
Burung burung bernyanyi dengan merdunya, matahari mulai muncul memancarkan sinar kehangatan dan menyusup di celah celah jendela kamar eliza, membuat sang pemilik kamar terganggu.
"Haaaahhh..." gumam eliza sambil merentangkan kedua tangannya.
Dengan nyawa yang masih belum terkumpul sempurna. Eliza berjalan menuju ke dalam kamar mandi yang ada di kamarnya.
Setelah menghabiskan beberapa waktu di dalam kamar mandi, eliza segera berpakaian santai dengan baju dan celana pendeknya yang membuat lekuk tubuhnya terlihat dengan jelas.
Sedangkan afnan, setelah sholat subuh ia segera ke dapur untuk membuat sarapan. Tidak perlu bertanya kenapa tidak eliza yang masak, jawabnya karena eliza tidak dapat memasak dan afnan tidak ingin memakan masakan eliza yang bagaikan racun.
Beberapa saat kemudian eliza berjalan menuju dapur dan melihat afnan yang masih sibuk memasak.
"Masak apa..?." tanya eliza sambil mengintip dibalik badan afnan.
"Tentunya makanan yang tidak akan membuat perutku sakit." jawab afnan.
Eliza yang mendengar hal itu pun mengembungkan pipinya dan mengerucutkan bibirnya kesal.
"Sudah jangan cemberut lagi. Setelah sarapan ganti baju, ikut aku kesawah." ucap afnan sambil menghidangkan makanan yang telah ia masak di atas meja.
"Ke sawah..?." tanya eliza.
"Hmmmm.." jawab afnan.
"Ok." jawab eliza yang segera mengabiskan makanannya sambil otaknya tak habis membayangkan hal yang akan ia lakukan nanti saat sampai di persawahan.
Setelah menghabiskan makanannya eliza segera pergi kedalam kamarnya kembali untuk mengganti pakaian sedangkan afnan menatap heran pada eliza.
"Baru kali ini aku lihat cewek diajak kesawah bisa segitu bahagianya." gumam afnan melihat tingkah eliza.
Setelah menghabiskan beberapa waktu di dalam kamar. Akhirnya eliza keluar dengan pakaian seksinya lengkap dengan topi yang membuatnya terlihat semakin cantik.
Afnan yang melihat penampilan eliza di buat melongo. Bukan karena menikmati lekuk tubuh eliza namun melihat eliza yang terlihat aneh dimatanya.
"Gimana..? Gue cantikkan. Udah nggak usah sampai gitu juga kalik lihatnya. Gue tau gue cantik." ucap eliza dengan rasa PDnya yang sudah setinggi langit.
"Cantik apaan. Yang ada kamu tu aneh. Mana ada orang yang pergi kesawah dengan pakaian seperti kamu itu." Jawab afnan.
"Ada." ucap eliza.
"Siapa..?." tanya afnan.
"Gue." jawab eliza.
"Terserah tapi bisakah kau memakai celana yang panjang..? Kita juga akan mampir ke pesantren dulu." ucap afnan.
Eliza terdiam sejenak, lalu kembali lagi ke dalam kamarnya. Beberapa saat kemudian, ia keluar dari kamarnya dan kali ini ia mengenakan celana panjang sesuai perkataan afnan tadi.
"Udah yuk berangkat." ucap eliza yang berjalan di depan afnan dengan gembiranya. Sedangkan afnan yang melihatnya hanya dapat menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya.
Selama perjalanan, eliza tak henti hentinya tersenyum dan bersenandung merdu untuk mengisi kebosanannya selama perjalanan.
Setelah menghabiskan beberapa waktu perjalanan, akhirnya eliza dan afnan sampai di pesantren. Setelah memarkirkan motornya eliza dan afnan berjalan menuju rumah abi dan umi nya.
"Assalamu'alaikum..." ucap afnan saat memasuki rumah.
"Wa'alaikum salam..." jawab umi yang keluar dari dalam dapur.
"Eh.. Kalian datang..? Ayo masuk masuk. Nduk wid tolong bikinin teh buat afnan dan nak eliza ya." ucap umi memerintahkan salah satu santrinya yang ada di sana.
"Eh.. Nggak usah umi. Lagian afnan kesini mau pergi kesawah sebentar." ucap afnan menolak dibuatkan teh.
__ADS_1
"Ooo.. Baiklah. Tapi nanti kamu kesini lagi kan. Ya sekali kali menginap disini. Umi kan udah kangen sama nak eliza." ucap umi.
"Ya udah umi. Afnan pamit pergi kesawah dulu ya." ucap afnan sambil mencium tangan umi nya.
"Iya hati hati. Eh nak eliza juga ikut..?." tanya umi saat melihat eliza ikut berdiri.
"Iya umi." jawab eliza sambil tersenyum manis. Membuat afnan dan umi terheran heran dengan sikapnya.
"Udah ayo berangkat." ucap eliza yang menarik tangan afnan. Membuat umi tersenyum melihatnya.
"Akhirnya mereka bisa akur juga." gumam umi.
