
Di lain tempat. Afnan berjalan pelan menuju rumah ibunya.
"Assalamu'alaikum.. " salamnya.
" Wa'alaikum salam. " jawab seseorang dari dalam rumah.
" Nak.. Kau datang..? Lalu dimana istrimu..? " tanya seorang wanita paruh baya yang masih terlihat begitu cantik.
" Eliza sedang di rumah umi. " jawab afnan pada ibunya.
" Kenapa tidak kamu ajak dia kemari..? " tanya umi.
" Tidak umi, lagipula afnan kemari hanya mampir sebentar. Afnan juga harus ke sawah, tidak mungkinkan jika afnan mengajak eliza ke sawah." jawab afnan.
"Ya setidaknya, biar dia menunggumu disini daripada dia dirumah sendirian." ucap umi.
Sedangkan afnan hanya tersenyum di hadapan ibunya. Membuat ibunya menghela nafas dengan sikap putranya itu.
"Ya sudah. Bukannya tadi kamu ingin pergi ke sawah..? Pergilah sebelum semakin siang, nanti umi akan antarkan makan siang kamu. Oh ya apa kamu ingin mengajak salah satu santri untuk membantumu..?" tanya umi.
"Terima kasih umi. Tapi tidak perlu, lagian afnan kuat, anggap saja sebagai olahraga." Jawab afnan yang lalu berpamitan pada ibunya dan bergegas pergi menuju ke sawahnya yang terletak tidak jauh dari pesantren.
Di lain tempat. Eliza dan teman temannya sedang berpesta pora di rumahnya. Hingga membuat seisi rumah bagaikan kapal pecah.
"El. Gimana kalau suami lo pulang nanti..? Dan gimana kalau dia nanti tau kalau kita udah berantakin rumahnya..? " tanya tasya.
"Udah.. Tenang aja. Dia nggak akan marah. Lagian siapa suruh dia berani membuat eliza marah. Jadi ini akibatnya." jawab eliza dengan tenang.
"Tapi el, bukankah ini sedikit keterlaluan..? Lagian lo juga nggak punya pembantu. Gimana nanti kalau lo yang di suruh buat beresin ini semua..?" ucap cika.
"Kalian tenang aja. Afnan nggak akan bisa marah. Kalian kan tau kalau dia itu lembek. Jadi tenang aja." ucap eliza tenang, sedangkan teman temannya saling pandang memandang merasa tidak tenang.
"Ya udah gue pesen makanan dulu." ucap cika sambil mengambil henfon di dalam sakunya.
"Oh ya jangan lupa. Pesen cemilan yang banyak." ucap eliza yang lalu duduk di depan tv dengan tasya dan juga karlin.
Di lain tempat.
Afnan sedang duduk di sebuah gubuk yang ada di samping sawahnya setelah lelah memberi pupuk pada padinya yang lahannya begitu luas.
Tak lama setelahnya, terlihat seorang gadis dengan hijab anggunnya berjalan ke arah afnan.
"Assalamu'alaikum gus." salamnya.
"Wa'alaikum salam. Eh nadira." jawab afnan yang kaget melihat kehadiran nadira.
Sedangkan nadira hanya tersenyum yang begitu cantik dan menawan pada pandangan afnan.
Astaghfirullah al adzim. Ucap afnan dalam hati sambil memalingkan pandangannya. Jujur saja, afnan sampai saat ini masih belum dapat menghapus cintanya terhadap nadira. Karena nadira adalah cinta pertamanya.
"Em.. Silahkan duduk ning." ucap afnan setelah sadar dari lamunannya.
Nadira yang mendengar tawaran afnan pun segera duduk di sisi afnan dan menyisakan jarak yang cukup jauh dari afnan.
"Sebenarnya saya kesini hanya untuk mengantarkan makan siang gus saja." ucap nadira sambil memberikan rantang yang sedari tadi dibawanya.
"Terima kasih. Maaf sudah merepotkan." ucap afnan sambil menerima uluran rantang dari nadira.
__ADS_1
"Kalau boleh tau. Gimana kabarnya mbak eliza gus..?" tanya nadira yang bosan karena afnan sedari tadi hanya diam.
"Alhamdulillah dia baik." jawab afnan sedikit canggung.
"Ooo. Alhamdulillah kalau gitu." jawab nadira dengan senyumannya yang menawan untuk menutupi hatinya yang hancur.
"Apa neng sudah makan..?." tanya afnan.
"Sudah sudah. Saya sudah makan tadi." jawab nadira.
"Benarkah. Kalau belum, makan saja ini. Saya paling juga nggak bisa habisin semua. Ini terlalu banya." ucap afnan.
"Kalau gitu, gus bawa pulang saja." saran nadira.
"Em. Kelihatannya kali ini akan panen banyak gus." ucap nadira sambil melihat ke arah sawah yang kini dipenuhi padi.
