
Meski ia begitu benci dengan pria di depan nya, namun Rania tidak ingin membantah perkataan pria itu, bagaimana pun juga pria itu masih sah menjadi suami nya. Rania pun akhir nya menyetujui permintaan Delta namun sebelum keberangkatan mereka Rania mengajukan kesepakatan, entah Delta mau terima atau tidak namun ia sudah membuat keputusan.
"Ok aku akan ikut bersama kamu, tapi sebelum itu mari kita buat kesepakatan terlebih dahulu." ucap Rania dengan serius nya.
Delta tampak mengernyitkan alis nya, ia tau Rania tak mudah menyetujui permintaan nya, namun Delta berpikir jika ia bersikap acuh pasti Rania tidak akan ikut pulang bersama nya.
"Katakanlah!" balas Delta siap dengan segala kesepakatan yang akan di katakan Rania.
"Meski kita sah sebagai suami istri tapi aku tidak ingin tidur sekamar dengan kamu, dan satu lagi, mari jalani kehidupan masing-masing tanpa mencampuri privasi masing-masing. Oleh karena itu kita akan tetap menjadi orang asing satu sama lain." tegas Rania yang tidak ingin terlibat apapun dengan suami nya itu.
"Baiklah! tapi ijinkan aku menjalani kewajiban aku untuk menafkahi kamu dan anak kita, selebihnya terserah kamu." balas Delta meski ia sendiri merasa kecewa karena pada akhir nya Rania akan terus menjaga jarak dengan nya.
__ADS_1
Rania mendelik tak suka, ia tidak ingin menerima apapun pemberian dari Delta meski mereka suami istri.
"Aku akan menerima nafkah dari kamu, tapi tidak untuk aku, itu semua hanya untuk anak ini, dan mengenai kebutuhan aku, kau tidak perlu menanggung nya, aku akan mencari pekerjaan, aku tidak ingin bergantung pada kamu atau pun kedua orang tua kamu, karena setelah anak ini lahir kita akan segera bercerai, dan jangan takut, anak ini akan tetap di asu oleh kamu dan kedua orang tua kamu. Setelah nya aku akan pergi menjauh dari kehidupan kalian." jelas Rania lagi, ia sudah bertekad setelah kelahiran bayi nya ia akan segera meninggal kan kota A dan sebisa mungkin menjauh dari keluarga Ammar termasuk darah daging nya sendiri.
Delta menahan amarah nya, ia tidak akan membiarkan Rania pergi menjauh meninggalkan diri nya dan anak mereka. Namun untuk saat ini Delta berpikir jika ia harus menyetujui kemauan Rania, ia tidak ingin Rania marah dan membuat istri nya itu membenci diri nya lagi sehingga jarak di antara mereka akan lebih jauh lagi.
"Ok, apapun keputusan kamu aku akan menyetujui nya. Ya sudah ayok kita pulang,." ajak Delta dengan pasrah, ia akan mencoba menerima pernikahan ini, apapun yang akan terjadi ia tetap ingin mempertahan kan pernikahan nya bersama Rania.
Karena efek dari kehamilan membuat Rania mudah sekali tertidur, seperti saat ini meski baru dua jam mereka menempuh perjalanan tampak sosok wanita hamil itu sudah tertidur begitu lelap nya. Melihat Rania yang sudah tertidur, Delta pun mengatur sandaran kursi yang di duduki Rania agar istri nya itu nyaman meski tidur di dalam mobil.
Setelah memastikan Rania tertidur dengan nyaman, Delta pun ikut memejamkan mata nya, perjalanan yang cukup jauh membuat kedua sejoli itu tidur dengan lelap nya. Galfin yang mengemudikan mobil tak lagi mendengar suara apapun, ia yang cukup penasaran pun akhir nya mencuri pandang melalui kaca kecil di depan wajah nya, ia tersenyum saat mendapati bos nya yang ikut terlelap di samping Rania.
__ADS_1
Di kediaman Ammar, Dania sedang mogok makan, ia kesal dengan Ashraf yang tidak mengizinkan diri nya pergi mencari keberadaan Rania. Ashraf dia buat pusing oleh istri nya itu.
"Mom, ayo makan dulu. Sejak kemarin Mom belum makan loh." bujuk Ashraf dengan penuh kesabaran.
"Pergi sana! Mom nggak butuh makan, yang Mom ingin kan hanya Rania!" tolak Dania ketus sembari mendorong tubuh Ashraf menjauh dari ranjang.
Ashraf pun mengalah ia tidak ingin berdebat atau pun berantem dengan Dania, kepala nya terasa ingin pecah saat Dania tiba-tiba menangis dengan kencang nya.
"Okok, Mom makan dulu, setelah nya Dad bakalan temenin Mom mencari Rania, okey!" Ashraf memutar bola mata nya jengah, ia tau jika istri nya itu hanya akting menangis demi kemauan nya di ikuti.
"Janji?" tanya Dania dengan mata berbinar.
__ADS_1
"Iya, ayo makan." balas Ashraf sembari menarik sang istri untuk pergi ke ruang makan. Dania pun menyunggingkan seutas senyum ke arah Ashraf. Ashraf geleng-geleng kepala mengingat tingkah istri nya yang begitu manja.