Eliza berjalan dengan gembiranya menuju ke sawah milik afnan. Hingga tidak melihat sekitar yang akhirnya membuat dirinya terjatuh. Namun sebelum terjatuh ke tanah, afnan lebih dulu menahan tubuhnya dari belakang.
"Masih ingin bersikap kekanak kanakan..?." tanya afnan.
Eliza yang ditegur afnan hanya terdiam, dan menggembungkan pipinya cemberut.
"Ayo jalan. Hati hati, kalau sampai jatuh lagi. Aku tidak akan membantumu." ucap afnan membuat eliza semakin kesal.
Sesampainya di sawah. Eliza tak henti hentinya menatap tapjuk pemandangan di depannya saat ini.
Ia segera mengeluarkan ponselnya untuk selfi. Ia tidak akan menyia nyiakan kesempatan ini untuk mengabadikan pemandangan indah di depannya.
Sedangkan afnan mulai mencabut rumput rumput yang ada di bawah padinya.
"Eliza.. Daripada kamu main nggak jelas lebih baik bantu aku membersihkan rumput rumput ini." ucap afnan saat melihat eliza yang sibuk berfoto ria.
"Ha.. Apa.? Lo nggak lihat, gue cantik gini harus turun kesawah dan apa tadi gue harus cabut tu rumput. Nggak nggak, entar gue kotor. Gue nggak mau." ucap eliza menolak.
"Eh.. Siapa suruh kamu pakai pakaian seperti itu. Dan aku ngajak kamu kesini bukan buat foto foto, tapi buat bantuin. Lagian ini cuma mencabut rumput, apa susahnya." ucap afnan.
"Tetap aja. Gue nggak mau, entar gua kotor lagi. Nggak nggak." tolak eliza lagi.
Eliza yang melihat sepatu dan celananya kotor pun menatap garang afnan.
"AFNAAAAANNN...... LIHAT BAJU GUE KOTOR. AWAS LO YA. SINI LO..." teriak eliza mengejar afnan yang berlari menghindarinya.
Karena kakinya yang dipenuhi lumpur membuat afnan kesulitan untuk berlari akhirnya terjatuh.
"Hhhhh rasain lo. Emang enak jatuh dilumpur." ucap eliza saat melihat afnan yang terjatuh ke dalam lumpur membuat bajunya kotor.
Eliza yang masih tertawa lepas pun tidak menyadari afnan yang menarik kuat tangannya hingga membuatnya ikut terjatuh kembali.
Mereka saling menatap dalam mata mereka. Tanpa mereka sadari, benih benih cinta mulai tumbuh.
"Emh.. Bisakan kamu berdiri. Kamu itu berat." ucap afnan.
"Maksud lo, gue gemuk..?." tanya eliza yang marah.
"Iya. Itu kan kenyataan kalau kamu itu gemuk." ucap afnan kembali.
"Iiihh.. Gue nggak gemuk." ucap eliza cemberut.
"Hhhhh.. Baiklah kamu tidak gemuk tapi bantu aku mencabut rumput rumput itu." ucap afnan.
"Iya iya." jawab eliza yang akhirnya mau untuk ikut mencabut rumput rumput disana.
Setelah jam menunjukkan pukul 10, eliza berhenti sejenak karena merasakan panas luar biasa pada tubuhnya.
Afnan yang melihat eliza kelelahan pun mengajak eliza untuk istirahat di gubuk yang biasa ia gunakan untuk beristirahat.
__ADS_1
"Panas banget sih. Kenapa lo bisa tahan disini lama lama, kalau panas begini...?." tanya eliza sambil mengipasi wajahnya dengan topi yang tadi ia kenakan.
"Aku sudah terbiasa, jadi ini tidak seberapa." jawab afnan.
Saat sedang bersantai istirahat. Tiba tiba santriwati datang dengan rantang di tangannya.
"Eh ning nadira." gumam afnan saat melihat kedatangan nadira.
"Assalamu'alaikum gus." salam nadira.
"Apa lo nggak bisa lihat gue..?." tanya eliza sebal karena nadira hanya memberi salam kepada afnan.
"Ah.. Assalamu:alaikum ning eliza." ucap nadira memaksakan senyumnya.
"Nggak usah senyum kalau nggak ikhlas." ucap eliza ketus. Membuat afnan menatap tajam ke arahnya.
"Maafkan sikapnya ya ning. Dia memang seperti itu. Tidak perlu kamu hiraukan." ucap afnan meminta maaf atas nama eliza.
"Iya tidak apa apa gus." jawab nadira.
"Pantas saja tahan di sini seharian kalau tiap hari ketemu." gumam eliza membuat afnan semakin mempertajam tatapannya. Sedangkan nadira mengernyitkan keningnya tidak mengerti.
.
.
.
.
.
.
.
. HAY....
. Udah lama ya nggak up.
. Maaf ya. Emang belakangan ini saya benar benar sibuk.
.
. Terima kasih kerana masih setia menunggu.
.
. Jangan lupa buat like
.
. Comen
.
. Dan satu lagi., VOTE nya jangan lupa ya.
.
. Sampai jumpa lagi
__ADS_1
.
. Salam CHERRY