
Delta bersama para sahabatnya pun sedang duduk di ruang kerja Delta, mereka mulai berunding membicarakan perihal pembebasan Galfin yang di tawan sejak dua bulan yang lalu.
"Balck Butterfly tidak mudah untuk di kelabui, pemimpin organisasi itu cukup jeli dan memiliki insting yang kuat terhadap musuh. Jangan gegabah mengambil keputusan karena itu akan membahayakan nyawa Galfin." jelas Jibril yang cukup tau mengenai organisasi tersebut.
"Tapi ini sudah dua bulan berlalu, kita tidak mungkin membiarkan Galfin dalam bahaya jika berlama lama di dalam markas Balck Butterfly." seru Alex.
"Apa yang di katakan Alex ada benarnya juga, kita tidak bisa terus mengulur waktu terlalu lama untuk membebaskan Galfin dari sana." timpal Garan menyetujui ucapan Alex.
"Hanya ada satu orang yang bisa menyelamatkan Galfin tanpa ada peperangan di antara dua kubu mafia, tapi aku yakin jika kalian pasti tidak akan menyetujui orang itu." seru Jibril dengan wajah yang begitu serius.
Maafkan aku, Rania. Tapi aku tidak ingin sesuatu menimpah kamu terlebih aku tidak ingin Delta terpuruk saat tau kamu terluka.
"Apa maksudmu? dan siapa orang itu?" tanya Delta dengan sorot mata tajam nya.
"Apa kamu yakin ingin tau siapa orang itu? setelah aku katakan dan kamu tau siapa orang itu, apa yang akan kamu lakukan?" bukannya menjawab, Jibril malah balik melemparkan pertanyaan.
"Jangan berkelit, katakan siapa orang itu?" sentak Delta dengan sorot mata tajamnya.
"Bagaimana jika orang itu ialah istri kamu? apa yang akan kamu lakukan?" tanya Jibril memastikan.
Delta dan kedua sahabatnya yang lain hanya tertawa menanggapi ucapan Jibril. Mereka tidak menyangka jika Jibril pria yang sering kali berbicara serius itu bisa bergurau juga.
"Hey, sejak kapan seorang Jibril bisa bergurau juga!" ejek Alex di ikuti gelak tawa oleh Garan maupun Delta.
"Tapi itulah kenyataan nya, hanya Rania seorang yang bisa membebaskan Galfin dari Balck Butterfly." ujar Jibril lagi dengan tenang.
__ADS_1
Seketika tawa ketiga pria itu memudar di gantikan dengan sorot mata tajam menghunus ke arah Jibril, rahang ketiga pria itu mengerat seketika saat melihat keseriusan berbicara dari sahabat mereka.
"Berhenti berbicara omong kosong, J!" bentak Alex yang kembali ke mode serius.
"Terserah kalian mau percaya atau tidak! tapi satu yang harus kalian ketahui, Rania bukan gadis polos seperti yang kalian ketahui, ia seorang mata-mata nomor satu yang di lindungi oleh pihak-pihak penting di beberapa negara dan kota." jelas Jibril, ia pun pasrah jika Rania akan memusuhinya.
Delta meremas ponselnya dengan kuat hingga suara retakan dari ponsel itu terdengar kala keheningan di ruangan itu. Ia menatap tajam pria di depannya, aura yang di perlihatkan oleh Delta saat ini begitu menakutkan, tapi sosok Jibril tak sedikitpun merasa terintimidasi.
"Jadi sejak awal kau memang mengenal Rania?"
"Tidak. Saat aku bertemu dengan nya aku memang tak mengenal Rania sama sekali. Melihat ukiran sebuah tato di bagian tengkuknya mengingatkan aku pada seseorang yang sering terhubung dengan ku. Maka dari itu, aku mencoba menggali informasi mengenai istrimu dan kecurigaan ku ternyata benar, jika istrimu ialah orang yang selama ini aku kenal meski aku sendiri tidak pernah bertemu dengan nya secara langsung. Kami hanya sering terhubung melalui alat komunikasi."
