Istri Paksa Tuan Mafia

Istri Paksa Tuan Mafia
67. Pelukan Terakhir.


__ADS_3

Tak membutuhkan waktu lama, mobil yang di kendarai Alex berhenti tepat di belakang sebuah mobil van. Jibril pun segera turun dan menghampiri para sahabatnya yang berada di dalam mobil van di ikuti Delta dan lainnya.


"Bagaimana situasi di dalam?" tanya Jibril saat sudah ikut duduk di dalam mobil tersebut.


"Kali ini Zi menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya." jawab Alden sambil menunjuk layar komputer di hadapannya.


Delta maupun kedua sahabatnya membola, mereka tidak pernah tau sisi kekejaman Rania, adegan di mana Rania menembak membuat ketiga pria itu tak percaya, pasalnya selama ini mereka tau jika Rania ialah wanita lemah lembut yang tak pernah bersikap kasar kepada siapapun tapi apa yang di lihat mereka saat ini membuat mereka yakin jika Rania bukanlah wanita sembarangan.


Kelihaian Rania dalam memegang senjata sudah menunjukkan jika wanita itu sudah sejak lama terlatih menggunakan senjata api. Rahang Delta kian mengeras kala melihat sang istri yang berbicara begitu dekat dengan Brian ada rasa cemburu yang membuncah. Namun coba ia tepis.


"Sejak kapan?" tanya Alex penasaran.


"Sudah sejak lama, kalian tidak perlu mengkhawatirkan dirinya karena Brian tidak akan membiarkan sesuatu menimpa Zi di dalam sana. Dan Zi juga tidak muda di kalahkan." seru Alden.


Mereka semua kembali fokus menatap layar komputer, suasana di dalam mansion itu makin mencengkam di mana Brian menembak dengan membabi buta para anak buah Barack.


Barack dengan penuh kelicikan mengarahkan pistolnya ke arah Rania tanpa di ketahui oleh Brian maupun Rania sendiri. Satu tembakan yang di lepaskan oleh Barack tepat mengenai dada Brian yang entah sejak kapan berdiri tepat di depan Rania dan menjadi tameng wanita itu, seketika pria itu terhuyung kebelakang.


"Ian!" teriak Rania sambil berlari ke arah pria itu.


Mendengar panggilan Ian yang di ucapkan Rania setelah delapan tahun berpisah membuat hati Brian bahagia. Nama Ian ialah nama sayang-sayang yang sering di panggil oleh Rania untuk Brian. Wanita itu menangkap tubuh Brian yang hendak ambruk. Dengan perlahan ia pun menidurkan Brian di pangkuannya.

__ADS_1


"Ian, kenapa kau lakukan ini?" tanya Rania dengan berlinang air mata. Meski ia kerap sekali berucap ketus kepada pria itu, tapi jauh di lubuk hati nya yang paling dalam ia begitu menyayangi pria itu sebagai sosok sang kakak.


Di sisa kesadarannya, pria itu mengulas senyum yang begitu manis. Dengan perlahan tangannya terulur membelai pipi Rania.


"Jangan menangis, aku bahagia bisa melindungi kamu, Ra. Terima kasih kamu masih mau memaafkan aku. Setelah kepergianku, seluruh kekayaanku akan menjadi milik kedua anakmu, berjanjilah untuk menerima semua kekayaanku, Ra. Kamu mau kan?" tanya Brian sambil terbatuk darah.


"Apa yang kau bicarakan? kau akan baik-baik saja, Ian. Bertahanlah, Maxi sedang memanggil ambulance kesini." tegur Rania sambil mendekap tubuh lemah sahabatnya.


"Maxi." panggil Brian lemah.


"Saya di sini Tuan." jawab Maxi dengan suara bergetar menahan tangis saat melihat sahabat sekaligus bosnya sedang terkapar menahan sakit.


"Minta Bianca untuk mengalihkan seluruh aset kekayaan ku atas nama kedua anak Nyonya. Setelah kepergianku, kau ikutlah bergabung bersama Nyonya dan suaminya bawa seluruh orang-orang kita, dan berjanjilah untuk selalu menjaga keluarga Nyonya demi aku." ujarnya dengan mengulas sebuah senyum tulus.


"Tuan, apa yang anda bicarakan? bertahanlah, semuanya akan baik-baik saja."


"Jangan menolak permintaan ku Max."


"Aku mencintai kamu, Ra. Aku begitu bahagia saat tau kau akan kesini setelah sekian lama kita tidak bertemu. Apa aku boleh meminta satu permintaan di sisa hidupku ini?" tanya Brian dengan mata yang hampir terpejam.


Hanya anggukan yang menjadi jawaban dari Rania atas permintaan pria itu.

__ADS_1


"Beri aku satu pelukan di detik terakhirku." pinta nya.


Tanpa menjawab permintaan terakhir pria itu, Rania segera memeluk tubuh Brian dengan begitu eratnya, tubuh wanita itu bergetar hebat, ada rasa penyesalan saat dirinya tak bisa mengutarakan perasaan nya yang sebenarnya pada pria itu di masa lalu.


"Kau cinta pertamaku, Ian. Kau pria yang mampu membuat hariku berwarna, tapi insiden itu membuat aku takut mengungkapkan isi hati ku yang sebenarnya, hingga di tahun ke empat perpisahan kita, aku mengenal seorang pria yang sifat dan kelakuannya begitu mirip denganmu. Makasih karena telah mencintaiku setulus ini dan maaf karena aku juga kau harus berakhir seperti ini." lirih Rania sambil mendekap raga Brian yang sudah tak bernyawa saat dirinya selesai mengungkapkan perasaannya di masa lalu.


Akan ku pastikan kematian mu, Barack. Keserakahan membuat kamu gelap mata.


Rania menangis dalam diam, wanita itu tak peduli dengan apa yang terjadi saat ini, ia berjanji akan membalaskan kematian Brian.


"Max, bawa jasad Ian ke kamar!" titahnya kepada asisten pria itu.


"B-baik Nyonya." jawab Maxi gugup saat melihat sorot mata yang begitu tajam dari wanita pujaan hati majikannya itu.


Maxi dan beberapa anak buah nya pun mengangkat raga tak bernyawa Brian. Setelah memastikan jasad Brian di bawah dari sana, Rania segera menghapus bulir air mata di pipi nya dengan punggung tangannya dan segera berdiri. Sorot mata nya berkilat marah, ia tak peduli lagi jika pria yang akan di bunuhnya saat ini ialah adik dari Ayah nya sendiri.


Dengan begitu lihai Rania menembak para anak buah Barack, tak ada rasa takut sedikit pun pada dirinya.


"Apa kau yakin jika suami mu tidak melihat adegan antara kamu dan Brian? aku yakin jika suami mu pasti begitu kecewa memiliki istri yang tidak memiliki pendirian seperti mu." cibir Barack penuh dengan ejekan.


"Diam brengsek!" desis Rania sambil melepaskan tembakan ke arah Barack.

__ADS_1


Di luar mansion, Jibril dan lainnya hanya bisa diam, mereka tak berani bersuara saat melihat Delta yang sejak tadi mengeram marah, otot wajah pria itu mengetat saat melihat dan mendengar ungkapan isi hati istrinya itu.


Apakah cinta untuk pria itu masih ada hingga sekarang, Ra? mengapa ini begitu sakit.


__ADS_2