembali menghiasi wajah tegas tersebut. Dengan langkah mantap, ia menuruni arena balap, kedatangan nya di sambut antusias oleh banyak orang.


__ADS_2