
"Sebagai seorang suami saya meminta maaf atas sikap Rania di butik tadi." ucap Delta dan menunduk hormat kepada kedua paru baya tersebut dan kembali duduk.
"Tidak Nak, mungkin sikap Arezha tadi adalah suatu bentuk kekecewaannya terhadap kami. Bisakah saya bertemu dengan Arezha?" tanya Lethisa memberanikan diri.
"Bukan saya menolak, alangkah baik nya biar Rania sendiri terlebih dahulu, takutnya saat Rania melihat kehadiran Nyonya di depannya akan makin memperburuk keadaan." cegah Delta yang cukup tau sifat keras istrinya tersebut.
"Apa yang di katakan Delta ada benarnya juga, Bun. Beri waktu Arezha sedikit lagi, Ayah yakin suatu saat nanti semuanya akan baik-baik saja." seru Burack menenangkan sang istri yang terlihat sedih.
"Saya akan coba berbicara dengan Rania, secepatnya akan saya usahakan untuk mempertemukan Tuan dan Nyonya bersama Rania." ucap Delta lagi memberi harapan kepada kedua paru baya itu.
"Tidak! sampai kapan pun aku tidak akan memaafkan kalian!" seruan itu datang di saat Delta selesai berbicara.
Deg
Tubuh ketiga orang itu membeku sempurna, ketiganya pun serempak berdiri dari duduk mereka, kini pandangan mereka mengarah ke arah sosok wanita hamil yang berdiri tak jauh dari mereka.
"Dan untuk kamu, Mas. Sudah aku katakan untuk tidak melewati batasan mu bukan, tapi apa, apa ini? kau memberikan mereka peluang untuk bertemu dengan ku! maaf sekalipun kalian menangis darah di depanku, aku tidak akan pernah sudi menerima kalian, bagiku kalian sudah lama MATI!" penolakan yang Rania ucapkan masih bisa di terima oleh kedua paru baya itu, namun tidak dengan Delta pria itu menatap tajam sang istri.
"Cukup Ra! kau sudah sangat keterlaluan, bisa-bisanya kau berbicara seperti itu di saat kau sendiri tidak tau kebenarannya!" marah Delta dengan suara meninggi tanda emosi pria itu mulai tersulut.
__ADS_1
Kedua paru baya itu hanya terdiam menyaksikan perdebatan di antara suami istri tersebut. Mendengar ucapan suaminya membuat jantung Rania berdegup kencang, ada perasaan aneh yang hinggap di hatinya namun sepersekian detik gadis itu mengenyahkan pikirannya dan kembali menatap sinis ke arah kedua paru baya itu
"Jika kalian menyanggupi permintaanku, mungkin aku bisa berubah pikiran dan memaafkan kalian dan itu terserah kalian. Mau atau tidak!" seru Rania dengan seringai licik.
Delta yakin istri nya itu tidak akan semudah itu memaafkan seseorang terlebih saat ia melihat seringai licik di sudut bibir istrinya itu, alarm tanda bahaya mulai menyelimuti hati Delta. Namun pria itu memilih mengikuti alur dari istri nya tersebut.
Mendengar itu tampak wajah kedua paru baya itu berseri seri, mereka merasa bahagia jika sang anak sudah mau memaafkan mereka meski belum mau menerima mereka seutuhnya. Seketika itu juga raut kebahagiaan terlihat di wajah kedua paru baya tersebut.
"Katakanlah Nak, kami akan memenuhi keinginanmu." jawab Burack menyetujui syarat sang anak tanpa ada rasa curiga sedikitpun.
"Apapun itu? bagaimana jika aku meminta nyawa kalian sebagai gantinya dari sebuah kata maaf yang akan aku berikan?" tanya Rania dengan tersenyum sinis.
