
"Arrgghhh!" teriak Rania beriringan dengan tembakan yang di lepaskan olehnya.
Dor! Dor! Dor!
Semua orang memejamkan mata kala mendengar suara tembakan, mereka hanya bisa diam saat Rania sudah bertindak.
"Tembakan itu belum seberapa, andaikan kau bukan adik dari Ayahku, sudah aku pastikan kematianmu! penderitaanmu sudah lebih dari cukup untuk membalas kematian Ian." ucap Rania lirih dengan air mata yang mulai bercucuran.
Ada rasa bersalah karena tidak bisa membalaskan kematian Brian, tapi ia juga tidak bisa menutup mata jika pelaku yang membunuh Brian ialah Paman nya sendiri, orang yang masih terikat darah bersama dengan nya.
Perlahan semua orang membuka pejaman mata mereka, ada rasa lega yang di rasakan oleh mereka saat tau jika Rania tidak membunuh Barack.
Melihat kekalutan sang istri, Delta pun perlahan melangkah mendekati istrinya. Di rengkuhnya tubuh bergetar sang istri, pria itu berulang kali mengecup puncak kepala istrinya.
"Maafkan aku, Mas. Aku tak bermaksud melawan mu, tapi rasa bersalahku kepada Ian membuat aku kalut dan tak tau harus melakukan apa untuk menebus segala rasa bersalahku." ucap nya lirih sambil mengeratkan pelukannya.
"Udah jangan menangis lagi." balas Delta menenangkan sang istri.
"Terima kasih, Nak." ucap Burack dengan isakan tangis.
"Tidak Ayah, Rania melakukan ini karena Rania masih memerlukan bantuan adik Ayah, jika saja ia tidak mengenal baik Millen Gustaf mungkin tidak ada kata ampun untuknya!" desis Rania kembali ke mode dingin tak tersentuh.
Meski tak mengerti dengan perkataan Rania tak satu pun dari mereka angkat bicara. Apa yang di alami Rania sudah cukup membuktikan jika wanita itu sedang tidak baik-baik saja.
Burack maupun Benedict hanya diam tanpa mau bertanya lagi, kedua pria itu perlahan berjalan mendekat ke arah Barack. Burack tak dapat menahan rasa bahagianya kala bisa bertemu dengan sang adik yang sangat di sayangi olehnya. Pria itu lantas memeluk raga sang adik yang terlihat tak berdaya setelah menerima beberapa pukulan hingga menimbulkan lebam di wajah serta luka tembak yang di berikan Rania pada kedua tangan adik nya itu.
"Maaf." ucap Barack lirih saat di dalam dekapan Burack.
"Jauh sebelum kau meminta maaf, kakak sudah memaafkan kamu, Bara. Kau adik ku, selama nya akan seperti itu." ucap Burack dengan tubuh bergetar menahan tangisnya agar tidak pecah lagi.
__ADS_1
"Aku terlalu hina untuk mendapatkan maafmu kakak. Rasa iri dan keserakahan ku membuat Mamah pergi selama lamanya. Maafkan aku karena aku, kakak dan Papah kehilangan Mamah." ucap Barack penuh penyesalan.
"Semua sudah menjadi suratan takdir, kau hanya menjadi perantaranya saja. Lupakan apa yang telah terjadi di masa lalu. Setelah ini, hidup lah lebih baik, jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan yang Tuhan berikan karena Kakak yakin jika kamu pasti bisa berubah."
Suasana haru itu pun berlangsung cukup lama, hingga tiba di mana dering ponsel Rania berdering menandakan jika ada yang menelpon dirinya, dengan cepat pula wanita itu merogoh saku celana nya, tertera nama Maxi di layar ponselnya.
Maxi: Nyonya, semua persiapan pemakaman Tuan Brian sudah rangkum seratus persen, kami menunggu kedatangan anda.
Me: Baiklah, aku akan segera tiba dalam waktu kurang dari dua jam.
Maxi: Baik Nyonya, kami menantikan kedatangan anda.
Me: Terima kasih Max.
Maxi: Tidak perlu berterima kasih Nyonya, bagaimana pun Tuan sudah sangat berjasa bagi saya maka dari itu apa yang saya lakukan saat ini belum sepenuhnya membalas kebaikan Tuan.
Setelah obrolan singkat itu, Rania pun segera memutuskan sambungan telpon itu. Ia menatap dalam manik kecoklatan suaminya.
Delta mengangguk, pria itu tak mungkin menolak permintaan istrinya. Bagaimana pun ia tidak ingin mengecewakan istrinya itu.
