Istri Paksa Tuan Mafia

Istri Paksa Tuan Mafia
62. Rindu


__ADS_3

Sudah pukul 9 malam, Delta masih saja berada di kantor, pria itu termenung seorang diri di ruangannya yang hanya diterangi lampu temaram. Dia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi kerjanya yang empuk dengan kedua tangan ia tumpukan pada lengan kursi kerjanya.


Ponselnya berdenting, sebuah notifikasi pesan telah masuk. Mendengar itu, Delta tidak langsung membuka pesan tersebut. Sudah dua hari ia berdiam diri di dalam ruangannya, segala pekerjaan nya di alihkan kepada sang sekertaris.


Kesayangan: Mas, maafkan aku. Aku tau aku salah karena telah menutupi siapa aku sebenarnya. Pulanglah, kami sangat merindukan kamu, Mas.


Matanya nya memerah menahan tangis kala membaca pesan singkat dari istrinya. Genggaman tangannya pada ponsel kian lama kian mengerat.


Mas sangat-sangat merindukan kalian juga. Tapi ini semua sudah menjadi keputusan Mas, Ra. Kelak kau akan mengerti dengan keputusan yang Mas ambil saat ini.


Tepat pukul satu dini hari, seorang pria melangkahkan kakinya memasuki lobby rumah mewah. Pria itu melangkah dengan pelan menuju lantai dua di mana kamar utama yang sudah dua hari lama nya tidak ia tiduri.


Dengan pelannya ia membuka pintu kamar tersebut agar tidak mengganggu tidur nyenyak ketiga sosok yang berada di dalam kamar.


Dengan perlahan Delta mulai melangkah kan kakinya mendekati ranjang, sebulir air mata mulai jatuh saat ia menatap tiga sosok yang begitu ia sayangi dan cintai. Ada rasa rindu yang membuncah, ingin sekali ia memeluk dan mengecupi wajah ketiga nya namun urung ia lakukan kala mengingat tujuannya saat ini. Di usapnya pipi tirus sang istri, ada rasa bersalah karena mengabaikan permintaan maaf istrinya, namun Delta mencoba menahan segala kepedihan itu demi suatu tujuan yang ia rencanakan.


Maafkan Mas, Ra. Tapi ini satu-satunya jalan untuk keamanan kamu, Mas bukan bermaksud mengabaikan kamu, tapi ada rencana yang telah Mas susun dan itu demi keselamatan kamu dan kedua anak kita. Bersabarlah sedikit.

__ADS_1


Sebuah kecupan ia darat kan ke dahi istrinya dan berpindah mencium kedua buah hatinya.


Bohong jika Ayah tidak merindukan kalian, Ayah hanya bisa menatap kalian di kala kalian sudah terlelap, Ayah berjanji akan segera menyelesaikan segala urusan Ayah agar kita bisa menghabiskan waktu yang telah terbuang ini, Ayah mencintai kalian seperti Ayah mencintai Ibu kalian.


Cukup lama ia menatap ketiga sosok itu, ia pun perlahan ikut berbaring di samping istrinya, di peluknya tubuh kecil istrinya itu begitu eratnya, ia begitu merindukan aroma tubuh istrinya itu, hingga tak membutuhkan waktu lama ia pun terlelap.


Hingga pagi menjelang, ia pun perlahan bangkit, mendaratkan sebuah kecupan lagi kepada ketiga sosok tersebut dan berlalu pergi. Dia tidak ingin istrinya tau jika malam tadi ia pulang dan ikut berbaring bersama mereka. Dia pun kembali berpesan kepada para pengawal untuk memastikan keselamatan ketiganya, tak lupa juga ia meminta Lin dan lainnya untuk selalu melayani istrinya agar tidak terlalu lelah dalam mengurusi si kembar.


"Mas..." Rania terbangun dan memanggil nama suaminya bertepatan dengan pintu kamar tertutup.


Delta dapat mendengar panggilan istrinya itu yang penuh dengan kerinduan, tetapi dia terus melangkah kan kakinya menjauh dari sana. Ketakutannya mengalahkan egonya untuk memeluk istrinya itu.


Oleh karena itu, setiba nya mereka di Negara A mereka tidak langsung menuju kediaman sang menantu, melainkan mereka pergi ke rumah besan mereka terlebih dahulu.


"Maafkan Delta, Papah. Delta sungguh tidak ingin melakukan ini terhadap Rani, semua ini ia lakukan semata-mata untuk mengalihkan fokus Rani pada misi yang sedang di jalaninya saat ini." Ashraf merasa tak enak hati kepada besan dan juga kepada Tuan besar Hanthony yang sudah di anggapnya sebagai Ayahnya sendiri.


"Papah bangga dengan Delta, meski ia kerap sekali bersikap dingin dan tak tersentuh, tapi jauh dari lubuk hati nya yang terdalam ia begitu mengkhawatirkan keamanan istri dan anak-anaknya, apapun yang terjadi di kehidupan rumah tangga mereka Papah minta sama kalian untuk tidak terlalu ikut campur, karena Papah yakin Delta bisa membina rumah tangga mereka dengan caranya sendiri." ujar Tuan besar Hanthony penuh dengan pujian untuk Delta.

__ADS_1


"Terima kasih Papah sudah mempercayai Delta sejauh ini. Dan mengenai misi Rani, Daddy sudah mendapatkan informasi yang sangat valid." jawab Ashraf.


"Apa yang Daddy temukan?" kali ini baritone itu berasal dari Burack.


"Sebenarnya Rani bukanlah seorang mata-mata melainkan--" jelas Ashraf menjeda ucapannya. Ia takut jika keluarga besar menantunya itu kaget kala tau siapa anak mereka sebenarnya.


"Dad jangan buat kami khawatir. Melainkan apa Dad?" tanya Lethisa yang tampak harap-harap cemas.


"Rani seorang peretas nomor satu di kedutaan. Rani juga salah seorang pimpinan sebuah organisasi rahasia yang mengemban tanggung jawab untuk menggulingkan para bandot mafia yang melakukan bisnis kotor seperti penjualan organ manusia, wanita, obat-obatan serta senjata api ilegal." jelas Ashraf tak enak hati.


Ketiga paru baya di depannya begitu terkejut ketika tau siapa anak perempuan keluarga mereka yang sebenarnya.


"Sejak kapan? apa Hendri juga tau mengenai ini?" tanya Lethisa tidak percaya jika sang anak ialah seorang yang tangguh.


"Tidak ada yang tau, Rani sudah menekuni profesinya sejak duduk di bangku SMP. Awalnya ia di remehkan mengingat umurnya yang masih remaja, tapi suatu ketika ia menerima tantangan dari salah satu IT kedutaan, sejak saat kemenangan itulah Rani mulai menekuni profesinya sebagai seorang hacker yang bekerja di kedutaan hingga sekarang." Ashraf lagi-lagi menjelaskan.


Burack menatap sang Ayah yang berada di sampingnya, kedua pria itu saling mengulum senyum, tanda jika kedua pria itu bangga dengan kecerdasan anak perempuan mereka.

__ADS_1


"Mas hentikan jangan tersenyum seperti itu, kalian seharusnya khawatir dengan keamanan Arezha bukan malah sebaliknya." gerutu Lethisa kesal.


__ADS_2