Perkataan Jibril terhenti saat pintu ruangan itu terbuka, dan sosok yang sedang mereka bicara pun sudah berdiri di ambang pintu dengan memamerkan deretan gigi putihnya ke arah suami dan lainnya.
"Apa aku mengganggu pembicaraan kalian?" tanya Rania dengan senyum termanisnya.
Rania pun mulai melangkahkan kaki nya mendekati mereka, wanita cantik itu pun mulai menata beberapa cemilan dan teh di atas meja. Kali ini pandangan Rania terkunci dengan sorot mata tajam Jibril, namun sebisa mungkin Rania bersikap tenang.
Sikap kedua orang itu tak luput dari penglihatan Delta dan kedua sahabat nya. Mereka diam-diam mengamati interaksi keduanya melalui isyarat mata dari keduanya.
"Ada apa? mengapa kau menatapku seperti itu kak Jibril?" tanya Rania setenang mungkin.
"Aku sudah tau akan dirimu, Rania."
" Benarkah? jika kau tau siapa aku, katakanlah di depan mereka." tantang Rania dengan begitu tenang.
__ADS_1
"Kau salah seorang mata-mata yang tergabung dalam organisasi rahasia, kau juga orang yang sama yang sering berhubungan dengan kami, bukan begitu, Rania?" ujar Jibril dengan senyum mengembang.
"Apa kau yakin dengan apa yang kau katakan, J? karena sesaat kejadian malam itu, aku meminta bantuan Galfin dan Garan untuk menyelidiki seluk beluk Rania, dan semuanya bersih." seru Delta masih tidak percaya dengan ucapan Jibril, meski awalnya ia juga sudah mulai menaruh curiga kepada istrinya itu.
"Kalian tidak mungkin menemukan apapun mengenai Rania, karena semua yang berhubungan dengan Rania sudah di bersihkan terlebih dahulu." ucap Jibril sambil melempar ponsel nya ke arah Garan.
"Kalian akan tau siapa Rania sebenarnya saat kalian sudah melihat isi dari ponsel tersebut." ujar Jibril.
Rania tetap menampilkan raut wajah yang tenang. Dia sama sekali tidak terpengaruh dengan keadaan sekitar. Rania tetap memandang wajah kecewa suaminya itu. Ada perasaan bersalah melingkupi hati nya.
"Oh ****! kenapa aku bisa kecolongan!" Garan mengumpat kasar.
Delta merebut ponsel milik Jibril dari genggaman Garan. Dia membaca secara detail dan cepat mengenai identitas Rania. Kakinya goyah saat tau siapa istrinya yang sebenarnya. Delta mencoba menolak kenyataan yang ada, tapi bukti itu sudah cukup valid. Dengan perlahan Delta melangkah mundur, kini pria itu mengarahkan pistol nya ke arah Jibril dan Rania.
"Siapa kalian sebenarnya, hah?!"
Wajah Delta merah padam, Delta mengarahkan pistolnya ke arah Rania.
"Sejak awal aku sudah menaruh curiga kepada mu, Ra. Jika kau hanya wanita biasa, mana mungkin kau bisa meretas dan membuat perusahan ku hampir bangkrut. Dengan begitu cepatnya juga kau menggali informasi mengenai siapa kedua orang tuamu, aku memilih diam karena aku ingin kau menceritakan segalanya kepada ku, tapi apa? selama ini kau terus-menerus menutupinya dariku. Kau sungguh tega melakukan ini padaku, Ra?"
Rania melihat mata Delta yang memerah bukan hanya karena marah tapi ada kesedihan yang di tahan Delta.
"Tidak ku sangka kamu akan menyembunyikan ini dariku. Ku pikir setelah hubungan kita membaik kau akan menaruh kepercayaan kepada ku, tapi nyatanya kamu tak sedikitpun menaruh rasa kepercayaan kamu kepadaku."
Delta tertawa sumbang.
__ADS_1
"Ternyata selama ini apa yang kau berikan kepadaku hanya sebuah kepalsuan, Rania. Perhatian, pelukanmu dan kebaikanmu selama ini hanyalah kepalsuan."
Delta mengusap air mata yang tak sengaja jatuh dengan punggung tangannya dengan kasar.