Istriku Seorang Berandalan

Istriku Seorang Berandalan
EPS 73


__ADS_3

Eliza memeluk erat tubuh suaminya itu, seakan ia tidak ingin melepaskan pelukan itu. Begitu juga dengan afnan yang juga ingin memeluk istrinya erat dan enggan untuk melepaskannya.


"Eliza.." panggil afnan.


"Hmm..?"


"Berjanjilah padaku untuk terus berada didekatku..! Apa kau tahu, sedari tadi aku takut karena kamu nggak ada disana..? Aku takut jika kamu tidak percaya padaku..!" ucap afnan.


"Lo ngomong apa..? Mana mungkin gue nggak percaya sama lo..? Gue tahu kalau lo nggak akan pernah hianatin gue apalagi sekarang gue sedang hamil." ucap eliza yang membuat afnan semakin erat memeluk eliza.


"Ya, kau benar..! Aku benar benar menyayangimu eliza..!"


"Ya gue juga, gue sayang bahkan gue juga cinta sama lo..!" balas eliza.


"Aku lebih lebih cinta sama kamu..!" ucap afnan yang tak ingin kalah.


"Cinta gue lebih besar..!"


"Bagaimana mungkin, cintaku lebih besar. Saking besarnya sampai sampai aku terus ingin memelukmu..!"


"Kalau cuma peluk, gue juga bisa..!" balas eliza dengan membalas pelukan afnan.


Mereka semakin terlarut dalam cinta mereka. Ya cinta yang begitu besar membuat mereka saling percaya satu sama lain, dan itulah yang membuat rumah tangga mereka bisa bertahan meskipun cobaan terus menerjang mereka.


Dilain tempat.


Klara yang tidak ingin dibawa ke kantor polisi, segera mengemas barang barangnya dan pergi kerumah claudia untuk bersembunyi disana.


"Jadi lo gagal lagi dan bahkan mereka sudah nggak percaya lagi sama lo..?" tanya claudia.


"Iya, dan gue udah mempertaruhkan harga diri gue sendiri untuk itu. Gue nggak mau tau, lo harus bantu gue buat balas semua hinaan eliza sama gue. Gue maYb harga dirinya sama hancurnya dengan gue bahkan jika bisa, sampai dia nggak berani buat nunjukin wajah dia lagi." ucap klara.


"Lo tenang aja dulu. Sekarang lo bisa tinggal disinni sambil kita cari cara untuk membalas eliza bersama sama..!" ucap clara.


Dilain tempat.


Eliza dan afnan kini sedang makan malam bersama, begitu juga dengan teman teman eliza yang ikut diundang umi dan abi untuk makan malam bersama.


"Nak eliza..!" ucap umi.


"Ya umi..?"


"Umi berterima kasih banget sama kamu nak, karena kamu kuat. Dan bahkan kamu mencari tahu kebenaran dari masalah suamimu dulu. Dan tidak mudah percaya pada ucapan orang orang..!"

__ADS_1


"Umi..! Eliza tidak akan pernah mudah percaya pada orang, jika orang itu mencoba membuat afnan terlihat buruk..! Eliza akan selalu percaya pada afnan umi.!" ucap eliza membuat semua orang kagum pada keteguhannya.


"Iya nak, apa kau tahu...? Abi dan umi tadi begitu takut karena kamu tidak ada disini..! Kami takut kalau kamu tidak akan percaya pada afnan dan mungkin meminta berpisah dari afnan." ucap abi.


"Hhh..abi sama umi tenang aja, eliza nggak akan pernah meminta pisah sama afnan. Apapun yang akan terjadi, eliza akan tetap menjadi istri afnan sampai akhir hidup eliza sendiri..!" ucap eliza membuat afnan merasa hangat pada hatinya.


Terima kasih eliza, karena kamu masih saja mempercayaiku meskipun lagi lagi aku membuatmu menangis. Ucap afnan dalam hati.


Seusai makan, eliza berjalan dengan ketiga temannya menuju kekamar ketiganya. Selama perjalanan mereka saling bercanda dan sesekali tertawa bersama.


"Hay kakak ipar, tunggu sebentar..!" teriak pria tak asing yang membuat tasya merasa ingin menghilang disaat itu juga.


"Radit..? Ada apa..? Bukannya lo seharusnya pulang ke pesantren putra..? Jika afnan dan ustadz yang lain tahu, lo pasti kena masalah besar."


"Gue kesini cuma sebentar aja..! Gue cuma mau kenalan sama temen lo itu..!" ucap radit tanpa rasa malu menunjuk kearah tasya.


Eliza segera beralih menatap tasya, yang sedangkan tasya membuang muka kearah lain. Eliza merasa bingung harus membantu siapa.


Apakah ia harus membantu tasya untuk kabur dari radit, atau justru membantu radit untuk mendekati tasya.


