Istri Paksa Tuan Mafia

Istri Paksa Tuan Mafia
91. Murkanya Delta


__ADS_3

Tak mengenal waktu, Galfin pun segera menghubungi Delta. Sungguh ia tak tau bagaimana reaksi Delta saat mengetahui sisi gelap anak gadisnya. Namun sebisa mungkin ia akan mengesampingkan konsekuensi yang akan di terima Ayla, baginya Delta harus mengetahuinya, agar pria itu bisa mencegah hal-hal buruk yang akan menimpah Putrinya di kemudian hari akibat dari keputusan yang di ambil Ayla tanpa berdiskusi dengan mereka terlebih dahulu.


Tak berselang lama, sambungan telepon tersebut terhubung.


[ Apa terjadi sesuatu, Gaf? ] tanya Delta dari seberang.


[ Ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu dan juga Kakak Ipar. Bisakah kalian kesini sekarang juga? Ini mengenai Ayla. ] ujar Galfin dengan gugup.


Mendengar suara Galfin yang gugup dan mendengar beberapa kali pria itu menghela nafas berat, membuat Delta khawatir dan ketakutan, yang entah mengapa ia merasa ada sesuatu yang tidak beres.


[ Apa Ayla baik-baik saja, Fin? jangan membuatku takut, karena kau sendiri tau jika kelemahan ku hanyalah kedua anakku. ] tanya Delta dengan nafas tercekat, yang menandakan jika pria itu tidak ingin sesuatu hal buruk menimpah kedua anaknya.


[ Ayla baik-baik saja, aku tidak akan membiarkan sesuatu menimpah kedua keponakan ku, aku akan menunggu kedatangan kalian. ] balas Galfin meredakan kekhawatiran sahabatnya itu.


[ Baiklah, kami akan segera kesana. ]


Mendengar balasan dari Delta, Galfin segera memutuskan sambungan telpon itu. Galfin pun kembali fokus ke arah layar laptop, sungguh ia tak percaya jika selama ini Ayla menutupi jati dirinya dengan begitu rapat sehingga mereka tidak tau menahu mengenai Ayla yang sebenarnya.


*****


"Apa hanya anggur saja?" tanya sang gadis yang tak lain ialah Mikayla yang tau jika keempat pria itu dikirim bukan hanya diskusi mengenai penawaran anggur saja, saat melihat gelagat lain dari musuh yang berani mengirim orang-orang dari dunia bawah tanah.


"Seperti yang anda pikirkan, mereka seperti ingin membalas dendam atas apa yang anda lakukan kepada Radeva dua tahun yang lalu." lapor Millito, pria itu begitu peka dan tangkap saat menyadari ada penyusup ataupun musuh yang hendak menyerang mereka.


"Pantas saja dia berani mengirim ke empat sampah itu untuk diskusi anggur berkedok balas dendam." gumam Ayla dengan seringainya.


Ternyata masalah dua tahun lalu berbuntut panjang, hingga ajang balas dendam pun di mulai dengan diskusi anggur.


"Hubungi ketuanya." titah Ayla dan Millito langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi orang yang Ayla maksud.


Sambungan telpon tersambung dan Ayla mengambil alih ponsel tersebut dari tangan Millito.

__ADS_1


[ Kau ingin bermain denganku? ] tanya Ayla dengan suara datar.


Orang di seberang sana terdiam, dia cukup tau siapa di belakang gadis cantik itu, meski ia mendapatkan hak penuh dari Tuan Aslan namun pada dasarnya mereka tidak tau identitas asli gadis cantik itu yang darahnya mengalir darah mafia dari klan yang setara dengan klan keluarga Aslan.


[ Ini peringatan pertama dan terakhir bagimu dariku, jangan pernah ikut campur urusan lain selain pekerjaan. Aku tidak akan menahan diri untuk tidak membuat hal lebih dari yang kau bayangkan. ] seru Ayla dengan suara tenang tapi cukup membuat nyali lawan menciut seketika.


Orang di seberang sana berdehem untuk mengontrol suaranya.


[ Nyonya, sepertinya anda salah paham. ] ucapnya dan Alya hanya menyeringai mendengar alasan bodoh lawan bicaranya.


[ Aku hanya memberikanmu waktu sampai sepuluh menit. Jika kau tak menarik mundur ke empat pria itu untuk keluar dari sini dalam kurun waktu yang aku berikan, maka kau akan mendapatkan hidangan pembuka yang akan sangat berkesan bagimu. ]


Ayla langsung memutuskan sambungan telepon tersebut dan kembali menatap layar monitor di depannya.