"Jika dengan kematian kami, kami dapat memperoleh maaf dari kamu, kami siap memberikan nyawa kami sebagai penebusan atas segala penderitaan mu selama ini, maka kami akan melakukan nya sekarang juga dengan meloncat dari gedung ini! " balas Lethisa dengan mantap. Perlahan bulir air mata pun mulai berjatuhan di wajah wanita paru baya itu.
Rania hanya menanggapi ucapan wanita itu dengan wajah datarnya. Delta mengeram kesal, ia tidak menyangka jika Rania bisa berbicara seperti itu, pria itu pun melangkah maju mendekati sang istri dan menariknya menjauh dari hadapan kedua mertuanya.
"Aku tau kau meragukan mereka karena ada seseorang yang telah menghasut kamu, tapi ingatlah, memaafkan seseorang itu lebih mulia, sayang. Dan ingatlah, usia seseorang adalah misteri illahi, mungkin saja besok kedua orang tua kamu di ambil oleh sang pencipta, dan aku tidak ingin kamu menyesali semua nya setelah mereka tiada. Cobalah untuk berdamai dengan hati dan perasaan kamu, aku yakin kamu pun begitu merindukan mereka sama seperti mereka merindukan kamu. Mas tidak memiliki hak untuk menjelaskan segalanya kepada kamu, jika kamu mau tanya alasan mereka mengasingkan dirimu waktu itu tanyakan itu kepada mereka langsung, dan saat kamu sudah tau kebenarannya Mas janji akan menyetujui keputusan apapun yang akan kamu ambil. Mau kan bicara sama mereka?" ucap Delta sambil menangkup wajah istri kecilnya itu.
Rania terdiam menatap suaminya, apa yang di katakan suaminya memang ada benarnya, karena memang ia meragukan segala yang akan di katakan kedua orang tua kandungnya terlebih ucapan pria paru baya kala itu mengatakan jika mereka membuang dirinya karena mereka tidak ingin harta kekayaan Kakeknya jatuh kepadanya. Rania menghela nafasnya lalu menganggukkan kepalanya yang membuat Delta tersenyum dan langsung memeluk tubuh Rania.
__ADS_1
"Aku akan memaafkan mereka, tapi untuk menerima kehadiran mereka mungkin akan sedikit sulit, kamu taukan maksud ku, Mas?" lirih Rania.
"Iya, sayang. Nggak papa kok. Biarkan semua berjalan dengan sendirinya. Mas nggak bakalan maksain kamu harus segera menerima mereka, tapi Mas mohon bersikap baiklah kepada mereka demi anak kita." ujar Delta lembut.
Baru saja Delta selesai mengatakan semuanya, ia terkejut karena Rania melerai pelukan mereka sambil mendorong tubuhnya secara tiba-tiba.
"Kenapa?" tanya Delta dengan bingung.
"Aku kan lagi marah sama kamu, Mas." ujar Rania sambil melipat tangannya di atas perut buncitnya.
"Astaga sayang, udah dong jangan ngambekan lagi, entar pas dede bayinya lahir liat muka Bunda yang udah timbul keriput pasti takut deh." goda Delta dengan tersenyum.
"Mana ada seperti itu! jangan ngada-ngada deh Mas. Orang wajah aku cantik dan imut gini, nggak bakalan ada keriputan, yang ada wajah aku akan tambah cantik dan pasti akan banyak pria di luaran sana mengincar aku jadi istri mereka." seru Rania membanggakan diri.
Tukkk
"Kamu hanya milik Delta Ammar!" ucap Delta dengan wajah masam sambil menyentil dahi istrinya.
"Udah ayo, kasian Ayah sama Bunda udah nungguin kita di luar." ajak Delta sambil menautkan jari mereka satu sama lain.
__ADS_1
Melihat kedatangan anak dan menantu mereka ada perasaan takut di relung hati kedua suami istri itu, takut akan penolakan sang anak. Namun sebisa mungkin mereka mengatur degup jantung mereka agar tetap tenang.