"Hay, kenalin nama gue raditya baskara. Gue sepupu gus pondok pesantren ini yang paling tampan dan kece. Emh.. Apa lo bersedia buat jadi pacar gue..?" ucap radit yang menembak tasya dengan sebuah bunga ditangannya.


Tasya yang melihat bunga ditangan radit, segera mengambilnya membuat radit begitu bahagia. Sedangkan ketiga temannya menatap tak percaya padanya.


"Gue nggak suka sama cowok letoy, yang nggak bisa bela diri dan juga penakut.!" ucap tasya membuat radit segera menatapnya kembali.


"Kalau gue belajar bela diri, apa lo akan terima gue..?" tanya radit antusias.


"Hmm..bisa gue pertimbangkan lagi..!" ucap tasya yang seketika membuat radit begitu senang dan berlari menjauh dari mereka.


"Kak..afnan....gue mau belajar bela diri..!" teriaknya.


"Lo yakin tasy..? Lo nggak lagi mainin perasaan radit kan..?" tanya karlin.


"Iya tasy, kasihan kan kalau dia udah capek capek belajar bela diri, eh lo nya malah bohong sama dia..!" ucap cika.


"Kalian tenang aja, gue nggak sekejam itu. Gue sungguh sungguh dengan perkataan gue tadi..!" ucap tasya membuat mereka semua semakin kaget.


Tasya yang tidak ingin ditanyai lebih banyak lagi, segera kabur dari ketiga temannya itu. Sedangkan mereka semua ingin mendengar klarifikasi atas apa yang baru saja mereka dengar.


Dilain tempat.


Nadira berjalan pelan menuju keruang kerja para ustadz dan ustadzah. Rizky yang melihat istrinya terlihat lemas segera berpamitan dengan afnan dan bergegas menghampiri nadira.

__ADS_1


"Neng...! Kamu kenapa..?" tanya rizky khawatir.


"Aku nggak papa mas, cuma agak pusing. Mungkin karena kecapeaan..!" ucapnya .


"Benarkah..? Kalau gitu, kamu istirahat aja dulu..! Kamu jangan terlalu capek. Dan juga soal jualan nanti malam, biar mas aja sendiri yang jualan. Kamu tunggu mas dirumah ibu nanti kalau mas pulang langsung jemput kamu ya..!" ucap rizky.


"Tapi mas, nanti kamu nggak ada yang bantuin..!" ucap nadira.


"Udah, kamu nggak usah pikirin soal itu. Sekarang yang terpenting kamu istirahat yang cukup agar kamu dan anak kita sehat selalu..!" ucap rizky yang dibalas anggukan nadira.


"Iya mas, maaf karena aku tidak bisa membantu..!" ucap nadira.


"Sekarang kamu disini, aku akan menyelesaikan kerjaku dulu. Setelah itu kita pulang." ucap rizky.


Dan rizky pun meninggalkan nadira seorang diri di ruang guru. Nadira mulai memperhatikan sekitar sebelum tiba tiba eliza datang menghampirinya.


"Nad..!" panggilnya.


"Iya..? Eliza, ada apa..?" tanya nadira.


"Nggak papa, gue cuma lagi butuh teman. Soalnya afnan lagi mengajar santri putra.!" ucap eliza menjelaskan tujuannya.


"Oh kebetulan, aku juga sedang sendiri..!" ucap nadira.


"Jadi kita bisa ngobrol bersama..!"


"Iya el. Oh ya el, aku salut sama kamu..!"


"Salut kenapa..?"


"Kamu begitu percaya dengan gus afnan dan bahkan kamu juga berhasil mengungkapkan kebenaran tadi..!"


"Ya, gue cuma merasa bahwa afnan nggak akan mungkin buat hianatin gue. Dan juga karena rasa cinta gue yang begitu besar hingga buat gue begitu percaya dengannya..!"


"Tadi aku sempat khawatir, kalau kalau kamu akan percaya dengan tipuan klara. Karena tadi kamu sempat menangis saat tahu gus afnan berada dalam ruangan hanya berdua dengan klara."


"Hmm, gue tadi emang sempat menangis. Karena jujur, gue juga merasa sedikit sakit hati saat melihat hal tadi. Tapi gue coba yakinin diri gue sendiri pada kesetiaan afnan..!"


Nadira menatap tapjub pada eliza, yang kebanyakan orang menatapnya sebagai wanita urakan, berandan dan hanya bisa membuat ke onaran. Tapi berbeda dengan yang ia lihat sekarang, yang ia lihat sekarang ialah sosok eliza sebagai wanita pemberani, kuat dan juga bijaksana.


Meskipun bahasa yang digunakan eliza masih saja tidak terkontrol, tapi itu tak merubah kebaikan sikap eliza pada orang terdekatnya.


Seburuk apapun sikap eliza diluaran sana, tetap saja eliza adalah wanita yang memiliki sisi lain yang begitu baik dan bijaksana.

__ADS_1


__ADS_2