
Galfin hanya berdiri mematung bersama ketiga sahabat Tuan nya, ia sungguh takut jika Nyonya muda nya mengatakan bahwa sanya diri nya lah yang meminta Nyonya muda nya untuk datang dan menghentikan Tuan nya. Melihat kegugupan di wajah Galfin, Jibril pun menepuk pundak asisten kepercayaan Delta tersebut.
Seperti tau apa yang sedang di pikirkan oleh Galfin, Jibril pun memulai percakapan.
"Tenanglah, Nyonya muda kamu adalah wanita baik ia tidak mungkin menyulitkan kamu, terlebih Delta pun pasti akan berterima kasih ke kamu, karena kamu ia pun bisa dekat dengan Rania." ujar Jibril sembari mengajak mereka pergi dari sana.
Seperti mendapatkan pencerahan, Galfin pun bernafas lega, semoga saja ia tidak akan benar di bunuh karena lancang membawa Nyonya muda nya ke arena balap.
Kali ini tanpa Galfin, Delta pun mengemudikan mobil nya membela jalanan. Namun ekspresi wajah nya tetap lah datar, Rania tau jika emosi Delta belum sepenuh nya mereda oleh karena itu ia duduk dalam diam sembari membuang pandangan nya ke arah jendela.
" Mengapa kamu datang? apa Galfin yang mengajak kamu ke sirkuit?" tanya Delta beruntun namun tetap fokus ke arah depan.
Rania diam, namun sejurus kemudian ia menggeleng kecil, ia sendiri tak paham mengapa ia mengikuti Galfin tanpa berpikir. Mengingat jika Delta pasti akan memarahi bahkan memukul Galfin, Rania pun mengalihkan pandangan nya ke arah Delta.
"Kenapa? apa aku mengganggu ketenangan kamu lagi?" tanya Rania lirih, ia takut jika Delta merasa terganggu dengan kehadiran nya di sana, dan mengganggu kesenangan nya.
Mendengar suara Rania yang seperti ingin menangis lagi, Delta pun menurunkan laju mobil nya.
__ADS_1
"Bukan seperti itu, tapi kamu tau kan hujan nggak reda-reda dan kamu malah kesana dalam kondisi seperti ini, aku hanya takut kalian berdua sakit." balas Delta dengan suara melembut, tangan nya pun terulur meraih selimut yang ada di kursi belakang.
Deg..
Mendengar kalimat kalian berdua, hati Rania terenyuh, ia tidak pernah berpikir jika Delta akan bereaksi sekeras itu, dan untuk kesekian kali nya nya ia tersenyum menanggapi ucapan Delta.
Delta menepikan mobil nya, tangan nya kembali terulur mengusap kepala Rania yang basah dengan handuk. Mendapat perlakuan lembut Delta, diam-diam Rania tersenyum simpul, tak ada penolakan saat Delta memperlakukan Rania dengan lembut nya.
Delta yang tau jika pakaian yang di kenakan istri nya itu sudah sangat basah oleh karena itu ia memilih turun dan membuka bagasi belakang, Rania bingung dan hendak turun mengikuti Delta namun baru saja separuh kaki nya hendak menginjak tanah suara Delta menghentikan pergerakan nya.
"Mau kemana? di luar masih hujan, ganti pakaian kamu dengan ini." tanya Delta dan menyodorkan paper bag ke arah Rania, tangan Rania pun terulur dan menerima paper bag tersebut.
Rania mengerutkan alisnya kala mengeluarkan isi dari paper bag tersebut, sebuah dress selutut lengkap bersama dalaman nya. Dan semua pakaian itu sangat pas ketika ia kenakan.
Apa ini pakaian kekasih nya?
Membatin Rania dengan sedih nya. Entah kenapa pikiran itu seperti tamparan untuk nya.
__ADS_1
Hampir sepuluh menit berlalu, Delta pun kembali masuk namun ia terkejut melihat Rania yang kembali memasang wajah masam nya. Dan seperti tau apa yang di pikirkan istri nya Delta pun berucap.
"Pakaian itu aku belikan untuk kamu saat aku berada di kota D." jelas Delta tak ingin Rania berpikir macam-macam.
Rania hanya menunduk kan kepala nya, namun mendengar penjelasan Delta ia pun tersenyum dan segera membuang pandangan nya lagi ke arah jendela, ia tidak ingin Delta menangkap basah wajah nya yang sedang tersenyum.
"Makasih!" cicit Rania dengan suara pelan.
"Hhmmm." balas Delta dengan deheman.
"Perjalanan cukup jauh, tidur lah. Aku akan membangun kan kamu jika kita sudah tiba." ucap Delta lagi.
Delta pun beralih menutup tubuh Rania mengunakan selimut untuk menghangatkan tubuh istri nya itu agar tidak kedinginan, suhu Ace mobil pun ia atur sedemikian hangat agar istri nya tidak kedinginan. Memastikan kenyamanan Rania sudah cukup, Delta pun kembali mengemudikan mobil nya membela jalanan.
Rasa kantuk yang ia tahan sejak siang tadi kini kembali menerpa nya, ia pun perlahan memejamkan mata nya, tak butuh waktu lama dengkuran halus pun terdengar, Delta tersenyum melihat istri nya itu tertidur, ia bahagia ketika di antara mereka tidak terjadi perdebatan sengit lagi seperti sebelum-sebelum nya.
Hampir seperempat jalan, Rania terlihat begitu gelisah dengan mata yang terus terpejam, melihat itu pun pucuk tangan kiri Delta terulur ke dahi Rania yang terasa menghangat, Delta yang khawatir pun segera melaju kan mobil nya, kali ini ia di dera rasa bersalah, andaikan ia tidak pergi mungkin istri nya itu tidak akan mengalami demam seperti saat ini.
__ADS_1
Delta pun mengirimi pesan kepada sepupu nya yang berprofesi sebagai dokter. Dan meminta pria itu untuk datang segera mungkin ke mansion nya.