"Ya semoga saja." jawab gus afnan.
"Gus, sebaiknya saya pamit pulang dulu. Takutnya masih banyak pekerjaan yang belum selesai, apalagi abi sama umi sedang keluar." pamit nadira.
"Memangnya abi sama umi sedang keluar kemana..?" tanya afnan.
"Maaf gus, saya tidak tahu. Saya hanya diminta untuk mengantar makan siang gus saja." jawab nadira.
"Ooo. Ya sudah. Sekali lagi terima kasih ya." ucap afnan.
"Sama sama gus. Kalau gitu saya pamit ke pesantren dulu. Assalamu'alaikum." pamit nadira.
"Wa'alaikum salam." jawab afnan.
Seusai kepergian nadira, afnan segera melanjutkan kerjanya kembali sampai jam du gubuk dekat sawahnya menunjukkan pukul 01:30 WIB. Afnan pun segera mengakhiri kegiatannya dan bergegas kembali pulang.
Selesai sholat, afnan pun berjalan keluar rumah dan menghampiri motornya.
Belum juga afnan menaiki motornya. Sebuah mobil masuk ke dalam pesantren.
"Abi, umi..? Kalian darimana..?" tanya afnan setelah melihat abi dan umi nya yang keluar dari mobil.
"Tadi ada sedikit urusan di luar. Kamu dah mau pulang..?" tanya umi balik.
"Iya umi." jawab afnan.
"Oh ya, ini ada sedikit oleh oleh buat eliza ya." ucap umi sambil memberikan beberapa tas belanjaan pada afnan.
"Iya terimakasih umi." ucap afnan.
"Lain kali kalau mau kesini lagi, eliza nya diajak, jangan di sembunyiin di dalam rumah terus. Kasian kalau dia di rumah sendiri." nasehat abi.
"Baik abi. Ya sudah afnan pamit pulang dulu abi, umi." pamit afnan, sambil mencium tangan ke dua orang tuanya.
"Hati hati di jalan." ucap abi dan umi afnan bersamaan.
Setelah lama menempuh perjalanan pulang akhirnya kini afnan sampai di depan rumahnya. Saat memasuki pekarangan rumahnya terlihat mobil yang terlihat asing di sana membuat afnan merasa heran dan was was jika terjadi hal yang buruk pada eliza.
Karena merasa tidak ada yang keluar dari rumah, afnan pun bergegas masuk ke dalam rumah. Saat memasuki rumah, afnan dikagetkan dengan seluruh rumah yang berantakkan.
Mendengar suara bising di ruang keluarga, afnan pun berjalan ke arahnya untuk melihat apa yang terjadi.
__ADS_1
"Hkkeemm.. " gumam afnan cukup keras agar dapat di dengar eliza dan juga teman temannya.
" Eh.. El, suara apaan tuh. Jangan jangan rumah lo ini angker lagi." ucap karlin yang kaget dengan suara gumaman yang cukup keras tadi.
"Ya nggak lah. Masak iya rumah yang di beli afnan berhantu. Lagian lo ada ada aja, masak siang siang ada hantu." ucap eliza menyangkal ucapan karlin.
"Bisa jadi tauk el. Apalagi rumah lo inikan sepi banget kayak di hutan, bisa aja hantu hantu pada suka tinggal di sini." ucap cika yang juga merasa ketakutan.
Melihat eliza dan juga teman temannya yang malah berdebat soal hantu, afnan pun merasa geram.
"Eliza azkar nugraha..." panggil afnan lebih keras membuat eliza dan temannya menoleh ke belakang mereka dan melihat afnan yang sudah berdiri tegak di belakang mereka dengan tatapan tajam dan dinghinnya, membuat eliza dan teman temannya kesulitan menelan ludah mereka karena takut melihat afnan yang terlihat akan marah.
Tidak ingin ikut menanggung kemarahan afnan, cika, tasya, dan juga karlin pun berpamitan pergi.
"Em.. El, kita pamit pulang dulu ya. Lo jaga diri baik baik. Bay.... " pamit cika, tasya dan karlin yang lalu pergi dengan cepat meninggalkan eliza seorang diri dengan afnan yang tidak melepaskan tatapannya ke arah istrinya itu.
Sedangkan eliza yang merasa dirinya seolah terlubangi karena tatapan afnan yang kelewat tajamnya hanya tersenyum dan berharap agar besok ia masih dapat melihat dunia.
.
.
.
.
.
.
.
. Maaf ya up nya lama buanget, soalnya author lagi ada masalah dikit jadi nggak sempet up deh.
.
. Terima kasih atas dukungannya.
.
. Dan author nggak akan capek buat ingetin
.
. Jangan lupa like and comend.
.
. Dan juga "VOTE" yang banyak ya.
.
. Ok
.
. Sampai jumpa lagi
__ADS_1
.
. Salam cherry