"Kami juga akan ikut bersama kalian, iyakan?" seru Alex sambil bertanya kepada yang lainnya.
Dengan serempak semuanya menganggukkan kepala tanda mereka menyetujui usul Alex.
"Ayah di luar sudah ada beberapa anak buah Ian yang akan mengawal kepulangan Ayah, Kakek dan Daddy, Rani beserta lainnya akan pergi ke hutan anggur untuk melepaskan Ian untuk terakhir kali nya. Ayah, Kakek dan Daddy tidak apakan pulang tanpa Rania dan lainnya?" tanya Rania tak enak hati.
"Tidak sayang, mungkin kami akan ke rumah sakit terlebih dahulu untuk mengobati luka-luka di tubuh Barack. Kalian pergilah dan hati-hati di jalan." kali ini Ashraf lah yang berbicara.
"Baiklah Dad, kami pergi dulu." pamit Rania sambil mencium punggung tangan ketiga orang tua nya.
__ADS_1
Setelah kepergian Rania beserta lainnya, Burack beserta Ashraf pun membopong tubuh Barack. Ketiga pria itu berencana membawa Barack ke rumah sakit terdekat. Kondisi Barack cukup memprihatinkan. Pria itu mendapatkan beberapa lebam di area wajah serta luka tembak yang cukup serius di kaki sebelah kiri dan juga tangan sebelah kanan. Sungguh Rania memberikan pelajaran yang cukup setimpal kepada pria itu.
Kenapa kau kembali jika kau akan pergi untuk selama-lamanya? meski cintaku padamu sudah tidak ada lagi tapi kita masih bisa bersahabat, aku merindukan kamu Ian, kau pria pertama yang memberiku warna. Berbahagialah di tempat barumu.
Menempuh perjalanan kurang lebih dua jam lama nya, iring-iringan mobil Rania pun perlahan memasuki hutan anggur. Kedatangan mereka telah di nantikan oleh Maxi yang sudah berdiri di depan pintu.
Semua pun segera turun, namun tidak dengan Rania. Wanita itu masih duduk berdiam diri di dalam mobil, pandangan nya menelisik ke arah rumah itu, ada begitu banyak kenangan yang terjadi di rumah itu antara dirinya dan juga Brian.
Maafkan aku Ian, aku tidak bisa membalaskan kematian kamu kepada Barack. Tapi aku berjanji akan mengembalikan nama baik mu dengan membuka kedok Millen, pria itu sudah cukup lama bersembunyi di balik kamu.
Rania tak dapat menutupi rasa sedih sekaligus rasa bersalahnya, wanita itu menangis dalam diam, ia tak peduli jika kerabat dekat nya melihat nya dalam keadaan seperti saat ini. Semua orang yang sudah turun dari mobil tampak bingung ketika melihat Rania yang tak juga ikut turun bersama mereka.
Delta pun perlahan membuka pintu mobil nya. Rasa sesak kembali hinggap di hatinya kala melihat sang istri yang lagi-lagi menangis, entah apa yang di tangisi oleh istri nya itu.
"Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja. Jangan biarkan Brian menunggu kita terlalu lama." ujar Delta lembut.
Rania tak menjawab, wanita itu hanya diam sambil menghapus bulir air mata nya. Setelah merasa cukup tenang, ia pun turun dari mobil.
"Selamat datang kembali, Nyonya." sapa salah seorang maid.
Mengapa maid itu begitu akrab dengan, Rania? apa Rania pernah kesini? jika ya, berarti Rania dan Brian memiliki hubungan yang cukup baik di masa lalu.
"Lama tak jumpa Bik." balas Rania sambil memeluk wanita paru baya itu.
"Tersenyumlah Nyonya, karena Tuan Brian akan kesal saat melihat wajah murung Nyonya." ucap sang bibi dengan lirihnya sambil mendekap tubuh Rania.
"Maafkan aku Bik, andaikan Ian tidak menjadi tameng untuk ku, mungkin sampai saat ini ia masih bersama kita." balas Rania dengan isakan tangisnya.
"Tuan pasti bahagia karena bisa menyelamatkan Nyonya, karena Tuan sudah berjanji akan menjadi perisai untuk Nyonya. Berbahagialah Nyonya, karena kebahagian Nyonya ialah kebahagian Tuan juga." ujar sang bibi lagi.
__ADS_1
Delta beserta lainnya tertegun mendengar penuturan wanita paru baya itu. Pasalnya mereka cukup tau mengenai siapa sosok Brian sebenarnya, tapi dari ucapan wanita paru baya itu, menandakan jika Brian ialah pribadi yang begitu hangat dan lembut saat bersama dengan Rania.