"Mill, apakah kamu sudah lama tidak bermain hal kotor?" tanya Ayla dengan senyum penuh arti.


"Seperti yang anda ketahui bos, apakah saya boleh bermain bersama mereka atau anda ingin menikmatinya sendiri?" tanya Millito, ternyata kedua orang itu begitu mengerikan dalam mode serius.


*****


Mengetahui jika sahabat dan Kakak Iparnya hampir tiba, Galfin pun menunggu kedatangan mereka di depan mansion, tak berselang lama empat mobil mewah memasuki mansion, pria itu menghembuskan nafasnya dengan kasar kala tau siapa pemilik dua mobil mewah yang ikut bersama Delta.


"Hey, jangan bilang jika kau tak menginginkan kedatangan kami bersama bos dan Kakak iparmu." tanya Alex ketus saat melihat keengganan Galfin saat melihat kehadiran mereka.


Galfin memutar bola matanya malas mendengar penuturan Alex.


"Diam kau bedebah!" balas Galfin kesal.


"Apa kabar Gaf?" sapa Rania sembari memeluk sahabat suaminya.


"Alhamdulillah baik, senang berjumpa denganmu lagi Kakak Ipar." balas Galfin dengan tersenyum.

__ADS_1


Setelah saling menyapa, Galfin pun mengajak kelima orang itu menuju ruang kerja. Karena hanya ruangan itulah yang bisa mereka jadikan tempat diskusi yang aman.


"Maaf mengganggu waktu istirahat kalian, ini mengenai Ayla, aku harap kalian tenang dulu, okey?"


"Katakan." seru Delta dengan perasaan campur aduk.


"Ayla ialah pimpinan King Kobra." jelas Galfin dengan segala keberaniannya.


Mendengar itu, raut wajah Delta berubah tegang, bukan hanya Delta seorang yang terkejut namun semua yang ada di ruangan itu tampak syok tak terkecuali Rania juga.


"Jangan becanda ini tidak lucu, Gaf." seru Jibril tak percaya.


"Awalnya aku juga berpikir jika informasi yang di temukan Kyra mungkin keliru, namun pada kenyataannya itu semua ialah kebenaran nya." jelas Galfin.


"Sejak kapan? Mengapa kita tidak mengetahuinya." tanya Alex.


"Entahlah, itu yang sedang Kyra selidiki. Yang menjadi pokok permasalahannya ialah sosok yang mendukung Ayla, kalian mungkin tidak akan percaya dengan ucapanku." jelas Galfin lagi sembari menyodorkan laptopnya ke arah Delta dan lainnya.


Rahang Delta mengetat seketika kala membaca bait demi bait informasi mengenai sosok yang berada di belakang Putrinya, ia tak akan membiarkan siapapun menjerumuskan Putrinya ke dunia bawah tanah, terlebih banyak konsekuensi yang akan di hadapi oleh Putri nya di kemudian hari, ia tidak ingin kedua anaknya mengikuti jejak dirinya dan juga Rania.


"Bedebah kau Aslan! Kau ingin membalaskan rasa sakit hati adikmu melalui Putriku, tak akan kubiarkan itu semua terjadi, lihat saja nanti, akan ku pastikan seluruh bisnismu hancur." gumam Delta dengan amarahnya.


"Kau salah jika berpikir Aslan memanfaatkan Ayla, yang harus kau ketahui, Putri kecil kita diam-diam merajut kasih dengan William, Putra semata wayang Aslan. Mereka berpacaran sejak keduanya duduk di bangku sekolah." seru Galfin tak ingin sang sahabat gelap mata.


"Mas, tenang dulu. Kita bicarakan ini baik-baik, kita cari solusi dari masalah ini dengan kepala dingin." ucap Rania menenangkan suaminya.


"Kyra, seret Ayla kesini!" titah Delta dengan dinginnya.


Galfin, Rania dan lainnya hanya bisa mengembuskan nafas mereka kala melihat Delta dalam mode dinginnya.


"Baik Tuan." sahut Kyra.

__ADS_1


"Ini semua salahku, andai aku lebih berhati-hati dalam mengawasi Ayla mungkin semua ini tidak akan terjadi." ujar Galfin penuh rasa bersalah karena kecerobohan nya.


__ADS_2